Dewa adji dari munduk Dialah pandai besi serbabisa yang membuat proyek piramida sampah plastik menjadi kenyataan, dan kopi di desanya tetap terkenal. ''rasanya sedap,'' kata
menteri sarwono. |
SEPERTI tidak menghiraukan matahari yang berangsur tenggelam, dan kabut yang
merayap turun, I Dewa Made Dana terus berkutat dengan gergaji mesinnya. Mata
gergaji yang berbentuk cakram bergerigi tajam itu menyapu tipis permukaan
bata-bata plastik sampai rata, halus. ''Saya tak sabar, ingin cepat melihat
piramida ini selesai,'' kata lelaki berumur 75 tahun itu.
Made Dana, yang oleh tetangganya dipanggil Dewa Adji, adalah salah satu
tulang punggung proyek Piramida Sampah Plastik yang awalnya diprakarsai oleh
pelukis Teguh Ostenrik. Proyek di Munduk, sebuah dusun di tanah pegunungan
Buleleng, Bali, punya makna ganda, sebagai arena ekspresi seni, yang sekaligus
menjadi salah satu monumen perang melawan sampah plastik.
Beruntung Teguh menemukan Dewa Adji, pandai besi kawakan dari desa berhawa
sejuk setinggi 1.100 meter di atas permukaan laut. Lelaki gaek itu membantunya
mengumpulkan sampah plastik halus, lalu mencetaknya menjadi bata berukuran 40
cm x 10 cm x 10 cm. Bata-bata itu lalu disusun, satu-satu menempel pada
dinding bangunan dari bata betulan yang berbentuk piramida, tinggi 5 meter,
alasnya segi empat bersisi 6 meter.
Sampai dua pekan silam, baru sisi piramida yang tertutup lengkap dengan bata.
Kondisinya masih setengah jadi. Tapi itu tidak menjadi halangan bagi Menteri
Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja yang datang bersama istri dan putri
bungsunya untuk meresmikan keberadaan piramida yang terbuat dari limbah sampah
plastik itu.
Pekerjaan Dewa Adji masih bertumpuk. Pagi sampai lepas senja, ia sibuk:
mencetak bata plastik, menghaluskan dengan gergaji mesin, dan memasangnya di
tubuh piramida. Ia tidak banyak bicara. Otot tuanya seperti enggan diajak
beristirahat. ''Saya suka pekerjaan ini,'' ujarnya ringan. Hasil pekerjaannya
diamati oleh Teguh sebagai pengawas.
Dalam menggarap piramida plastik itu, Dewa Adji dibantu empat pekerja, dua
diantaranya anaknya sendiri. Dengan sembilan buah tungku tim Dewa bisa
mencetak dan memasang 56 bata sehari. Angka produktivitas itu meningkat pesat
dibanding sebelumnya, ketika mereka memakai peleleh plastik generasi pertama
yang terdiri dari tiga pipa besi yang dipanggang di atas kompor minyak seperti
punya penjual martabak.
Dewa Adji tidak puas dengan alat peleleh itu. Ia memilih potongan besi
profil, yang berpenampang seperti huruf H, untuk dipakai sebagai cawan
pelelehan. Hasilnya lebih baik. Proses pelelehan sampah plastik itu lebih
cepat kendati menggunakan kompor yang sama. Besi profil itu lebih tebal.
''Karena itu, panas yang disimpan lebih banyak, dan lebih merata,'' tutur
Dewa.
Produktivitas per kompor bisa meningkat. Sebelumnya untuk membuat satu bata
perlu 3-4 jam, sedangkan dengan pelat tebal itu cukup setengah jam. Agar mutu
batanya bagus, Dewa membatasi pemanasannya sampai 200 derajat Celsius saja.
''Agar plastiknya tidak terbakar,'' ujarnya. Bisa dipahami maksudnya. Sebab,
terbakarnya plastik berarti akan merusak benang-benang poliesternya.
Tidak hanya dalam urusan pembakaran plastik, Dewa Adji ditantang untuk
kreatif lewat proyek piramida itu. Ia dituntut pula membuat gergaji mesin,
yang digerakkan dengan tenaga listrik diesel. Semua rangkaian mekaniknya
dibuat sendiri, termasuk cakram yang bergerigi halus untuk mata gergaji itu.
Di sekitar Munduk, Dewa memang dikenal sebagai pandai besi jempolan.
Dewa Adji dulu memulai kariernya sebagai tukang kayu, dan tukang patri
sebagai kerja sambilan. Kemudian meningkat menjadi tukang las, lalu belajar
montir. Dia tampil secara otodidak. Hobinya membeli mesin-mesin rongsokan, dan
mengutak-atiknya. Kalau ada komponen yang rusak tidak bisa dipakai lagi, ia
membuat duplikatnya.
