Selamat jalan, kak nanny Perintis senam dan balet indonesia telah pergi sebelum karya agungnya untuk
menyambut pon xiii selesai. tapi namarina, yang ia dirikan 37 tahun silam,
akan tetap hidup. |
NAMA Nanny Lubis identik dengan dua hal. Yang pertama adalah sekolah balet
dan senam Namarina. Yang kedua adalah kerja keras yang tak pernah selesai.
Itulah sebabnya salah satu pelopor senam dan balet di Indonesia ini, pada
hari-hari terakhirnya, masih duduk di tengah ruang senamnya untuk mengawasi
murid- muridnya sampai kemudian ia diangkut ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(RSCM). ''Saya tak kuat lagi,'' katanya dua bulan silam.
Tubuh Nanny yang selalu kelihatan segar dan tegap itu baru belakangan
ketahuan digerogoti kanker paru-paru. Tapi justru saat-saat terakhir itulah
yang menggambarkan sosok Nanny Lubis yang jelas. Bahkan, di tempat tidur RSCM,
dengan tangan diinfus, ia masih sibuk membicarakan bagaimana para pengajar
Namarina bisa menyelesaikan penataan gerak senam untuk pembukaan Pekan
Olahraga Nasional (PON) XIII bulan depan.
Meski akhirnya Nanny meninggal dunia Senin pekan silam, ia tampak masih
hidup. Itu disebabkan oleh semangat tinggi yang diembuskan selama 37 tahun di
sekolahnya di Jalan Cimahi, Jakarta.
Tahun 1956, ketika video aerobik Jane Fonda atau Cindy Crawford masih belum
dikenal, Nanny sudah memikirkan bagaimana membuat anak Indonesia menjadi
penari yang baik dan sehat. Lahir sebagai Anistasia di Tegal 67 tahun silam,
dia tumbuh sebagai anak yang doyan menari dan olahraga. Sempat menjadi atlet
lempar cakram, Nanny, bersama Tanneke Burki, menyalurkan kegandrungannya
terhadap seni tari dengan berguru pada instruktur balet Puck Meyer, tahun
1930-an. Melihat bakatnya, Meyer mengusulkan kepada Nanny kecil agar suatu
hari membuka sekolah balet.
Setelah melalui pendidikan di Singapura, Jepang, Jerman, dan Teacher's
Training Course Ballet di London, Nanny memang menjalankan petuah gurunya. Ia
mendirikan Yayasan Namarina tahun 1956, yang belakangan menjadi usaha
perseorangan. Namarina adalah sebuah kalimat Tapanuli yang berarti
''dipersembahkan kepada ibunda''. Berkat kerja keras dan disiplin Nanny itulah
Namarina maju pesat. Dengan 1.500 murid balet dan senam di bawah bimbingan 27
instruktur di tiga tempat di Jakarta, agaknya Namarina bukan saja sekolah
balet tertua yang didirikan orang Indonesia, tapi juga yang terbesar. Farida
Feisol, penari dan creative director sekolah balet Sumber Cipta, menyatakan
kekagumannya kepada Kak Nanny demikian panggilan akrabnya dalam memberikan
pengetahuan tentang balet kepada sejumlah besar muridnya.
Apa kelebihan Namarina? Salah satu kelebihannya, menurut Koreografer dan
Penari Sardono W. Kusumo, adalah karena Namarina tidak hanya menyediakan
pendidikan senam dan balet, ''tapi, yang lebih penting, Namarina juga menjadi
tempat senam dan balet pendidikan''. Ia menambahkan bahwa pendidikan senam di
masa kini juga bisa dilakukan pada tingkat tertentu melalui video Jane Fonda.
''Tapi senam dan balet pendidikan hanya bisa melalui proses yang diajarkan
lewat sekolah semacam ini,'' kata Sardono. Karena targetnya yang jelas dan
memberikan pendidikan yang terkonsep inilah Namarina bisa menjaring banyak
murid.
Apa yang dikatakan Sardono tentang Nanny Lubis, pencipta sendratari balet
Joko Tarub, memang menarik. Meski Namarina menghasilkan nama besar seperti
Maya Tamara, Berthi Tilarso, dan Deddy Luthan, tampaknya ambisi Nanny bukan
sekadar mencetak bintang panggung. ''Tujuan Mami mendirikan sekolah tidak
muluk. Sebatas bisa menyehatkan murid-muridnya dan meningkatkan apresiasi seni
saja sudah cukup, katanya,'' ujar Maya Tamara, anak bungsu Nanny, yang kini
menjadi creative director Namarina.
Tapi, yang disebut ''tidak muluk'' itu pun sebetulnya sangat berat. Selain
seorang pekerja keras, Nanny dikenal sebagai seorang perfeksionis tulen. Meski
tak menari di panggung sejak tahun 1960, ia tetap seorang pengajar yang keras,
dari persoalan prinsip sampai soal yang paling kecil dalam pertunjukan. Dalam
penggunaan point shoes sepatu balet yang memungkinkan penari berdiri dengan
ujung kaki misalnya, Nanny tak ingin gegabah. Ia hanya memperbolehkan
penggunaan sepatu itu bagi muridnya yang sudah mencapai tahun keempat. Sesuai
dengan metode yang pernah diterimanya, penggunaan point shoes yang terlalu
dini bisa mengakibatkan kerusakan pada bentuk tubuh sang penari di kemudian
hari.
Mungkin karena dedikasinya, Ketua Ikatan Pelatih dan Pengajar Balet itu
sering diminta menatar para pelatih balet dan guru- guru senam Persatuan
Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi).
Ketatnya Nanny dengan metode dan pakem balet serta senam juga mendorongnya
mendirikan Namarina Dance Academy (NDA) tahun 1983, yang mensyaratkan muridnya
harus sudah mencapai tingkat senior. Metode yang dipakai sesuai dengan
kurikulum yang digunakan sekolah balet RAD (Royal Academy of Dancing), London.
Maka, setiap ujian, murid NDA ini akan mengikuti ujian dari penguji RAD yang
khusus datang ke Jakarta. Mereka yang lulus berhak memperoleh sertifikat yang
berlaku secara internasional.
Nanny pergi sebelum kerja kerasnya selesai. Penataan gerak senamnya yang akan
dipentaskan saat Pembukaan PON belum selesai. Tapi, seperti dikatakan Sardono,
''Nanny telah menciptakan sebuah sistem, dan yang lain tinggal menjalankan dan
mengisinya.''
Leila S. Chudori dan Bunga Surawijaya
|