Kejutan tim si setan Bolivia hampir pasti lolos ke final piala dunia 1994 di amerika serikat,
setelah menaklukkan juara dunia brasil dan uruguay. sukses ini membangkitkan
nasionalisme baru di bolivia. |
SEJAK merdeka tahun 1825, obsesi Bolivia adalah bertanding di gelanggang
Piala Dunia. Sepanjang 63 tahun sejarah piala paling bergengsi itu, belum
pernah negara termiskin di Amerika Latin ini lolos ke putaran final. Pada 1930
dan 1950, ketika Uruguay dan Brasil menjadi tuan rumah, Bolivia tampil sebagai
undangan.
Ketika pekan lalu Bolivia melalap Venezuela 7-0 di kandang lawan, dalam babak
kualifikasi Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, pesta kemenangan meledak di
Taman El Prado di jantung La Paz, ibu kota Bolivia. Anak-anak muda merias
wajah mereka merah-kuning-hijau, warna bendera negaranya. Ajojing sampai pagi
seraya menyanyi: ''Hiduplah Bolivia di Hatiku'' atau ''Bolivia Negeriku, Aku
Cinta''.
Bolivia hampir pasti tampil di Amerika Serikat. Di grup B babak kualifikasi
Amerika Latin, setelah lima kali bertanding, Bolivia mengumpulkan 10 angka
kemenangan. Venezuela dipukul dua kali, Brasil yang juara dunia tiga kali
dipecundangi, Ekuador digasak, dan Uruguay dipermalukan. Selisih gol
kemenangan Bolivia sangat tajam, 20-2. Brasil di urutan kedua dengan 6 angka
dan selisih gol 8-4.
Dari tiga pertandingan away, hanya kekalahan telak yang dapat menghambat
Bolivia ke Piala Dunia. Itu pun kalau Ekuador dan Uruguay bisa menang 10 gol
lebih dari sisa pertandingan. Ekuador tampil tiga kali lagi. Uruguay punya
sisa empat pertandingan. Dua kesebelasan teratas di grup B akan lolos ke AS.
Di grup A, dua tiket masih diperebutkan Argentina, Kolombia, atau Paraguay.
Kemenangan ini rupanya mengibarkan kembali semangat kebangsaan yang sudah
lama lesu di Bolivia. Seperti dilaporkan harian The New York Times, pesta di
Taman El Prado tadi dihadiri massa terbesar sepanjang sejarah Bolivia. Bendera
negara itu berkibar di mana-mana.
Bolivia kini berpendapatan per kapita US$ 600 kurang lebih sama dengan
Indonesia. Mayoritas penduduknya Indian, terbesar di Amerika Latin.
Kesebelasannya kini merupakan simbol baru kecintaan terhadap tanah air.
Bahkan, pemerintah berharap jika kesebelasannya lolos ke AS, itulah kampanye
yang tepat menarik modal asing. Bolivia berupaya keras meyakinkan dunia bahwa
daun koka yang subur di sana dan sering dikategorikan sebagai narkotik lebih
tak berbahaya dibandingkan kafein dalam kopi.
Bolivia gencar memperbaiki citranya. Akhir Juni lalu, pemerintahan diktator
Presiden Hugo Banzer Suarez dikalahkan dalam pemilu dan digantikan Gonzalo
Sanchez de Lozada, ahli tambang lulusan AS. Ia adalah pemimpin pertama di
kawasan Amerika Latin yang berasal dari penduduk asli, Indian.
''Waktu saya datang setahun lalu, kondisi kesebelasan nasional sama saja
dengan krisis identitas di negeri ini. Rasa percaya diri yang rendah, rasa
malu sebagai pemain bola, dan merasa sebagai orang yang kalah,'' kata Xavier
Azkargorta. Ia adalah pelatih tim nasional Bolivia asal Barcelona, Spanyol.
Negeri ini punya akademi sepak bola di Santa Cruz yang dinamakan Akademi
Tahuichi Aguilerra. Enam pemain di tim nasional adalah lulusan akademi itu.
Termasuk pujaan Bolivia dan Amerika Latin, striker Marco Antonio Etcheverry
yang di sana dipanggil El Diablo (Si Setan). Ia sudah membobol semua gawang
kesebelasan terbaik Amerika Latin. El Diablo kini duduk di tingkat enam
akademi tadi.
Toh ada saja suara sumbang, misalnya, menuduh pemain Bolivia memakai koka
(coca) untuk menambah tenaga. Pada awal kualifikasi Piala Dunia ini, dalam tes
doping, dua pemain Bolivia kedapatan positif hasil tesnya. FIFA mengganjar
mereka tak boleh ikut kompetisi selanjutnya. Larangan ini kemudian dicabut
setelah dijelaskan tes positif itu akibat pemain minum teh dari daun koka. Itu
tidak sama dengan kokain. Kesebelasan Bolivia kini mulai dihitung dunia. Dari
Miami, AS, misalnya telah datang tawaran untuk pertandingan segi tiga melawan
Meksiko dan Swedia untuk memanaskan suhu bola Amerika menjelang Piala Dunia.
Dari Eropa juga datang tawaran untuk melawan Irlandia dan Skotlandia. Itulah
pertama kali Bolivia kebanjiran undangan dari mancanegara.
Namun, kebanggaan lolos ke AS jika tak dihadang suatu kecelakaan tetap
belum membuat pemain Bolivia kaya raya. Argentina menjanjikan US$ 100 ribu
(sekitar Rp 200 juta) untuk tiap pemain yang lolos ke AS, dan Brasil
mengiming-iming US$ 50 ribu untuk tiap pemain. Pemerintah Bolivia baru
menjanjikan US$ 8 ribu atau Rp 16 juta untuk tiap pemainnya bila sampai di AS.
Negeri berpenduduk 7,4 juta itu tengah mabuk kemenangan. Hampir tiap hari El
Diablo dan timnya menjadi headline di koran setempat. Sewaktu Presiden Kuba
Fidel Castro berkunjung ke La Paz belum lama ini dan koran-koran mengganti
headline-nya dengan kunjungan Castro, Presiden Sanchez de Lozada dengan
bergurau berkata, ''Penampilan kesebelasan Bolivia rupanya membuat rakyat lupa
bahwa mereka punya presiden baru.''
Sepak bola bagaikan ideologi di Amerika Latin. Honduras dan El Salvador yang
bertetangga pernah perang gara-gara ricuh di lapangan hijau, di akhir tahun
60-an. Sekali waktu dalam babak kualifikasi Piala Dunia, ketika Bolivia
bertanding dan disiarkan TV, tiba-tiba terjadi kebakaran. Penduduk yang asyik
menonton sempat bimbang antara memadamkan api atau terus menonton. Akibatnya,
ratusan rumah menjadi puing.
Toriq Hadad
|