Taruna nusantara unjuk jago Hasil lomba karya ilmiah remaja 1993 mengangkat pamor dangdut dan pamor sma taruna nusantara, magelang. peserta lkir tahun ini sebanyak 555 orang. |
SISWA-siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, mulai unjuk kejagoan. Sabtu dua
pekan lalu, empat pelajar sekolah ini meraih tiga gelar juara yang
diperebutkan 31 finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 1993. Mereka: Budi
Kristia Wardana, juara pertama LKIR bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dengan
karya berjudul Pemanfaatan Auksin Alami dengan Metode Pembalutan untuk
Meningkatkan Keberhasilan Stek Batang Bougenville sp. Yusuf Edi Nugroho,
juara kedua bidang IPA, dengan makalah Pengendalian Hama Walang Sangit dengan
Memanfaatkan Darah Kambing serta Adiyanto Wibisono dan Azhari Sastranegara,
juara ketiga bidang Teknologi, dengan hasil penelitian Desain Tungku Briket
Batu Bara Hemat Energi dengan Efisiensi Tinggi.
Keberhasilan empat siswa SMA Taruna Nusantara itu tampak terlepas dari sistem
pendidikan yang diterapkan pada mereka. Di SMA Taruna Nusantara, yang
didirikan atas prakarsa ABRI untuk mencetak bibit-bibit unggul, menurut Yusuf,
siswa memang didorong untuk melakukan penelitian lapangan. Ia sendiri
memperoleh ide untuk meneliti cara mengatasi hama walang sangit setelah acap
berkunjung ke para petani yang berada di sekitar lokasi SMA Taruna Nusantara.
Yusuf sering memperhatikan petani-petani itu menyemprotkan insektisida ke
areal persawahan yang diserbu serangga pemakan bulir-bulir padi tersebut. Dari
pengamatan di lapangan itu, Yusuf melihat penyemprotan insektisida bisa
menimbulkan dampak negatif terhadap petani. ''Kerugian meliputi segi biologi,
ekologi, maupun ekonomi,'' katanya. Ia mengemukakan contoh: bahwa larutan
insektisida yang tertinggal di sawah bisa berbahaya buat ternak piaraan.
Bagaimana membasmi walang sangit dengan cara yang aman? Menurut Yusuf, yang
bercita-cita jadi insinyur pertanian, walang sangit itu dikumpulkan di satu
tempat, lalu dibunuh. Cara mengumpulkan hama itu dengan menaruh darah kambing
di satu tempat. ''Walang sangit tertarik pada bau amis. Dan darah kambing
memiliki bau amis yang memadai,'' ujarnya.
Untuk membuktikan bahwa bau amis darah kambing lebih mengundang walang
sangit, Yusuf juga menggunakan bahan lain, yang juga berbau amis, seperti
kepiting sawah dan terasi. Ternyata segumpal darah kambing mampu mengundang
259 ekor walang sangit, sedangkan seekor kepiting sawah dan 10 gram terasi
hanya mampu memancing serangga itu masing-masing 59 dan 54 ekor. ''Artinya, di
antara bau amis tiga benda itu, amis darah kambing paling efektif untuk
mengumpulkan walang sangit,'' tambah Yusuf. Hanya saja tidak diungkapkan
sampai jarak berapa meter bau amis itu tercium oleh walang sangit, dan berapa
gumpal darah kambing dibutuhkan untuk memancing hama tersebut pada satu
hektare sawah.
Sementara Adiyanto dan Azhari, yang meneliti pemakaian briket batu bara,
mendapat gagasan setelah berkunjung ke desa perajin keramik, Nglipoh,
Magelang. Di desa itu, menurut kedua siswa SMA Taruna Nusantara ini, ada
perajin yang membakar keramik dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah atau
kayu. Lalu kedua remaja itu mengusulkan kepada para perajin agar membuat
tungku berbahan bakar batu bara. ''Sebab persediaan minyak semakin terbatas,
sedangkan batu bara masih melimpah dan belum memasyarakat,'' kata Adiyanto.
Lalu kedua siswa tersebut merancang tungku briket batu bara yang efisien
mampu memberikan pemanasan optimal, namun hemat energi. Kesimpulan mereka:
tungku briket batu bara tertutup lebih efisien daripada tungku terbuka.
Untuk LKIR bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan, gelar juara pertama diraih
oleh Niniek Martini, siswi SMA Negeri I, Jember. Makalahnya berjudul Minat
pelajar di Kabupaten Jember terhadap musik dangdut, suatu tinjauan kasus
terhadap penggemar musik dangdut. Sebagai seorang penggemar musik dangdut,
siswi kelas III ini ingin mengetahui minat pelajar di Jember terhadap musik
jenis tersebut, yang sering dinilai sebagian orang sebagai musik kampungan.
Niniek membagikan kuesioner kepada 217 responden, terdiri dari murid-murid
SLTP dan SLTA di Kabupaten Jember, dengan dua pengelompokan: murid-murid yang
tinggal di kawasan perkotaan (113 responden) dan murid-murid yang diam di
pedesaan (104 responden). Dari kuesioner yang dikembalikan diketahui bahwa
musik dangdut digemari 46,54% responden. Mereka yang tidak menyukai jenis
musik itu sebanyak 45,62%. Mereka yang mengaku tidak tahu mengenai musik
dangdut 7,83%.
Kalau dipilah-pilah lagi menurut kelompoknya, ternyata sebagian besar peminat
musik dangdut berada di pedesaan. Dari 104 responden yang tinggal di pedesaan,
sebanyak 80,77% menyatakan suka dangdut. Sedangkan dari 113 responden murid
sekolah di bilangan perkotaan hanya 15,04% yang menyukai dangdut.
Sebagai karya ilmiah, hasil penelitian para pemenang LKIR memang masih
memiliki sisi-sisi yang lemah. Makalah Niniek tentang dangdut, misalnya, belum
menganalisa ketimpangan perbedaan minat pelajar di pedesaan dan di perkotaan.
Ini juga terlihat pada 31 karya finalis, termasuk pemenang, LKIR 1993.
''Namun, untuk ukuran remaja, kualitas LKIR meningkat. Karya ilmiah para
finalis tak lagi sekadar karya tulis hasil studi pustaka. Karya-karya itu
umumnya sudah mengarah sebagai karya tulis hasil penelitian,'' kata Pratiwi
Soedarmono, Ketua Dewan Juri LKIR ke-25.
Priyono B. Sumbogo
|