Satu sopir sial, semua kena getahnya Dua istri perwira menengah TNI AU tewas ditabrak bus. massa mengamuk. sopir yang diamankan malah menembak pelindungnya. |
SELEPAS dari terminal Maospati, bus Jaya Raya jurusan Surabaya-Yogyakarta itu
melaju cepat. Jalan selebar sekitar tujuh meter itu lurus dan mulus. Di depan
pangkalan TNI AURI Maospati, Magetan, Jawa Timur, bus itu ketemu musibah.
Pedal rem yang diinjak Sopir Muhadi tak bisa menghentikan kendaraannya.
Sebuah sepeda motor terlindas. ''Saya mendengar suara perempuan menjerit,''
kata pemilik warung Podo Trisno, di dekat tempat kejadian.
Bus itu baru terhenti setelah menggores aspal sekitar 100 meter. Motor dan
pengemudinya, wanita, tersangkut di gardan belakang bus. Seorang wanita lain
terpental di kiri bus. Keduanya tewas di tempat.
Dua wanita tadi adalah Nyonya Abdullah dan Nyonya Sukono, istri perwira
menengah di pangkalan TNI AU Maospati. Muhadi dan keneknya menyerahkan diri di
Kepolisian Sektor Kota Administratif (Polsektif) Maospati, di depan pangkalan
itu.
Ketika keduanya diproses di Polsektif itu, seorang anggota TNI AU datang.
''Saya mau meminjam awak bus untuk saya hadapkan ke komandan,'' katanya.
Permintaan itu tidak dikabulkan polisi.
Kemudian, sekitar 50 orang berseragam dinas dan sipil berjajar di sepanjang
jalan raya. Dengan senjata di tangan, mereka menyetop setiap bus yang lewat.
Awak busnya disuruh turun. Digebuki. Ada yang giginya rompal, ada yang
pingsan.
Aksi tadi berlangsung sekitar dua jam. ''Yang memukuli awak bus bukan
personel AURI. Mereka adalah massa yang marah. Kalau ada personel berpakaian
preman ikut, itu wajar. Barangkali mereka emosi karena istri atasannya jadi
korban,'' kata seorang provos TNI AU di sana. Buntut dari aksi tadi: jalur
SoloMadiun terhenti tiga jam. Tak ada sopir yang berani membawa busnya
melewati Maospati. Lalu pihak Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya
mengalihkan rute SoloMadiun lewat Ngawi dan Jiwan. ''Lebih jauh, tapi aman,''
kata M. Rizal, seorang sopir bus.
Di tengah aksi tadi, muncul berita, Muhadi melarikan diri. Ia kabur pada saat
diboncengkan dengan sepeda motor oleh Kopral Satu Yanto, anggota Kesatuan Lalu
Lintas Magetan, untuk diserahkan ke Polres Magetan. Muhadi tidak diborgol
Yanto hal yang sangat elementer dalam ilmu kepolisian, yang dilupakan Yanto
meskipun Yanto sedang mengamankan sopir bertubuh kurus itu dari amukan massa.
Sopir berusia 24 tahun itu merebut pistol dari pinggang Yanto, lalu menembak
polisi itu dari belakang. Yanto tewas. Dari sini kisahnya berkembang tanpa
ujung.
Muncul isu bahwa polisi dan AURI bentrok di Maospati. Isu lain, Yanto tewas
ditembak anggota AURI lantaran dianggap melindungi pelaku tabrak maut. Cerita
lain, Polsektif Maospati diserbu massa. Dikabarkan pula, sopir-sopir bus
jurusan SurabayaMadiun mogok. Bahkan, tersiar kabar tentang Muhadi sudah didor
oknum AURI.
Kabar itu memang tak berkeruncingan. ''Juga nggak ada pemogokan,'' kata Mayor
Jenderal Emon Rivai Arganata, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur.
Yang benar, Muhadi justru merampas motor serta pistol dan kemudian menembak
Yanto di Takeran. Ia kabur ke arah Madiun, berbekal pistol rampasan itu.
Motor Yanto baru ditemukan di sebuah bengkel di Kaibon, sekitar 20 km dari
tempat penembakan. Muhadi kabur ke arah Ponorogo. Lalu Polres Ponorogo dan
Trenggalek disiagakan. Di daerah Watulimo, sekitar 45 km sebelah tenggara
Trenggalek, Muhadi kepergok petugas. Ketika hendak ditangkap, ia kabur dalam
gelap malam.
Pada Kamis pagi, Muhadi, yang membawa tas plastik kresek, diketahui menuju
hutan Gunung Kumbo Karno. Tapi, saat disuruh menyerah, ia malah kabur.
Terpaksa dua orang polisi yang memburunya melepaskan tembakan. Dua kali bunyi
dor, paha kanan dan kirinya robek tertembus pelor. Namun, sopir ini belum mau
menyerah.
Sembari merangkak, ia mengambil pistol dari tas kreseknya. Bak dalam adegan
film, dua orang polisi tadi menubruk Muhadi. Pergumulan itu berakhir dengan
teringkusnya Muhadi. ''Setelah mengaku menembak Yanto, ia malah membawa kabur
senjatanya untuk melawan polisi. Tapi anak buah saya cukup cermat sehingga
tidak ada korban lagi,'' kata Kapolda Emon Rivai.
Muhadi kini dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara dengan peng- awalan ketat.
Polisi baru memeriksa setelah luka-lukanya sembuh. ''Kami harus bersikap
manusiawi,'' kata Letnan Kolonel Ahmad Rivai, Kepala Dinas Penerangan Polda
Jawa Timur. Dan Yanto yang gugur dalam tugas dinaikkan pangkatnya menjadi
sersan dua (anumerta).
Sejak tabrak maut itu, bus antarkota, yang biasanya melaju dengan kecepatan
100 km per jam, kini sudah lebih alon-alon. Rambu kecepatan maksimal 60 km per
jam masih dianggap momok. Sopir-sopir cuma berani menjalankan busnya 40 km per
jam. ''Kami ngeri lewat sana,'' kata seorang sopir.
Hingga Jumat pekan silam, saat TEMPO melongok ke pul bus Jaya Raya di Waru,
Sidoarjo, tak ada satu pun dari sekitar 70 bus yang beroperasi. Sopir dan
keneknya menunggu hari baik menjalankan mobil Jaya Raya. ''Mungkin besok lusa
baru kami jalankan,'' kata seorang awak bus.
Bus Jaya Raya yang disopiri Muhadi kini masih ditahan di pangkalan TNI AU
Maospati. Pemiliknya harus mengambil sendiri bus itu.
''Ia harus menghadap komandan, dan minta maaf. Kalau cuma lewat polisi, kami
tidak akan menyerahkannya,'' kata seorang provos di pangkalan tersebut.
Widi Yarmanto dan Zed Abidien
|