Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXIII/14 - 20 Agustus 1993
   
Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Para mahasiswa lembaga ilmu sastra indonesia dan lautan teduh (pasifik) universitas hamburg berkunjung ke Tempo. rombongan diterima oleh herry komar, goenawan mohamad, dan bambang bujono.

ROMBONGAN mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia sudah sering
berkunjung ke kantor kami. Tapi, dua pekan lalu, kami menerima tamu mahasiswa
yang lain dari biasanya. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa pada Lembaga Ilmu
Sastra Indonesia dan Lautan Teduh (Pasifik) Universitas Hamburg, yang
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Rombongan yang
berjumlah 12 orang itu (sembilan orang Jerman dan tiga orang Indonesia)
dipimpin Profesor Rainer Carle.
Salah seorang di antara tiga orang Indonesia itu adalah Mohamad Agav, pemuda
berdarah Sakai (Riau), yang telah bermukim lama di Jerman, dan juga menuntut
ilmu di Lembaga Ilmu Sastra Indonesia dan Lautan Teduh tersebut. Ketika
mahasiswa-mahasiswa Lembaga Ilmu Sastra dan Lautan Teduh ini merancang lawatan
studi ke Malaysia dan Indonesia, beberapa waktu lalu, Agav termasuk salah
seorang yang mengusulkan agar rombongan berkunjung ke TEMPO.
Di TEMPO, rombongan mahasiswa dari Jerman ini diterima oleh Redaktur
Eksekutif Herry Komar, Redaktur Senior Goenawan Mohamad, Redaktur Pelaksana
Bambang Bujono, Redaktur Bahasa Slamet Djabarudi, dan Staf Redaksi Leila S.
Chudori. Hampir dua jam tamu-tamu itu mencecar kami dengan berbagai pertanyaan
(hampir semua disampaikan dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata)
mulai dari soal politik dalam negeri sampai masalah sastra, termasuk
ribut-ribut majalah Horison. Tentang soal yang terakhir ini, para mahasiswa
itu mendapat penjelasan langsung dari mereka yang terlibat dalam penanganan
Horison (baru) tersebut, yaitu Goenawan Mohamad dan Bambang Bujono.
Mengapa rombongan mahasiswa dari Jerman ini memilih TEMPO untuk dikunjungi?
''Majalah TEMPO adalah sumber utama kami untuk belajar tentang Indonesia,''
kata Profesor Carle. Ia menambahkan bahwa kliping TEMPO yang ada di
perpustakaan Lembaga Ilmu Sastra Indonesia dan Lautan Teduh itu tidak hanya
digunakan sebagai referensi oleh mahasiswa Universitas Hamburg, tapi juga
dimanfaatkan mahasiswa Indonesia yang ada di sekitar Hamburg.
Ketika pada akhir pertemuan kami menyerahkan kenang-kenangan berupa plaket
TEMPO, Profesor Carle, selaku pimpinan Lembaga Ilmu Sastra Indonesia dan
Lautan Teduh, membalasnya dengan sebuah tekad. ''Kami dari Lembaga Ilmu Sastra
Indonesia dan Lautan Teduh hanya bisa menyerahkan semangat untuk belajar
mengenai sastra Indonesia di negara kami, Jerman,'' katanya.
Lembaga Ilmu Sastra Indonesia dan Lautan Teduh, menurut Profesor Carle,
adalah salah satu lembaga yang paling tua di Universitas Hamburg. Minat mereka
yang ingin belajar pada lembaga yang berdiri sejak 75 tahun lalu itu, katanya
lebih lanjut, cukup besar. Mereka yang saat ini menuntut ilmu pada Lembaga
Ilmu Sastra Indonesia dan Lautan Teduh tercatat 80 orang 14 orang di
antaranya kandidat doktor.
Apa yang mendorong mereka ramai-ramai belajar sastra Indonesia? ''Negara
Indonesia yang demikian besar ini cukup menarik untuk dipelajari,'' kata Arndt
Graf, salah seorang pengajar pada Lembaga Ilmu Sastra Indonesia dan Lautan
Teduh, memberikan alasan.
Seperti biasanya tamu-tamu yang berkunjung ke kantor kami, rombongan
mahasiswa Lembaga Ilmu Sastra Indonesia dan Lautan Teduh ini juga meninjau
ruang kerja redaksi dan perpustakaan TEMPO.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data