Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 26/XXIII/28 Agustus - 03 September 1993
   
Agama

Menafsirkan doktrin ''tulang rusuk''

Seorang muslimah pakistan meneliti ihwal kedudukan wanita menurut quran. riffat hassan, muslimah yang doktor itu, menyimpulkan bahwa hak wanita dan lelaki sejajar.

BAGAIMANA sebenarnya Quran memandang wanita? Mengapa di sejumlah negeri yang
Islam justru kedudukan wanita direndahkan?
Riffat Hassan, wanita Pakistan yang menjadi guru besar studi- studi Islam di
University of Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, dan dosen tamu di Harvard
Divinity School, sudah lama melakukan penelitan sehubungan dengan wanita
menurut Quran. Salah satu penemuannya, karena adanya doktrin yang salah
kaprah, yakni tentang Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, maka kedudukan
wanita ditaruh di bawah lelaki.
Dua pekan lalu, pemikir muslimah ini hadir di Jakarta atas undangan jurnal
Ulumul Quran. Ia memberikan ceramah tentang wanita menurut Quran, antara lain
di LIPI. Pendekatan Riffat lebih teologis dibandingkan pemikir Maroko, Fatma
Mernissi, yang juga mencari jawab Quran memandang wanita tapi lebih dari segi
sosiologis.
Berikut cuplikan wawancara Wahyu Muryadi dan Dja'far Bushiri dari TEMPO
dengan penulis buku, antara lain, Women in the Quran itu. Sesekali Riffat
membuka The Holy Quran tulisan Maulana Yusuf Ali.
Menurut Anda, bagaimana sebenarnya konsep Quran tentang perempuan?
Quran memberikan kepada wanita hak-hak yang sama dengan lelaki. Saya temukan
itu dalam konteks sejarah penciptaan. Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan
perempuan sejajar, dari bahan serta waktu yang sama. Tak ada petunjuk dalam
Quran, perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Apalagi disebutkan bahwa
laki-laki tak lebih penting daripada perempuan dalam semua hal yang berkait
dengan hak asasi pada umumnya: sosial, pendidikan, termasuk dalam hal memilih
pasangannya.
Tapi kenyataannya berbeda.
Saya wanita muslim dan saya hadapi kenyataan itu. Hak-hak perempuan yang
diterima dari Quran acap kali dinafikan oleh masyarakat muslim itu sendiri. Di
samping itu, masih banyak pula perlakuan diskriminasi yang terjadi atas
wanita. Inilah yang membuat saya bertekad mencari jalan keluar, sebab saya
yakin semua ini bukan berdasarkan Quran.
Tapi para ulama berpendapat, lelaki itu superior.
Saya tahu itu. Pendapat itu terbentuk secara tradisional. Tapi saya kira
upaya melakukan reinterpretasi terhadap Quran sedang terjadi saat ini. Anda
tahu kan, Quran sudah diterjemahkan pria selama ratusan tahun. Dan ulama itu
semuanya lelaki. Kalau wanita mulai membaca dan melakukan reinterpretasi
kembali, hal itu akan membawa makna baru, kemungkinan baru. Dan mereka akan
menentang ide bahwa laki-laki itu lebih superior ketimbang wanita. Quran sama
sekali tidak menyebut soal superioritas itu. Ini hanya merupakan keyakinan
umum, yang populer, karena laki-laki sedang berkuasa.
Tapi bukankah doktrin ''Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam'' itu berasal
dari Bukhari dan Muslim yang hadisnya sahih?
Anda bisa menyebut sumber itu, tapi saya juga bisa mengutip sumber lain.
Berdasarkan studi dan riset saya, semua itu bukan seperti yang dikatakan
Quran. Superioritas yang diakui Tuhan dalam Quran hanyalah dalam hal takwa,
dalam soal kebajikan yang ada pada diri Anda. Bukan dalam soal seks, misalnya.
Tapi bukankah dalam Quran Surat An-Nisa ayat 34 disebutkan bahwa lelaki itu
memimpin wanita?
Ya, tapi saya kira masalahnya hanya pada soal salah penafsiran. Kata
qawwamuuna dalam ayat itu sangat sering diterjemahkan sebagai ''pemegang
kendali, master, superior''. Padahal, qawwamuuna itu dari akar kata qama,
hingga makna qawwamuuna adalah ''pria menyediakan dukungan ekonomi untuk
wanita''. Ini karena hanya wanita yang berfungsi melahirkan anak. Karena hanya
bisa dijalankan oleh wanita, fungsi ini harus didukung oleh laki-laki. Tapi
jangan diputarbalikkan, lantas diartikan bahwa laki-laki superior dan wanita
dilecehkan. Ini contoh khas penafsiran yang salah itu.
Ini tafsiran Anda sendiri ataukah merujuk pendapat lain?
Bukan. Saya bekerja sangat keras selama bertahun-tahun. Dan saya telah
menguji akar-akar tiap kata itu. Saya merekonstruksi apa arti kata itu.
Bukankah bahasa Arab adalah bahasa Semit? Dan bahasa Semit itu bekerja atas
dasar akar kata.
Siapa ahli tafsir terbaik menurut Anda?
Ini pertanyaan sulit. Saya rasa Quran itu kitab yang sudah pasti. Maka, saya
rasa mufassir terbaik, dari sejumlah nama yang saya tahu, tentunya Nabi
Muhammad. Dalam hal ilmuwan, saya rasa setiap ilmuwan punya ide berbeda, dan
beberapa idenya bisa diambil dan lainnya tidak. Saya kira tak ada satu pun
ilmuwan yang sempurna di dunia ini. Saya belajar selama dua puluh tahun, dan
saya belajar banyak hal dari Iqbal, kendati pendapatnya ada yang tidak saya
setujui. Juga Fazlur Rahman. Dua orang ini termasuk yang bagus dalam era kita.
Khususnya Iqbal, mempengaruhi hidup saya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data