Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXIII/14 - 20 Agustus 1993
   
Nasional

Gebrakan baru silalahi

Sebanyak 65.000 calon pegawai negeri sipil akan digembleng selama tiga bulan sebelum ditempatkan di instansi pemesan. apa yang ingin dicapai?

INILAH gebrakan baru Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara T.B. Silalahi:
sekitar 65.000 calon pegawai negeri akan digembleng selama tiga bulan sebelum
ditempatkan di instansi yang akan mempekerjakan mereka. Calon pegawai negeri
ini antara lain akan dilatih baris-berbaris. Ada apa dengan pegawai negeri
kita? Di ruang kerjanya, Jumat dua pekan lalu, Menteri Silalahi menjelaskan
gagasannya kepada wartawan TEMPO, Herry Komar, Ahmed Kurnia Soeriawidjaja, dan
Toriq Hadad. Petikannya:
Dari mana datangnya ide seleksi ketat calon pegawai negeri ini?
Salah satu tugas Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara adalah menciptakan
aparatur yang bersih dan berwibawa. Ini berkaitan dengan pelayanan aparatur
kepada masyarakat. Kurangnya pelayanan kepada masyarakat adalah akibat kurang
bersih dan kurang profesionalnya aparatur. Seandainya aparatur itu berwibawa,
bersih, dan profesional, niscaya pelayanan kepada masyarakat akan baik. Bicara
tentang aparatur adalah bicara tentang pembinaan yang panjang. Langkah ini
perlu dimulai dari awal, dari bahan bakunya, yaitu calon pegawai negeri. Kalau
bahan bakunya sudah bagus, otomatis aparaturnya betul. Itu pokok-pokok
pikirannya.
Bagaimana kondisi bahan baku calon pegawai negeri sekarang?
Pada waktu Prasetya Perwira (pelantikan perwira muda ABRI) baru-baru ini ada
sekitar 700 orang calon aparatur yang tangguh. Ini suatu elite sendiri. Tak
lama lagi juga akan ada lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri.
Mereka ini juga calon aparatur tangguh karena sudah digembleng bertahun-
tahun. Tapi harus diingat, tahun ini saja Pemerintah menerima 65 ribu pegawai,
dan yang tergolong tangguh tadi baru kira-kira seribu orang. Bagaimana dengan
sisanya, yang sistem penerimaan mereka cuma lewat ujian tulis, saringan
administrasi, dan wawancara? Mereka memang mengikuti penataran P-4, ada
prajabatan selama 75 jam, dan percobaan (maksimal) dua tahun, tapi setelah itu
selesai begitu saja.
Kabarnya, nanti calon pegawai negeri akan dilatih baris- berbaris.
Kedengarannya seperti memiliterkan pegawai negeri....
Baris-berbaris itu hanya salah satu dasar untuk membentuk sikap orang. Kalau
orang pernah dilatih baris-berbaris sikapnya akan baik, badannya tegap,
simpatik. Jadi, bukan untuk membuat mereka menjadi militer. Dari segi mental,
selama tiga bulan pendidikan itu akan kelihatan kedisiplinannya.
Sekarang ini banyak keluhan pegawai negeri masuk kantor pukul 09.00 atau
pukul 10.00. Itu karena mereka tidak terlatih, tidak bisa mendisiplinkan diri
harus masuk pukul 08.00. Mereka ini yang selama tiga bulan akan dibiasakan
dengan disiplin, seperti bangun pukul 5 pagi dan sebagainya. Selama masa
latihan, mereka diawasi secara ketat dan dinilai. Kalau tidak lulus, keluar.
Selama ini hampir semua lulus.
Mengapa anggaran latihan begitu besar?
Kalau dihitung, sebenarnya tak terlalu besar. Dengan memberikan ''gaji'' awal
tiga atau empat bulan, akan didapat tenaga bagus yang bakal dipakai selama 30
tahun masa kerja. Ini semacam investasi. Jadi, jangan hanya dilihat Rp 40
miliarnya, tapi kepentingannya.
Kalau soalnya mental, apakah sudah diteliti jam berapa pegawai negeri masuk
kantor dan berapa jam mereka efektif bekerja? Apa soalnya bukan pada urusan
ekonomi, misalnya, gaji yang kurang, sehingga mereka perlu ngobjek di luar
kantor? Mana yang dulu harus diberesi?
Nomor satu, kita memang harus berbicara soal idealisme. Dulu, waktu pemimpin
kita berjuang melawan Belanda, mereka memakan apa yang dimakan anak buahnya.
Pak Dirman (maksudnya: Jenderal Sudirman) dan prajuritnya keadaannya sama. Pak
Dirman kan dulu ditandu, tidak pakai Volvo.
Benar, idealisme itu saja tak cukup. Namun, kalau bicara gaji, bayangkan
betapa beratnya beban negara kalau harus menaikkan gaji 3,5 juta pegawai
negeri sebesar Rp 10.000 per orang. Tiap bulan butuh anggaran Rp 35 miliar.
Maka, Pemerintah tetap mengusahakan meningkatkan kesejahteraan dalam arti
luas, dengan memikirkan masa depan mereka, seperti kenaikan pangkat tidak
dipersulit, dan sebagainya.
Ada hal-hal yang membuat pegawai negeri tak terlalu bersemangat. Di beberapa
daerah, jabatan bupati pasti dijabat ABRI. Begitu juga sejumlah pos lainnya.
Bukankah ini membuat semangat kompetisi mereka turun?
Sebenarnya, yang dijabat oleh ABRI itu terbatas. Kalau bupati itu, kan yang
memilih rakyat. Sekarang kan sudah banyak bupati dari sipil. Tentang pos
irjen, umumnya karena menteri yang minta. Pangab tidak pernah mem-push supaya
anak buahnya ditempatkan di pos-pos tertentu.
ABRI baru saja mencanangkan back to basics. Apakah ide Anda ini mendapat
inspirasi dari situ?
Ini memang ada kaitannya dengan latar belakang saya sebagai seorang militer.
Ketika saya diminta untuk membantu Presiden, saya berpikir: Lo, saya ini
adalah orang militer pertama yang menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara. Sebelum saya, pos ini dijabat oleh menteri-menteri sipil (Mereka
adalah J.B. Sumarlin, Emil Salim, dan Sarwono Kusumaatmadja Red). Mungkin Pak
Harto menginginkan saya menyiapkan pegawai negeri yang mentalnya baik. Untuk
diketahui, saat ini ada 1.000.000 orang yang melamar ingin jadi pegawai
negeri.
Kapan program latihan tiga bulan itu dimulai?
Anggaran untuk ini cukup besar, jadi harus masuk APBN, sehingga baru bisa
dimulai tahun depan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data