Sebagai pandai besi, keterampilannya tidak bisa diremehkan. Menjelang
peristiwa G-30-S, hampir 28 tahun silam, ia sempat membuat revolver sekalipun
dia belum pernah menggunakan pistol. Namun, karena merasa terancam oleh
kegalakan para aktivis partai komunis di sekitar desanya, ia membuat sebuah
pistol yang bisa diisi dengan peluru senapan buru, dan siap ditembakkan.
Pistol itu tidak pernah menelan korban. Tapi buntutnya, Dewa terpaksa
berurusan dengan polisi. Ia sempat masuk bui.
Jeruji bui tidak membuat Dewa tumpul. Keluar dari sana, ia terus berkarya.
Awal 1970-an, desanya mengalami masa jaya oleh harga kopi yang melambung.
Warga Munduk yang kebanyakan petani kopi dan vanili merasa kewalahan mengupas
hasil kopinya. Cara menumbuk kopi dianggapnya kurang efisien. Dewa menawarkan
cara baru: mesin sederhana pengupas kopi.
Elemen penting mesin pengupas kopi itu berupa beberapa silinder yang
permukaannya bergelombang. Kalau diputar, silinder itu saling menggesek dan
meremas. Kopi dijatuhkan di bagian atas, dan jatuh ke gilingan itu. Begitu
lepas dari genggaman silinder itu, kulit kopi sudah terpisah dari bijinya.
Agar kulit dan biji tidak berbaur, Dewa memasang kipas angin. Biji kopi tetap
jatuh ke bawah, sementara kulitnya terbang ke arah samping. Untuk
penggeraknya, Dewa menggunakan motor diesel. Ratusan mesin penggiling kopi itu
diproduksinya, dan dibeli petani kopi dari pelbagai daerah, bahkan sampai
menyeberang ke Lombok. Sampai saat ini Dewa masih sering melayani pesanan
mesin pengupas itu sekalipun di Desa Munduk orang sudah dibuat keranjingan
menanam pohon cengkeh, yang hasilnya lagi jatuh sekali.
Adalah Dewa pula yang berhasil menyediakan mesin untuk pengolahan pascapanen,
dengan membuat mesin perontok padi untuk memisahkan bulir padi dari malainya,
dan mesin penyosoh untuk memisahkan padi bernas dengan yang hampa, juga mesin
giling untuk membuat padi menjadi beras. Aneka mesin buatan Dewa ini sempat
naik gengsi di Buleleng pada tahun 1970-an.
Namun, mulai 1980-an, mesin-mesin pengolahan padi buatan Munduk ini turun
pamornya, kalah bersaing dengan mesin buatan pabrik di Jepang atau Taiwan,
seperti dores untuk merontokkan padi, dan huler untuk penyosoh sekaligus
penggiling padi.
Tapi itu tidak membuat Dewa terpelanting. Dia kembali membuat mesin
penggiling kopi. Prinsip kerjanya hampir sama dengan pengupas. Hanya silinder
yang dipasang lebih banyak, dan permukaannya lebih halus. Hasil gilingannya,
seperti diakui Menteri Sarwono Kusumaatmadja ketika berkunjung ke Munduk,
tidak mengecewakan. ''Butirannya halus. Rasanya sedap,'' ujar Sarwono, seusai
menghirup kopi khas dari Desa Munduk.
Dewa Adji seumur-umur berdiam di Munduk yang jauh dari gegap gempitanya
industri pariwisata di Bali. Pendidikannya hanya sekolah dasar.
Keberhasilannya sebagai pandai besi tidak pula membuatnya kaya raya. Tapi
semangat hidupnya yang tinggi. Dia belum merasa perlu untuk ''pensiun''. Malah
dia masih ingin membuat beberapa mesin baru.
Ia masih ingin memerangi sampah plastik, barang yang diakuinya amat
mengganggu kehidupan manusia. Maka, ia masih ingin membuat alat cor yang murah
untuk memproses sampah plastik. Ia membayangkan bisa membuat saluran-saluran
air dari limbah plastik untuk subak-subak di Bali. ''Agar air tidak terbuang
di jalan,'' ujarnya kepada wartawan TEMPO di Munduk.
Ia juga ingin membuat mesin pencuci dan pencabik sampah plastik karena,
katanya, hanya plastik yang bersih dalam potongan kecil-kecil yang mudah
dibuat bubur untuk dijadikan produk baru lagi. Di samping itu, ia pun ingin
berbuat sesuatu untuk petani cokelat yang mulai bermunculan di Bali. Ia ingin
memproduksi mesin pengepres biji cokelat. ''Rancangannya sudah ada di
kepala,'' ujarnya, sembari terkekeh.
Dewa sadar, tidak mudah mewujudkan cita-citanya. Tapi ia siap menghadapi
kesulitan. Kiatnya: ''Keahlian akan datang kalau kita berani melakukan
eksperimen.''
Putut Trihusodo (Jakarta) dan Putu Fadjar Arcana (Bali)
|