Tempo award 1993 untuk yang berprestasi Tempo award 1993 diserahkan kepada para pemenang, yaitu para mahasiswa ikj jurusan seni rupa yang berprestasi. berlangsung di ruang pamer seni rupa ikj,
taman ismail marzuki. |
SUDAH tiga kali berturut-turut, selama tiga tahun terakhir, kami ikut
mendukung kegiatan seni rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Bila baru
sekarang kami mengungkapkan kegiatan itu kepada Anda, para pembaca TEMPO,
semata-mata karena kami khawatir kalau-kalau kegiatan ini berupa pemberian
TEMPO Award kepada mahasiswa Jurusan Seni Rupa IKJ yang berprestasi tak
berkesinambungan. Siapa tahu tak ada karya yang layak diberi TEMPO Award.
Ternyata, mahasiswa-mahasiswa Jurusan Seni Rupa IKJ mampu menghasilkan
karya-karya yang layak diberi TEMPO Award setiap tahunnya. Untuk tahun 1993,
staf pengajar di IKJ memilih 12 mahasiswa yang dinilai karyanya berdasarkan
kreativitas, desain, dan ide yang orisinal. Dari 12 peserta yang dinilai itu,
para pemenangnya adalah Murpelis Bey dengan karya Kamar Hotel (dari Jurusan
Desain Interior) dan Boedi Wisaksono dengan karya Lingkungan Hidup (Disain
Grafis), Lucky Wijayanti dengan karya Ruang Tidur Hotel Le Meridien, dan
Lastio Lubis dengan karya Lampu (Jurusan Kriya Tekstil dan Kayu), serta R.
Magdalena Pardede dengan karya Sepatu (Jurusan Seni Grafis Murni).
Di samping itu, juri juga memberi empat penghargaan untuk pendidikan dasar,
yang diraih oleh M. Syauqi Subhan T. untuk gambar dasar dan gambar anatomi,
serta Umar Sholahudin dan Irfan Hasan masing-masing untuk gambar bentuk dan
nirmana.
Upacara penyerahan TEMPO Award 1993, berupa piagam dan sejumlah uang,
dilangsungkan di Ruang Pamer Seni Rupa IKJ, Taman Ismail Marzuki, Jakarta,
Jumat pekan lalu. PT Grafiti Pers, penerbit Majalah TEMPO, pada acara itu
diwakili oleh Goenawan Mohamad dan Harjoko Trisnadi. Dari IKJ, hadir Profesor
Ayatrohaedi (mewakili rektor), Dekan Fakultas Seni Rupa Wagiono Sunarto, serta
segenap sivitas akademika dan orang tua mahasiswa.
Profesor Ayatrohaedi dalam sambutannya mengharapkan agar bantuan TEMPO yang
telah dirintis selama tiga tahun itu menggugah kelompok lain agar mau
menyandang dana di bidang kesenian. ''TEMPO sudah memperhatikan bidang seni
rupa, mungkin kelompok lain membantu untuk seni pertunjukan dan bidang
produksi,'' katanya.
TEMPO, seperti diutarakan Goenawan, tergugah untuk ikut membantu IKJ setelah
melihat masih ada generasi muda yang mau masuk ke dalam bidang yang tidak
banyak menghasilkan uang tersebut. Dan, ini terjadi ketika orang
berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak duit.
''Kami menyadari pula bahwa bantuan terhadap pengembangan kesenian terlalu
sedikit di masyarakat, maka Majalah TEMPO mengkhususkan untuk mengisi
celah-celah yang kosong itu,'' kata Goenawan.
Ia menambahkan, TEMPO sangat berbahagia nama TEMPO dicantumkan dalam kegiatan
IKJ ini. Tapi, lanjutnya, itu bukan maksud kami. ''Mungkin suatu ketika bisa
diganti dengan nama salah seorang tokoh yang telah meninggal dunia,'' ujarnya.
Kemudian Redaktur Senior TEMPO itu minta supaya istilah award diganti dengan
istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia karena lidah orang Indonesia sulit
menyebut kata tersebut.
Dan, yang paling penting, kata Goenawan Mohamad kepada para pemenang Hadiah
TEMPO 1993, berkarya bukan untuk sebuah hadiah saja, tapi awal yang baik
ketika kita semua baru belajar.
|