Bukan salah bunda mengandung Mengembangkan harmoni dan keserasian dengan lingkungan, para arsitek bekerja
sama dengan paranormal. pekan ini seminar hongsui di surabaya. |
ORANG sudah berusaha ibaratnya kaki ke atas kepala ke bawah, atau pergi
pagi pulang pagi tapi nasib sialnya lebih banyak dibandingkan dengan nasib
baik. Sering merasa dirundung ilat, memang, tak cukup dihadang dengan
sekeranjang keluhan. Atau sampai meyesali retak tangan seraya mengumpat
keteledoran leluhurnya.
Harap jangan panik, urusan celaka badan bukan lantaran salah bunda
mengandung. Sebab, bersamaan dengan ikhtiar fisik, kata orang arif, jangan
abai terhadap upaya nonfisik.
Di Negeri Cina, misalnya, sudah lama berkembang ilmu tentang nasib manusia
yang berkaitan dengan pengaruh perbintangan dan kaidah kekuatan alam, yang
disebut hongsui. Cakupannya, yang berkembang dalam masyarakat Cina sejak
dinasti Chou, sekitar tiga abad sebelum Isa alaihisalam, sangat luas. Mulai
perwatakan, nasib, sampai konsep bangunan.
Dan Sabtu ini Ikatan Konsultan Indonesia (Ikoindo) mengadakan Seminar Hongsui
di Hotel Elmi, Surabaya. Topiknya: nasib bisnis dan karya arsitek dari sudut
primbon dan hongsui. ''Kini kalangan eksekutif makin banyak yang tertarik pada
hongsui,'' kata Boedi Wibowo, Wakil Ketua Ikoindo Jawa Timur.
Dewasa ini di Indonesia, primadona bahasan hongsui adalah sekitar konsep
bangunan. ''Rumah atau bangunan bagian terpenting kehidupan. Dari rumahlah
hidup dan keberhasilan dimulai,'' kata Guntur Yeremia Chandra, 37 tahun.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Surabaya ini membuka konsultasi hongsui di
Wisma Bapindo. Jasa Guntur pernah dipakai ketika Plaza Surabaya milik Salim
Group direnovasi.
Meski menyangkut kepercayaan, tak berarti urusannya serba abstrak. Misalnya,
ada yang ogah membeli rumah di jalan tusuk sate. Sial, kata orang. Secara
awam, alasannya: mobil ngebut bisa menyelonong ke rumah itu. Selain itu, ada
alasan yang lebih mendasar: arus angin akan sangat besar. ''Ini bisa
mengakibatkan penghuninya sakit,'' kata Guntur.
Soal tangga? Menurut Guntur, hitung jumlah anak tangga tiga, atau enam,
secara deret ukur jatuhnya pada hitungan sing (bahagia) atau emas. Rumusnya:
sing diangkakan sebagai 1, hung (jaya) 2, dan suai (jatuh) 3. Atau ambil rumus
enam unsur alam, yakni emas, kayu, air, logam, api, dan tanah.
Ternyata, banyak pemilik bangunan yang sudah memasukkan faktor hitungan
hongsui dalam paket pesanannya. Seperti diungkapkan Adhi Moersid di Jakarta,
ia sudah melayani klien berbumbu hongsui itu sejak tahun 1976.
Arsitek terkemuka itu melihat bahwa prinsip-prinsip dalam hongsui tidak
bertentangan dengan kaidah arsitektur umumnya. ''Saya sering harus merancang
sesuai dengan patokan hongsui atas permintaan klien,'' kata Ketua Kehormatan
Ikatan Arsitek Indonesia itu.
''Sepanjang pengalaman saya, hongsui tidak sampai mengusik keindahan
bentuk,'' katanya kepada G. Sugrahetty dari TEMPO. Misalnya, menurut hongsui,
pintu depan pantang sejajar dengan pintu belakang. Ini bisa diterima logika.
''Agar kedua pintu itu tidak membentuk lorong angin yang embusannya terlalu
kuat,'' katanya.
Pandangan Adhi senada dengan penelitian Josef Prijotomo, dosen Institut
Teknologi Surabaya. Ia mendapat gelar S-2 bidang arsitektur dari Universitas
Negeri Iowa, AS, dan pernah meneliti primbon Jawa. ''Hongsui atau primbon Jawa
pada dasarnya adalah hitungan rasional. Hanya metodologinya yang berbeda
dengan metodologi modern,'' kata Josef.
Contohnya, belakang rumah jangan lebih rendah dari bagian depan. Tujuannya:
mengantisipasi banjir. Supaya air tak menggenang di belakang rumah. Bisa
menimbulkan penyakit. Dan bagian depan rumah sebaiknya bebas pandang, dengan
menyisakan tanah kosong dalam bahasa hongsui, ''menyeimbangkan kualitas
angin''. Menurut Josef, adanya tanah kosong akan membuat sirkulasi udara lebih
menyehatkan.
Seisi rumah sudah sehat walafiat, rezeki toh seret. Dari nasihat ''dukun
hongsui'', boleh jadi bangunan yang sudah jadi itu terpaksa dibongkar.
Hadapnya atau tata ruangnya diubah, daun pintu mesti ukuran begini atau
begitu, dan sebagainya. Versi lain, tanpa harus membongkar bangunan yang
sudah jadi, dilakukan Yasin Assiry, 54 tahun. Pelukis paranormal ini dikenal
luas di kalangan penggemar hongsui kepercayaan ini tidak terbatas pada ras
dan suku tertentu apalagi setelah ia berbicara di depan forum seminar sehari
di Hotel Borobudur, April lalu.
Dalam seminar dengan topik ''Tata Letak Bangunan terhadap Keberhasilan'' itu,
Yasin membawakan makalah Sinar dalam Tata Ruang. Pada intinya ia menekankan
untuk membangun kesadaran tentang adanya kaitan pengaruh kekuatan sinar bumi
terhadap manusia, baik untuk kesehatan, bisnis, maupun urusan keberuntungan
pada umumnya.
''Saya akan mencari sinar baik dan buruk dengan perhitungan hongsui di rumah
itu,'' kata Yasin kepada TEMPO, pekan lalu. Menurut pengalamannya, sebuah
bangunan rumah atau kantor bisa saja berdiri di sebuah kapling yang tanahnya
memancarkan sinar buruk. Akibatnya, penghuni bangunan itu mengalami pelbagai
hal yang kurang beruntung, ya, sakit-sakitan, cekcok, atau sikut- menyikut
melulu.
Yasin menetralisasinya dengan menggeser perabot ke tempat yang tepat atau
menambahkan unsur alam seperti logam tertentu atau sebaliknya, membuang kadar
unsur yang berlebihan, sehingga interaksi yang berkembang di lingkungan itu
menjadi harmonis dan serasi.
Ed Zoelverdi, Bunga Surawijaya, dan Kelik M. Nugroho
|