Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 26/XXIII/28 Agustus - 03 September 1993
   
Media

TVRI mengalah untuk swasta

Televisi swasta yang sarat dengan iklan mengudara secara nasional. tvri tetap menolaknya walau anggarannya kurang. bukan lagi dengan dalih konsumtivisme, tapi mengalah.

TELEVISI di Indonesia memasuki babak baru pekan ini. Semua televisi swasta
diperbolehkan melakukan siaran secara nasional. RCTI dan SCTV, misalnya, mulai
Selasa pekan ini akan mengudara di sepuluh kota di luar Jakarta. TPI dan AN
Teve pun mengikutinya, secara bertahap. Itu artinya, pemirsa di Dilli bakal
kaget: ada bajak laut yang mabuk laut. Itu adalah iklan obat yang
menggambarkan Kapten Hook sedang mabuk laut. Selain iklan-iklan yang lucu
banyak pemirsa terhibur oleh iklan iklan yang memamerkan gaya hidup mewah pun
bakal masuk secara nasional.
Apa kabar TVRI? Apakah alasan ''masyarakat pedesaan tak siap menerima iklan''
masih dipakai dalih menolak iklan? ''Sampai sekarang tetap tidak
diperbolehkan. Dan sampai hari ini belum terpikirkan apakah nanti akan boleh
atau tidak,'' kata Dirjen Radio, Televisi, dan Film, Alex Leo Zulkarnain.
Kalau televisi swasta mengudarakan siaran iklan sampai ke pelosok desa, kata
Alex, boleh saja. ''Sejauh iklan tidak menimbulkan hal-hal negatif, silakan,''
katanya lagi.
Banyak pengamat yang berpendapat bahwa ancaman konsumtivisme, yang di tahun
1981 jadi alasan melarang iklan di TVRI, dianggap tidak relevan lagi. Apalagi
televisi swasta bebas gentayangan dengan iklan-iklan gaya mewahnya. Siaran TPI
pagi hari sudah lama ''menasional'' dengan iklan-iklannya.
Kini, jika TVRI masih tabu dengan iklan, itu karena TVRI sebagai media
pemerintah memilih untuk mengalah. Ini menurut Alex Leo. Argumentasinya
begini: jika lima televisi swasta sudah beroperasi semua, dan TVRI ikut
menayangkan iklan, tak bakal ada lagi iklan yang bisa diserap media cetak.
''Pendulum minat iklan lebih bergoyang ke media eletronik, tapi Departemen
Penerangan perlu memikirkan juga nasib media cetak,'' kata Alex. Wow, ini
alasan baru.
Tapi betul, dana iklan untuk bulan Januari sampai Juni 1993, misalnya, lebih
banyak mengalir ke media elektronik. Di peringkat pertama adalah RCTI dengan
pemasukan Rp 190 miliar, diikuti TPI sebesar Rp 180 miliar. Sedangkan seluruh
media cetak hanya bisa menyerap Rp 231 miliar. Apakah nantinya media cetak
kesepian iklan jika semua televisi siaran nasional? ''Tidak semua iklan tepat
dipasang di televisi. Hanya untuk produk perkotaan saja yang tepat dipasang di
televisi,'' kata Rima Sjoekri, Media Planner dari Biro Iklan Ad Force.
Tapi, ngomong-ngomong soal semen, eh, iklan, TVRI sebenarnya tidak bersih
dari iklan. Lihatlah acara kuis seperti Gita Remaja, yang ditayangkan TVRI
tiap bulan. Berulang kali menyebut-nyebut Bank Bukopin sebagai pemberi hadiah.
Pada akhir acara Kamis pekan lalu, tulisan Bank Bukopin malah majang dua kali
di layar televisi. Sementara itu acara musik selingan sering memunculkan merek
BASF di bagian atas layar. Pemirsa TVRI pun sudah tak asing lagi dengan
merek-merek Ligna, Filma, Rexona, Sony, dan banyak lagi.
''Itu acara kerja sama TVRI dengan pihak ketiga. TVRI bisa membuat acara
tanpa mengeluarkan biaya karena pihak ketiga yang menutup biaya produksi,''
kata Direktur TVRI, Aziz Husein. Soalnya, kata Aziz, dana untuk TVRI yang
bersumber dari iuran televisi dan subsidi pemerintah tidak mampu menutup biaya
produksi. Karena iklan tak boleh, ya, kerja sama.
Tahun 1993 ini anggaran TVRI direncanakan mencapai Rp 160 miliar. Namun,
anggaran itu tak bakal bisa ditutup iuran televisi yang hanya Rp 90 miliar.
Adapun subsidi pemerintah yang jumlahnya sekitar Rp 10 miliar digunakan khusus
untuk peralatan. Kekurangan itulah digali lewat kerja sama dengan pihak
ketiga.
Menurut Kepala Stasiun TVRI Pusat Jakarta, Halim Nasir, kerja sama dengan
produsen tertentu itu tak bisa digolongkan iklan walau kadang menghasilkan
sedikit pemasukan. Karena tak ada tarif yang baku dalam kerja sama yang
menawarkan kompensasi berupa penayangan merek produk. Apalagi kerja sama
dengan lembaga pemerintah, yang diperoleh betul-betul hanya untuk menutup
biaya produksi.
Lewat kerja sama itu, tahun lalu TVRI hanya mampu meraih Rp 25 miliar. Namun,
ada kerja sama yang justru masih rugi. Misalnya, sebuah program acara
membutuhkan biaya Rp 30 juta. Pihak ketiga hanya bersedia menutup setengah
biaya. Karena program itu penting, kerja sama sudah bisa jalan. ''Jadi, kalau
mau dibandingkan dengan tarif iklan di televisi swasta jelas murah sekali
karena memang kerja sama bukan tergolong iklan,'' kata Halim lagi.
Perbedaan lain lagi dengan iklan, tayangan merek produk dalam bentuk kerja
sama tidak boleh menghentikan acara tersebut. ''Acara harus jalan terus, dan
tayangan produk hanya diselipkan. Jadi, bukan hard sale yang bertujuan menjual
suatu produk,'' tambah Halim. Dan, yang penting, kerja sama hanya insidentil,
sedangkan iklan bersifat kontinu. Artinya, suatu program acara rutin bisa saja
disponsori oleh pihak ketiga yang berbeda-beda.
Persoalannya adalah program produk kerja sama hasilnya sering tak begitu
bagus, karena masuknya kepentingan sponsor itu. ''Program kerja sama jadi
kendala juga. Dengan kerja sama, kita tidak bisa mendapat sinetron sebaik Siti
Nurbaya yang produk TVRI murni,'' pengakuan Aziz Husein. Memang serba repot.
Sementara itu di jalur televisi swasta, program acaranya tetap tanpa jaminan
kualitas, padahal dana masyarakat lewat iklan mengalir ke sana.
Jadi? Selamat bersiaran nasional untuk televisi swasta, dan selamat ulang
tahun untuk TVRI. Mau apa lagi?
Liston P. Siregar dan Priyono B. Sumbogo


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data