Manikebu Sejumalh orang dari generasi lampau berebut jadi pahlawan. mereka bisa
bernama manikebu atau lekra. hidup akan lebih baik jika tak melihat diri
sebagai pahlawan melainkan sebagai orang-orang yang bersalah. |
MEREKA datang dari pertikaian 30 tahun yang lampau. Umur mereka di atas 50,
malah ada yang melewati 70 tahun. Keriput telah mengentara di kulit mereka.
Terik matahari, juga rematik dan wazir dan lemah syahwat, telah mengermus
tubuh mereka, meskipun mereka mencoba berjalan tegak. Dan di malam itu mereka
bertemu di sebuah arena: musuh dan kawan sekaligus.
Mereka tak bersenjata. Pedang mereka telah lama tersimpan di sarung, mungkin
karatan sudah. Pertikaian masa lampau itu begitu sengit, bengis justru karena
semuanya terjadi atas nama sebuah cita-cita untuk mendirikan sebuah masyarakat
yang lebih baik. Luka-luka bacok mereka sebagian telah sembuh, tapi sebagian
lain masih nyeri, dan ada yang tetap bernanah.
Mereka datang dari bentrokan masa lalu, tak tahu apakah mereka pemenang atau
bukan. Apa yang gerangan mereka cari di sini? Di arena itu, ditonton oleh
puluhan orang yang lebih muda dan lebih tak punya trauma, mereka tak ingin
berkelahi lagi sebenarnya. Tapi dengan segera mereka sadar bahwa ada yang
telah hilang, atau mengalami metamorfosa, tapi rasa panasnya masih
menggelepar.
A berkata: ''Kita dulu pernah bermusuhan, tetapi dari perang terlalu banyak
korban yang jatuh. Tak seluruh proses berlangsung dengan mengindahkan
perikemanusiaan. Saya kira kita harus memandang masa lampau itu sebagai suatu
kesalahan yang tak boleh diulangi.''
B berkata: ''Saya ingin meminta maaf, bukan karena saya dulu bersalah kepada
kalian, musuh saya. Yang penting bagi saya ialah bahwa kita mulai hari ini
perlu pergaulan yang lebih manusiawi. Bila untuk itu saya harus minta maaf,
itu akan saya lakukan, meskipun saya tak bersalah, karena saya telah berbuat
bukan untuk kejahatan. Tapi untuk satu ide. Dalam konteks 30 tahun yang lalu
itu, apa yang saya lakukan adalah sah.''
C berkata: ''Bagaimana kita memandang masa lampau itu? Suatu kesalahan? Apa
gerangan yang jadi tolok ukur? Kita tahu bahwa tak mudah menentukan apa yang
baik dan apa yang buruk, bahkan kita tak tahu, kalau kita mau jujur, bagaimana
nilai cita-cita kita sendiri sebenarnya. Mungkin apa yang kita lakukan di masa
lalu itu sekadar suatu proses ikhtiar, untuk menemukan jalan yang terbaik dan
dalam ikhtiar itu wajar saja bila terjadi kesalahan, karena tidak ada teori
yang sudah siap untuk mendapatkan jalan yang terbaik itu.''
D berkata: ''Memandang masa lampau dengan sikap semacam itu akan berakhir
dengan menghalalkan banyak hal yang tidak bisa dihalalkan. Hitler membantai
orang Yahudi, Slovak, Polan, dan lain-lain 50 tahun yang lalu. Adakah ia
melakukannya dalam rangka 'berikhtiar menemukan jalan terbaik'? Itu berarti
kita mendukung kebiadaban.''
E berkata: ''Bisakah kita melihat kesewenang-wenangan di luar konteks?''
F berkata: ''Yang perlu ialah bagaimana kita mengambil sikap di hari ini,
dalam konteks kita sekarang. Bagi kita sekarang, di hari ini,
kesewenang-wenangan yang seperti pernah dilakukan di masa lampau itu salah.
Tak boleh diulangi. Itu cukup bagi saya untuk menjadi pegangan moral, untuk
menilai.''
G berkata: ''Kamu relativis tulen kalau begitu. Ah, dulu kamu memang berdiam
diri saja terhadap kesewenang-wenangan yang pernah dilakukan pada diri saya,
musuhmu. Bagimu apa yang dulu 'baik' sekarang bagimu bisa saja dikatakan 'tak
baik', dan apa yang lalim tidak kau anggap lalim hanya karena itu terjadi pada
musuhmu.''
I berkata: ''Kau sendiri bagaimana? Adakah kau menentang kesewenang-wenangan
yang dilakukan terhadap musuh kau, 30 tahun yang lalu itu? Bahkan bukankah kau
sendiri ikut menganjurkan tindakan yang sebenarnya suatu kesewenang-wenangan,
atas nama rakyat dan cita-cita?''
J berkata: ''Bagaimana dengan anak-anak muda yang mendengarkan dan menonton
kita di arena ini? Apa yang akan mereka katakan tentang kita? Apa yang bisa
mereka petik dari masa lampau itu? Atau mereka....''
K berkata: ''Hari sudah larut. Mereka mengantuk. Aku mengantuk. Encokku
kumat.''
Demikianlah mereka, yang datang dari pertikaian masa lampau itu, tak tahu
siapa yang kalah dan siapa yang menang. Yang terasa: mereka semua ingin tampil
sebagai pahlawan. Mereka bisa bernama ''Manikebu'', atau ''Lekra'', atau apa
saja. Agak menyedihkan. Sebab saya kira kita bisa membuat hidup agak lebih
baik jika kita tak melihat diri sebagai pahlawan, tapi sebagai orang-orang
yang bersalah. Bukankah sejarah juga membutuhkan pengakuan dosa?
Goenawan Mohamad
|