Oesman effendi di tim Agenda pertunjukan pameran lukisan di taman ismail marzuki, gedung kesenian
jakarta, edwin's gallery dan pameran hasil karya kerajinan logam tradisional,
serta pementasan teater saja. |
Ini tentu saja bukan orangnya, melainkan karya-karya Oesman Effendi, yang
akan dipamerkan di Ruang Pameran Utama Taman Ismail Marzuki, 17 sampai 31
Agustus nanti. Pelukis Oesman Effendi telah tiada tahun 1985 silam. Pada masa
hidupnya, almarhum dikenal punya pandangan yang kontroversial mengenai
kebudayaan, khususnya seni rupa Indonesia. ''Seni lukis di Indonesia tidak
ada,'' katanya dalam suatu diskusi terbatas tahun 1970.
Tak mengherankan bila ada sejumlah seniman yang merasa disepelekan dengan
ucapan itu. Kendati begitu, sikap Oesman yang kontroversial tak berubah sampai
ia tutup usia. Urang awak itu pernah menjadi anggota Dewan Pekerja Harian
Dewan Kesenian Jakarta dan dosen Akademi Seni Rupa Lembaga Pendidikan Kesenian
Jakarta. Agusta di GKJ Sejak di taman kanak-kanak, pelukis asal Kudus,
Ivanovich Agusta, sudah menunjukkan kegemarannya menggambar. Bahkan,
karya-karyanya pun sudah dipamerkan. Ia terus melesat dengan sejumlah
pengakuan yaitu kemenangan dalam berbagai lomba melukis, baik tingkat
nasional maupun internasional. Kini Agusta sudah berusia 23 tahun. Bagaimana
karya-karyanya? Lihat saja pameran tunggalnya di Gedung Kesenian Jakarta, 20
sampai 31 Agustus mendatang. Di situ ia menggelar 30 lukisan sketsa dan cat
minyak. Batik antarbangsa Jumat malam, 20 Agustus ini, Menteri Pariwisata,
Pos, dan Telekomunikasi Joop Ave membuka pameran lukisan batik di Edwin's
Gallery, Jalan Kemang Raya 21, Jakarta Selatan. Sejumlah torehan malam dalam
kanvas itu adalah karya pelukis batik berbagai bangsa. Antara lain Amri Yahya
dan Ardiyanto Pranata dari Indonesia, Fattaneh N. Mirfendereski dari Iran, Nia
Fliam dari Australia, Hetty van Boekhout dan Loes-Maier- Reudink dari Belanda,
serta pelukis Jepang, Shigeki Fukumoto.
Ardiyanto memperdalam pengetahuan seni rupa pada seorang pelukis Italia.
Lukisan batiknya, selain tersimpan di Museum Jakarta, juga menjadi koleksi
Museum Singapura, Perancis, dan Swedia. Fattaneh dari Iran sebenarnya arsitek
lulusan Universitas Teheran dan Universitas Florence, Italia, tapi ia kemudian
''berbelok'' mendalami seni batik. Tahun 19891991 ia kerap berpameran di Cina
dan Inggris.
Nia Fliam, kelahiran Colorado, adalah sarjana desain tekstil dari Institut
Pratt New York. Kini, bersama suaminya, Nia melatih teknik membatik di
Yogyakarta dan Jakarta, dan pernah berkeliling ke Australia untuk tujuan
tersebut, termasuk melakukan lokakarya untuk seniman Aborigin. Adapun Noel
Dyrenfort, kelahiran London, pernah belajar seni tekstil dan keramik di
berbagai perguruan tinggi di Inggris. Ia mengenal teknik membatik 31 tahun
lalu. Karyanya menjadi koleksi beberapa museum terkenal, antara lain Victoria
and Albert Museum di London dan National Gallery di Melbourne, Australia.
Pameran ini berlangsung sampai 29 Agustus. Kerajinan logam di Bandung Seni
memahat berbagai jenis logam telah lama dikenal dan sampai kini masih menjadi
mata pencarian di pedesaan. Museum Sri Baduga, Bandung, tengah memamerkan
beberapa hasil karya kerajinan logam tradisional sejak zaman prasejarah
sampai zaman modern antara lain perhiasan emas dari berbagai daerah, wadah
sajen dari Cirebon, gong Bogor, kendi tembaga Garut, golok besi Sukabumi, dan
kapak corong dari Subang.
Dalam pameran itu diperkenalkan pula pengolahan emas, perak, tembaga, dan
besi dengan teknik tradisional. Pada zaman baheula, ketika pengatur suhu belum
dikenal, perajin logam mengetahui derajat panas dari warna api pada tungku.
Salah satu yang menarik adalah diperlihatkannya wadah pelebur logam dari abad
ke-1618 yang ditemukan di Banten Lama.
Pameran Pertukangan Logam Tradisional ini berlangsung sejak tanggal 9 Agustus
dan ditutup tanggal 21 Agustus. Kok Godot Teater Saja pimpinan Ikranagara
kembali berpentas bulan ini, tepatnya 2022 Agustus, di Taman Ismail Marzuki.
Lakon yang dimainkan adalah Kok Berani-beraninya Mau Ketemu Godot. Ini bukan
karya Samuel Beckett, melainkan lelucon Ikra yang seolah- olah mau menjawab
Menunggu Godot-nya Beckett.
Terus terang Ikranagara, yang juga aktor dan sutradara teater itu, mendapat
ilham untuk karya terbarunya dari tulisan Beckett, penerima hadiah Nobel dari
Irlandia. Kok Berani- beraninya bercerita bagaimana jati diri tokoh rekaan
Godot itu perang eksistensi dengan tokoh-tokoh lain yang diciptakan Ikra.
Setting dan dekor pementasan Teater Saja ini dibuat dengan menafsirkan
pendapat pakar lingkungan hidup Otto Soemarwoto. Melalui tokoh bernama Kutak
Katik, Ikranagara akan ''memasukkan sebuah pohon ke dalam kepala Anda untuk
menambah koleksi pohon yang sudah ada di dalam kepala Anda masing-masing,''
katanya. Seperti apa maksud Ikra ini, itu bisa ditafsirkan sendiri pada
pertunjukan di Teater Tertutup TIM.
Pementasan Teater Saja ini didukung pemain kawakan seperti Amoroso Katamsi,
Rita Matumona, dan Aty Cancer, selain Ikranagara sendiri. Lalu diperkuat
dramawan Bali, Abu Bakar.
|