Ketika dinosaurus hidup kembali Sutradara: steven spielberg. pemain: sir richard attenborough sam neil
laura dern joseph mazzello. editor: michael kahn. resensi oleh: garin nugroho |
STEVEN Spielberg bersama Coppola, Scorsese, Lucas, Millius, dan Brian de
Palma dikenal sebagai movie brats. Generasi yang mampu menghidupkan Hollywood
di tengah serbuan industri budaya massa lewat televisi, koran, video, dan
lain-lain yang mulai bertumbuh tahun 1960 ketika ditemukan video, dan
berpuncak tahun 1980 dengan tumbuhnya industri informasi-komunikasi massa yang
terus mengalir hingga kini. Mereka mampu menempatkan film dalam fungsinya yang
lebih khusus, tidak saja lewat tema dan pendekatan, tapi juga eksploatasi
teknologi yang mengagumkan.
Jurassic Park mencerminkan hal tersebut. Sukses film tentang hidup kembalinya
dinosaurus ini, pada esensinya, ada pada eksploatasi teknologi dan psikologi
tontonan, yang telah muncul dalam karya-karya Spielberg sebelumnya. Ia
berhasil mengangkat dimensi romantisme yang menjadi salah satu ciri kesenian
kontemporer sekarang ini. Lewat identifikasi makhluk masa depan ataupun
lampau, di luar realitas waktu dan tempat manusia sehari-hari. Maka, makhluk
ruang angkasa (ET), ikan hiu (Jaws), hingga dinosaurus (Jurassic Park)
tiba-tiba menjadi identitas komunal baru manusia abad ini. Inilah psikologi
tontonan yang memberi ancaman dan kepahlawanan terlepas dari kehidupan
sehari-hari yang dibutuhkan bagi imajinasi manusia modern.
Kekuatan Spielberg yang lain, kemampuannya menciptakan ketegangan dan
keterkejutan sebagai ciri utama abad kekerasan dan kecepatan ini. Dampak efek
pada penonton menjadi nilai utama. Jangan heran, film untuk semua umur ini
menimbulkan kontroversi, pantas dan tidaknya ditonton oleh anak-anak. Jurassic
Park sekaligus keindahan dari keajaiban teknologi sinema dan teror kekerasan
lewat peristiwa-peristiwa yang mencekam, misalnya, adegan dinosaurus menelan
manusia.
Kemudian adalah kekuatan Spielberg yang mampu meletakkan film dalam fungsi
yang ditulis oleh pengamat komunikasi Jowett dan Linton, yakni sebagai sarana
pameran bagi media lain dan sebagai sumber budaya yang berkaitan erat dengan
buku, film kartun, film seri lagu, dan sebagainya. Perlu dicatat, film ini
diangkat dari buku karangan Michael Chricton (1990). Sebelumnya buku yang
sukses ini sudah ditawar oleh empat perusahaan film besar. Chrichton memilih
Spielberg. Biaya film ini tak tanggung-tanggung pula: US$ 65 juta.
Maka, menonton karya-karya Spielberg adalah memahami kode- kode budaya
populer. Dari ET hingga Jaws, beberapa adegan adalah konvensi tontonan dari
adegan film kartun Bambi, Pinocchio, hingga Birds-nya Hitchcock. Coba simak
Raiders of The Lost Ark. Topi, cemeti, baju, senjata, monyet, dan aksesori,
serta musiknya adalah kode-kode yang ada pada pahlawan budaya populer, seperti
Zoro, Tarzan, koboi, petualang, hingga profesor yang rajin meneliti.
Jurassic Park diramalkan mampu menjadi film terlaris sepanjang masa. Dalam 23
hari, film ini meraih US$ 200 juta. Jangan lupa, Spielberg pada usia 13 tahun
telah membuat film science fiction, dan meraih penghargaan.
Jurassic Park memang memenuhi semuanya itu, termasuk mampu mengambil isu-isu
populer dewasa ini. Sebutlah pertentangan antara moralitas dan penjelajahan
sains-teknologi, antara otomatisasi dan pengawasan yang dikembalikan pada
pengendalian manusia. Dan semuanya disajikan penuh ketegangan dan
keterkejutan.
Untuk menciptakan situasi tersebut, Spielberg tampak bekerja luar biasa. Ia
menyerahkan efek spesial dinosaurus pada para maestro efek spesial. Ada Stan
Winston (pemenang Oscar dalam Terminator 2 dan Alliens ), dan Dennis Muren
(peraih Oscar efek spesial film Abyss). ''Saya ingin menciptakan seekor aktor,
bukan hanya patung binatang,'' demikian tekad Winston.
Maka, keajaiban dinosaurus yang bisa digerakkan secara hidraulis inilah yang
menghidupkan film yang sesungguhnya sederhana ceritanya itu. Ketika para ahli
menemukan DNA (deoxyribonucleic acid, bahan pembawa sifat makhluk hidup, yang
terdapat dalam kromosom) dalam perut nyamuk purba. Ternyata dari
molekul-molekul darah yang berisi kromosom itu bisa dibentuk embrio
makhluknya, kemudian dibentuk binatangnya secara utuh. Maka, dinosaurus, yang
sudah punah 65 juta tahun yang lampau, dapat dihidupkan. Adalah John Hammond
(Sir Richard Attenborough), miliuner, lalu membuat taman khusus dinosaurus
bernama Jurassic Park, dengan teknologi keamanan yang sangat piawai. Dalam
rangka uji coba, John Hammond mengundang Dr. Alan Grant (Sam Neil), ahli
binatang purba Elie Sattler (Laura Dern), ahli tumbuhan purba, ahli
matematika dan dua cucu Sattler: Alexis dan Tim.
Lalu muncullah insiden, bernama ketamakan manusia. Ahli komputer di taman
tersebut mencuri dan menjual embrio dinosaurus. Alhasil, muncul kekacauan
karena binatang-binatang purba tersebut tak terkendalikan. Dan itu tak terjadi
cuma pada binatang yang makan tumbuhan, tapi juga yang buas, cerdik, dan makan
daging. Tapi Spielberg tetap yang dulu juga: lebih memilih menyelamatkan dunia
anak-anak.
Yang tersisa dari film semacam ini memang bukan sebuah perenungan yang dalam.
Seperti habis menonton sulap, yang tertinggal adalah yang bernama sensasi.
Dalam hal ini sensasi dari isu permukaan persoalan abad ini, yang akhirnya
diwariskan dalam wujud setumpuk mainan, kaus oblong bergambar, hingga
poster-poster.
Garin Nugroho
|