Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 25/XXIII/21 - 27 Agustus 1993
   
Lingkungan

Menangkal banjir, mengundang air asin

Kabupaten polmas terancam pencemaran air laut. ribuan hektare pohon cokelat di campalagian terancam mati gara-gara air asin. pembuatan tanggul memang perlu, tapi pelebaran kali puppole?

SESUDAH di Jakarta Utara, kini perembesan air laut mengancam Sulawesi
Selatan. Jangan risau dulu, bencana itu belum terjadi. Namun, pada musim hujan
mendatang, diperkirakan ribuan hektare pohon cokelat di Kecamatan Campalagian,
Kabupaten Polmas sekitar 300 km dari Ujungpandang terancam mati gara-gara air
asin.
Syahdan, air laut itu mengalir dari Selat Makasar ke Sungai Malosso lalu
terus ke Kali Puppole. Kalau saja serbuan air asin itu terjadi persis seperti
yang dibayangkan orang, penduduk sembilan desa yang berlokasi di sekitar
sungai itu akan kehilangan sumber air tawarnya. Kemungkinan inilah yang harus
diwaspadai. Bila ditelusuri ke belakang, ancaman air asin itu ada kaitannya
dengan banjir besar yang melanda Kabupaten Polmas pada 1987. Agar banjir tidak
terulang, Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum mengeruk Sungai Malosso,
kemudian membangun tanggul sepanjang 1,5 km. Tujuannya ialah supaya air tidak
meluap menggenangi desa-desa di sekitar kali tersebut. Proyek senilai Rp 500
juta itu dimulai sejak tahun lalu dan kini sudah rampung.
Hanya saja, rehabilitasi tidak dilakukan ke arah hulu Sungai Malosso seperti
direncanakan semula, tapi diteruskan ke Kali Puppole. Bahkan, Dinas PU telah
melebarkan dan memperdalam Sungai Puppole agar sesuai dengan lebar dan dalam
Sungai Malosso. Yang dikhawatirkan adalah akibatnya di musim hujan air pasang
akan mendorong air laut ke Kali Puppole.
''Meski air pasang sudah surut dan air tawar kembali lagi, tanah di
sekitarnya telanjur tercemar air laut,'' ujar Ir. Djuhartono, M.Sc., ahli
tanah Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Ujungpandang.
Kekhawatiran itu dibantah pemimpin Proyek Perbaikan dan Pemeliharaan Sungai
Dinas PU, Dayat. Tinggi dasar Sungai Malosso dengan Kali Puppole, katanya,
berbeda lima meter. ''Jadi, saya yakin air laut tidak mungkin bisa menerobos
masuk (ke Kali Puppole),'' begitu alasannya.
Bahwa proyek dibelokkan ke arah Kali Puppole, itu tak lain karena pada musim
hujan anak sungai tersebut tak akan mampu menampung limpahan air dari Gunung
Ongko. Untuk itulah tepi kali diperlebar dan dibuatkan tanggul.
Dengan debit air lebih dari 100 m per detik di musim hujan, kata Dayat, lebar
yang ideal adalah 25 m, atau 1,5 x lebar semula. Tak bisa tidak, untuk
pembuatan tanggul, sebagian tanah rakyat terpaksa diterabas.
Melihat situasi di lapangan, sebuah sumber TEMPO, yang cukup berpengalaman
dalam hal ini, berpendapat lain. Katanya, debit air di musim hujan hanya
kira-kira 30 m per detik. Jadi, Kali Puppole tidak perlu diperlebar.
Beda ketinggian itu pun diragukannya. ''Orang awam juga tahu bahwa Sungai
Malosso itu dangkal,'' tambah sumber TEMPO seraya menunjuk orang yang
menyeberangi sungai. Air memang cuma sebatas paha atau kira-kira setengah
meter. Ia juga menunjuk gundukan lumpur yang menyembul dari permukaan air.
''Melihat yang begini, mana mungkin air laut tidak masuk pada waktu pasang,''
sumber itu menegaskan.
Tanda-tanda intrusi air laut memang sudah bisa dilihat di Desa Bonde, di
sekitar pertemuan air laut dan air tawar. Di sana sebagian tanaman pisang dan
pohon cokelat tampak menguning. Agaknya rehabilitasi proyek di Kali Puppole
memang tak berjalan mulus. Penggusuran itu, menurut Zubair, warga Desa
Campalagian, dilakukan ''Tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan.''
Lebih dari 50 kepala keluarga terpaksa merelakan tanahnya demi tanggul.
''Saya sudah tak punya apa-apa lagi,'' ratap Amma Bunga, wanita tua penduduk
Desa Parappe, sambil memandangi hamparan tanah kosong di depannya. Di sana
dulu berdiri 200 pohon cokelat dan 50 pohon kelapa yang menjadi sumber
penghasilannya.
Lain halnya Tamu, 39 tahun, tetangga Amma, yang bukan saja tak mau
menyingkir, tapi sengaja memalang kebun dan rumahnya dengan bambu agar tak
kena gusur. ''Pak Camat bilang pembangunan tanggul itu untuk keindahan. Tapi
buat apa keindahan kalau saya mati,'' ujarnya dalam bahasa Indonesia
patah-patah.
Keterangan Tamu itu dibantah Camat M. Natsir. ''Ah, mana mungkin saya bilang
begitu. Saya justru sedang mencarikan jalan keluar terbaik untuk dia,'' kata
Natsir.
Menghadapi itu semua, Zubair melayangkan surat ke Gubernur Z.B. Palaguna
untuk mengimbau agar proyek tahap II dihentikan. Bulan silam proyek Kali
Puppole memang berhenti persis di lahan Tamu, yakni 250 meter menjelang batas
akhir tahap II.
''Proyek Kali Puppole itu proyek pemborosan,'' kata bekas Bupati Polmas, S.
Mengga. Ia, yang dulu ikut mencari bantuan penanggulangan banjir, kini merasa
kecewa. Proyek itu bukannya melenyapkan sumber banjir. Malah sebaliknya,
menimbulkan problem baru berupa ancaman intrusi air laut.
Benarkah? Bupati Polmas, H. Andi Kuba Dauda, membantah semua tuduhan itu.
Katanya, jika masyarakat merasa dirugikan, proyek itu pasti sudah dihentikan
sejak awal dan dananya akan dialihkan ke proyek lain. ''Pembangunan itu
seperti yang diinginkan masyarakat dan sesuai dengan bestek,'' kata Andi Kuba.
Ia justru balik menuduh Zubair sebagai biang keresahan. ''Zubair melakukan hal
itu agar tanahnya tidak terkena proyek,'' ujarnya.
Sampai kini belum terlihat upaya menangkal rembesan air asin. Sementara itu,
pemerintah setempat sudah memulai proyek tahap ketiga, yakni pengerukan hulu
anak Sungai Malosso, yang biayanya diambil dari APBN 1994-95.
Sri Pudyastuti R. (Ujungpandang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data