Marsinah Kematian marsinah, buruh di sebuah pabrik komponen arloji di sidoarjo,
sedang diusut. hasilnya dan motifnya tidak ada yang tahu. yang ada hanyalah
cerita, dengan kata lain "pengetahuan". |
APA gerangan Marsinah bagiku, bagimu? Pada suatu hari ada berita tertulis,
dan kita pun tahu: Marsinah adalah seorang buruh perempuan, di sebuah pabrik
komponen arloji di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia ditemukan mati, dalam umur 23
tahun, empat hari setelah ia ikut mogok menuntut perbaikan nasib. Di tubuhnya
tampak bekas penganiayaan.
Kita belum tahu siapa yang membunuhnya, kalaupun ia mati terbunuh. Kita belum
tahu kenapa ia dianiaya. Polisi sedang mengusut kasus ini, dan kita juga belum
tahu bagaimana mereka mengusutnya dan apa pula hasilnya.
Apa Marsinah bagiku, bagimu? Kini Marsinah adalah sebuah nama dalam sebuah
berita, dan antara kita dan dia ada jarak. Berita, bagaimanapun juga,
bercerita tentang sesuatu yang telah (atau terkadang ''sedang'') terjadi,
sebuah presentasi yang datang dengan kerangka dan kemasan yang ditentukan dari
luar kita.
Koran, majalah, radio, atau televisi memang melintasi jurang ruang dan waktu,
tapi pada saat yang sama mereka juga media yang tak bisa mengakrabkan.
Kematian Marsinah menjadi sebuah news item di antara tumpukan berpuluh news
items yang lain dan esok atau seminggu berikutnya ia sudah tak akan di sana
lagi. Mungkin kematian itu menyebabkan kita marah, ngeri, bertanya- tanya,
tapi semuanya berlangsung dalam situasi transit. Segera setelah itu kita akan
terbang ke situasi lain, mungkin ke sesuatu yang lucu dan menggembirakan,
tentang sebuah negeri yang tinggal landas dan harga cabe keriting yang tidak
naik. Atau kita akan marah, ngeri, bertanya-tanya, tentang kabar lain, di
Bosnia, di Palestina, dan entah di mana lagi.
Marsinah: akhirnya kita tahu, bahwa perempuan yang ditemukan mati di gubuk
itu tak hadir. Ia hanya diwakili oleh sebuah nama. Dan sadar atau tak sadar
kita pun kemudian merasa tak perlu benar akan ''kehadiran''. Kita
terus-menerus berhubungan dengan sehimpun headline, sederet kata, seunggun
tanda, yang beraneka ragam dan cepat melintas, seperti ribuan meteor di layar
Nintendo. Sedangkan Marsinah, di mana dan apa dia sebenarnya ....
Yang ada adalah cerita, informasi, masukan dengan kata lain,
''pengetahuan'', yang sering cepat kedaluwarsa. Jangan-jangan karena inilah
kini ada semacam sikap ragu terhadap pengetahuan dan niat mencari kebenaran.
Ya, semacam sikap menyerah, tetapi juga semacam sikap terbebas dan ringan
hati.
Mungkin itu sebabnya kini para pemikir ''post-modernis'' menjadi begitu
memikat. Dengan kalimat-kalimat yang sukar mereka berbicara tentang dunia
realitas sebagai referent, atau ''hal yang diacu'' oleh bahasa. Hal yang diacu
itu sendiri tak perlu direpotkan benar. Ia tak lagi berwibawa. Bahasa, sebuah
sistem tanda, seakan-akan wahana segalanya. Dan pengalaman adalah sesuatu yang
dihasilkan oleh rangkaian tanda yang tersusun secara berbeda-beda, yang
mengantarkan sekaligus membuahkan makna dan juga sesuatu yang terbuka, tak
dapat disimpulkan oleh struktur apa pun yang menutup dan menentukan.
Maka, Marsinah: apa artinya itu bagiku, bagimu? Bisa lain bagi polisi dan
lain lagi bagi seorang yang ingin menyatakan solidaritas kepada korban.
Mungkin benar: tak ada yang di luar teks dan konteks, seperti kata Derrida.
Apa yang ''nyata'' tak dapat ditilik kecuali dalam pengalaman menafsirkan.
Bahkan seperti dalam film Rashomon, versi si korban pun hanya merupakan salah
satu dari versi yang ada.
Tapi di hadapan orang yang dianiaya, seorang yang mati tak diketahui
sebabnya, dengan perut yang tertusuk, dengan harapan masa depan yang gugur dan
orang tua yang menangis dengan kata lain, seseorang yang kongkret, yang
berdarah dan bersejarah kita tak bisa hanya bicara soal perlu atau tidaknya
tafsir yang pas tentang realitas. Juga kita tak bisa hanya bicara sambil
angkat bahu bahwa soalnya terletak dari mana kau memandang. Kritik terhadap
kecenderungan pemikiran ''post-modern'' ialah bahwa dengan angkat bahu dan
hati ringan itu kita jadi tak perlu lagi berperkara tentang mana yang benar
dan tidak, mana yang sebaiknya dan mana yang jangan. Kita tak bertindak, tak
bersikap.
Kemudian persoalannya: bagaimana di hadapan Marsinah kita bisa bertindak dan
bersikap tanpa melupakan betapa mudahnya seorang korban yang kongkret menjadi
bagian dari sebuah proyek, dan betapa mudahnya sebuah desain menyulap dia
menjadi satu konsep yang abstrak. Sejarah masa lalu penuh contoh bahwa ketika
kita ingin menolong manusia lain, kita begitu yakin akan kebenaran kita
sendiri dalam menganalisa, berteori, dan berencana tentang manusia. Marsinah:
terlalu banyak korban terjadi, juga dari niat baik yang kurang rendah hati.
Goenawan Mohamad
|