Agar tetangga tak terganggu Teknik top down cocok untuk pembangunan gedung tinggi di daerah padat. di asia, teknik yang bisa menghemat waktu pembangunan 35% ini pertama kali diperkenalkan seng lip lee. |
MEMBANGUN gedung jangkung di kawasan padat, seperti di daerah segi tiga emas
Jakarta, repot bukan main. Salah-salah, penghuni gedung yang bersebelahan
dengan bangunan baru itu bisa mencak- mencak karena terganggu bunyi suara
tiang pancang diketok, oleh kemacetan lalu lintas kendaraan proyek, maupun
oleh debu yang muncul dari tanah galian di bangunan baru.
Dua pekan lalu, Profesor Seng Lip Lee, ahli geoteknik dari California,
menawarkan teknik pendirian gedung baru tanpa mengundang omelan tetangga itu
kepada masyarakat konstruksi Indonesia. Terobosan yang ditawarkan Seng di
depan sekitar 400 ahli, praktisi, dan pengusaha konstruksi yang memadati
Golden Room Hotel Hilton, Jakarta, itu disebut top down.
Teknik top down penekanannya pada urusan basement lantai bawah tanah yang
kini ada di setiap bangunan jangkung. Bangunan bawah tanah (substruktur), yang
biasanya dipakai untuk tempat parkir, gudang, ruang mesin AC, bahkan untuk
pasar swalayan itu sesungguhnya berperan pula sebagai jangkar, atau dudukan,
bagi bangunan atas (superstruktur).
Pada teknik lama, basement dibangun setelah tanah digali. Dengan teknik top
down, teknologi yang tergolong asing di Indonesia sekalipun telah berkembang
di Amerika sejak 10 tahun silam, basement bisa dibangun seiring dengan lantai
atas. ''Waktu yang dihemat bisa 35%,'' ujar Seng.
Pengalaman pertama ahli konstruksi kelahiran Jakarta itu dengan top down
adalah di Singapura, 4 tahun lalu. Seng, waktu itu, konsultan untuk
pembangunan The Palais Renaissance, bangunan setinggi 16 lantai dengan 3
lantai basement, yang terletak di Orchad Road. Berkat teknik top down itu,
saat basement rampung, lantai atasnya sudah naik 7 lapis. Kini Seng sedang
mempraktekkan lagi cara itu untuk sebuah bangunan 70 tingkat, dengan 6 lantai
basement, di Bangkok.
Dalam soal top down, Seng, 68 tahun, memang orang yang cocok untuk berbicara
itu. Ia mengikuti ide top down sejak dini. Warga negara Amerika itu, yang
lebih sering tinggal di Singapura dan Bangkok untuk mengajar sambil membuka
biro konsultan teknik dianggap sebagai ahli pertama yang menerapkan teknik
tersebut di Asia. Sebagai konsultan, ia berhasil meyakinkan kontraktor untuk
mencoba top down.
Pelaksanaan top down itu khas. Pertama digarap adalah tembok basement, yang
disebut dinding diafragma. Caranya adalah dengan menggali celah selebar 80 -
100 cm, lalu mengisinya dengan beton cor. Pada tahap berikutnya adalah
penanaman pilar penyangga, biasa disebut tiang raja, di antara dinding-dinding
diafragma itu.
Besar celah, jumlah dan diameter tiang raja, tergantung ukuran gedung yang
akan dibangun. Untuk gedung 70 tingkat dengan 6 lantai basement di tanah
lembek, seperti di Bangkok, diperlukan diafragma selebar 1 meter dengan dalam
36 meter. Tiang rajanya beton bergaris tengah 1,5 meter, yang jumlahnya 600
buah, dan ditanam sedalam 60 meter. Maklum, bangunan di atas tanah 8.000 m itu
beratnya 500.000 ton.
Langkah berikutnya membuat hamparan lantai beton dari satu diafragma ke
diafragma seberang. Hamparan beton itu kelak menjadi lantai ground. Di situ
disiapkan sejumlah lubang untuk lalu lintas orang dan mesin. Lewat lubang itu
pekerja menggali tanah, untuk nantinya dibuat lagi lantai beton sebagai lantai
atas basement. Secara bersamaan, tiang-tiang raja itu disambungkan ke atas
untuk menyangga superstruktur. Jadi, sambil basement digali, lantai atas
digarap.
Teknik top down, menurut ahli konstruksi Wiratman Wangsadinata, sesuai untuk
perkotaan di Indonesia, yang padat dan berair tanah dangkal. Soal air tanah
ini, menurut konsultan kondang itu, bisa mengundang kerawanan tersendiri.
''Dinding diafragma efektif untuk mencegah mengalirnya air selama penggalian
basement,'' ujar Wiratman.
Sebetulnya, tambah Wiratman, dengan pompa yang kuat, problem air tanah itu
bisa diatasi tanpa top down. Hanya saja hal itu bisa berakibat buruk bagi
daerah di sekeliling bangunan: permukaan air tanah akan turun. Dampak
penyedotan seperti itu pernah mengakibatkan retaknya gedung Kedutaan Besar Uni
Soviet (kini: Rusia) di Jalan Thamrin, Jakarta, ketika dilakukan penggalian
basement gedung Plaza Indonesia, beberapa tahun lalu.
Permukaan air tanah di sekitar lokasi Plaza Indonesia ketika itu sempat
turun, sehingga daya dukung tanahnya pun susut. Akibatnya, fondasi Kedutaan
Besar Uni Soviet ambles, dan tembok serta lantai bangunan tersebut
retak-retak. ''Dengan top down hal semacam itu bisa dihindari,'' tutur
Wiratman.
Wiratman sendiri mulai belajar mempraktekkan top down. Bangunan baru yang
sedang ditanganinya adalah Gedung Arthaloka II (di Jalan Sudirman), Wisma
Nusantara II (Jalan Thamrin), dan Gedung Bank Indonesia (Jalan Budi
Kemulyaan), semuanya di Jakarta, mulai menggunakan teknik semi-top down. Di
situ dinding basement dibangun lebih dulu untuk menahan air.
Mengapa pembangunan basement itu tidak sekaligus dengan lantai-lantai di
superstruktur? ''Kami belum berani ke sana. Manajemennya berat,'' tutur
Wiratman. Teknik top down memang menuntut manajemen konstruksi yang sangat
rapi. Itu tak mudah.
Putut Trihusodo
|