Seni lukis oe sudah ada Salah seorang pelukis indonesia yang disebut-sebut begitu orisinil, yang
meloncat dari satu gaya ke gaya yang lain. pameran retrospektif oesman effendi
(almarhum) di jakarta, pekan ini. |
SUATU saat, di awal 1970-an, ia menyatakan pendapat yang menghebohkan. Seni
lukis Indonesia belum ada, kata Oesman Effendi.
Yang lebih menghebohkan, dan membuat para perupa dan pengamat seni rupa
Indonesia geregetan, ia tak menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksudkannya.
Maka, polemik pun berlangsung dan lahirlah berbagai tulisan yang menanggapi
pernyataan itu. Tapi, hingga Oesman Effendi meninggal, tahun 1985, tak pernah
jelas apa sebenarnya yang dimaksudkannya.
Siapa tahu, dari pameran retrospeksi Oesman Effendi kali ini, yang
diselenggarakan oleh Taman Ismail Marzuki dan Yayasan Jaya Raya di Taman
Ismail Marzuki, Jakarta, 18-31 Agustus, bisa diduga maksud pernyataan itu.
Yang segera terasa dalam pameran ini adalah adanya proses ''mencari'' dari
seorang Oesman Effendi, selama kurang lebih 25 tahun. Puluhan bahkan lebih
dari seratus karya lukis yang dibuat dari tahun 1950-an hingga awal tahun
1980-an dengan berbagai medium: pastel, cat poster, akrilik, tinta cina,
kanvas, dan kertas dipasang berderet. Sayang, penyusunan karya dalam pameran
kurang menolong untuk lebih memahami sebuah proses pencarian yang konsisten.
Pada mulanya adalah titik. Karya OE begitu ia lebih dikenal kemudian
menyiratkan berbagai nuansa, kadang menjadi garis- garis yang beringas dengan
warna hijau, merah, biru yang menantang, kadang membentuk bidang-bidang datar
dengan warna- warna permen yang lembut, atau komposisi yang ''cerdas'' dari
keduanya.
Dalam menghadirkan bentuk objek, OE terasa begitu bebas. Kadang objek itu
terlihat jelas: seperti mesjid, perahu, sawah ladang, perbukitan, dan
perkampungan. Namun, pada karya lainnya lagi tak terlihat sama sekali bentuk
objeknya. Hanya ada garis sebagai garis, bentuk sebagai bentuk, dan warna
sebagai warna.
Pada karyanya yang dibuat akhir tahun 1950-an, OE masih memperlihatkan
kecenderungan meletakkan bentuk kongkret, misalnya perkampungan, atau alam
pedesaan sebagai landasan berpijak secara tegas, dengan warna dan garis-garis
yang amat tajam dan riuh.
Meskipun dalam periode ini ia menghasilkan banyak karya yang cukup mencolok,
kecenderungan itu sepertinya bukan merupakan titik berangkat OE. Soalnya,
menilik karya-karya tahun sebelumnya, pertengahan tahun 1950-an, ia telah
memberikan otonomi bagi elemen rupa, seperti titik, garis, ataupun warna dalam
karya-karyanya.
Kemudian menginjak awal hingga pertengahan tahun 1960-an, ia seperti mencoba
berbagai ragam gaya. Mulai dengan pengurangan garis dan warna yang menjadi
sangat minimal, seperti pada seri Perahu-perahu, masuknya unsur-unsur
konstruktivisme, lalu babak pola geometris.
Memang agak mengagetkan ketika di pertengahan tahun 1960-an ia, yang
sepertinya telah memulai babak baru dengan memilih gaya minimal-geometris dan
''bersih'', tiba-tiba kembali mengeksploitasi garis putus-putus dan
bentuk-bentuk terpiuh yang kadang tersamar oleh keriuhan garis-garis warna
kontras. Sebagian lagi itu terbentuk dengan memotong-motong bidang objek
menjadi bidang-bidang kecil dengan garis. Pada ''kubu'' Bandung, gaya ini
menjadi cikal-bakal tumbuhnya seni nonfiguratif. Pada OE, yang bebas itu,
gayanya itu tak menyebabkannya berjalan ke seni nonfiguratif, karena
sebelumnya ia telah melahirkan karya-karya nonfiguratif.
Sampai di sini memang agak sulit menemukan arah perkembangan Oesman Effendi,
bila yang dimaksud adalah perkembangan linier. ''Saya tak dapat bekerja kalau
tidak ada sesuatu yang baru yang hendak saya kerjakan,'' begitu ia pernah
mengatakan. Yang tak jelas: apa maksud ''baru'' di situ sebagaimana
pernyataannya ''seni lukis Indonesia belum ada.''
Yang bisa diduga, perjalanan kreativitas OE menyiratkan perpaduan antara
proses rasa, rasio, dan daya imajinasi yang kait-mengait. Dan itu didorong
oleh kesadaran akan pencarian, sehingga ia membuka diri terhadap
kemungkinan-kemungkinan yang bisa dibentuk oleh garis dan warna seluas
mungkin.
Dan seperti terlihat dalam pameran retrospeksi ini, pencarian tak selalu
berarti maju ke depan. Bisa saja maju di situ ternyata berputar, dan lahirlah
gaya lukisan seperti yang pernah dibuat beberapa tahun lampau. Tapi, tentu
saja, ada bedanya: mungkin lebih intens, lebih matang dalam teknik, dan
sebagainya.
Dan mungkin itulah jawaban OE atas pernyataan yang ia lontarkan sendiri dan
pernah membuat heboh dunia seni rupa kita. Yakni pernyataannya bahwa seni
lukis Indonesia belum ada. Boleh jadi yang dimaksudkannya dengan identitas
seni rupa Indonesia tidaklah menunjuk pada suatu konsep atau bentuk tertentu,
melainkan lebih pada suatu proses pencarian yang terus-menerus.
Bila demikian, ia konsekuen. Dan karyanya di dunia seni rupa Indonesia
tergolong unik boleh dibilang orisinil.
S. Malela Mahargasarie
|