Dukungan baru buat soerjadi 25 dpd pdi (kecuali jakarta dan riau) mendukung ketua umum (terpilih)
soerjadi. rencana alex asmasoebrata mengumpulkan dpd pdi seluruh indonesia,
yang sedianya pekan ini, ditunda. |
BERHARI-hari Soerjadi diserang kanan-kiri. Kendati ia terpojok, upaya
penggulingannya itu belum membuatnya keok. Ketua Umum (terpilih) PDI yang
kedudukannya kini disengketakan itu tampak ceria ketika menyambut rombongan
DPD PDI Timor Timur di rumah dinasnya, di kompleks pejabat tinggi, Kuningan,
Jakarta, Kamis malam pekan lalu.
Basa-basinya, pimpinan PDI Timor Timur itu mau pamitan. Sejak Kongres IV PDI
di Medan berakhir Ahad dua pekan silam, mereka tak langsung mudik. ''Kami
menunggu perkembangan,'' ujar Gabriel Da Costa, Ketua DPD PDI Timor Timur.
Lantaran tak kunjung ada kepastian mengenai nasib kepemimpinan PDI yang
dipilih kongres, Da Costa bersama sejumlah pengurus 13 DPC PDI di seluruh
Timor Timur akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke kampung.
Tapi, sebelum pulang, mereka merasa perlu menggelar kebulatan tekad. ''Kami
menganggap Kongres IV PDI di Medan, dan segala keputusannya, sah,'' ujar Da
Costa. Karena itu, mereka tetap mendukung Soerjadi kembali memimpin PDI sampai
1998. ''Tak ada alasan bagi kami untuk menarik kesepakatan itu,'' tambah John
Lake, Ketua DPC PDI Ainaro.
Dukungan terhadap Soerjadi dari Timor Timur ini merupakan kebulatan tekad
kedua di hari yang sama. Paginya, Antonius Rahail, Ketua DPD PDI Irian Jaya,
dengan mengatasnamakan 25 DPD PDI, menyatakan tetap ingin mempertahankan
keputusan Kongres IV. Mereka dengan tegas menolak gagasan Menteri Dalam Negeri
Yogie S. Memed mengenai pembentukan caretaker sebagai pengurus sementara DPP
PDI.
Kebulatan tekad 25 DPD PDI, yang dirancang selama dua malam di rumah orang
kepercayaan Soerjadi, Dimmy Haryanto, di kompleks perumahan DPR RI Kalibata,
mencapai kata sepakat setelah tokoh-tokoh PDI dari 25 daerah itu mengikuti
kesaksian Ketua Umum PDI (terpilih) tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan, Senin pekan silam. Mereka kelihatan optimistis Soerjadi tak terlibat
penculikan Edi Sukirman, anggota Pemuda Demokrat, beberapa waktu lalu.
Dukungan 25 dari 27 DPD PDI (yang tidak hadir DKI Jakarta dan Riau) bisa
dijadikan petunjuk bahwa kepemimpinan Soerjadi masih berakar di cabang-cabang.
Padahal, dua hari seusai Kongres IV, Menko Polkam Soesilo Soedarman menilai
forum tertinggi PDI itu berjalan tak wajar. Maka, katanya, Pemerintah akan
memberi izin dan bantuan untuk menyelenggarakan kongres luar biasa. Ia juga
menganggap Soerjadi gagal memimpin PDI.
Selang beberapa waktu kemudian, Menteri Yogie S. Memed turut menggulirkan ide
kongres luar biasa PDI. Ia bahkan menyinggung soal perlunya caretaker sebagai
pengurus sementara, sekaligus menyiapkan penyelenggaraan kongres luar biasa.
Belakangan Yogie mengatakan pula bahwa kepemimpinan PDI vakum. Istilah vakum
ini tampaknya sebuah petunjuk bahwa Yogie, sebagai pembina politik, tidak
setuju atas terpilihnya kembali Soerjadi. Suara ABRI? Tak jauh berbeda.
Sementara itu, entah siapa yang merekayasa, keinginan menggulingkan Soerjadi
dari kalangan PDI sendiri juga cukup gencar. Tiga anggota beken Fraksi PDI di
DPR Aberson M. Sihaloho, Soetarjo Soerjogoeritno, dan Budi Hardjono ikut
mendukung ide Menteri Yogie. Ketiga pesaing Soerjadi di bursa ketua umum PDI
minta kongres diulang. Tuntutan serupa disuarakan pula oleh seteru Soerjadi
lainnya seperti tokoh- tokoh senior yang tergabung dalam Kelompok 17 dan PDI
Peralihan.
Tudingan bahwa Kongres IV PDI itu cacat, kalau dicari-cari, cukup beralasan.
Sejumlah keputusan lahir tanpa disahkan sidang pleno. Lalu, Soerjadi dipilih
secara aklamasi sebagai ketua umum tiga hari lebih cepat dari jadwal yang
disepakati dalam tata tertib persidangan. Ketua DPD PDI Jakarta, Alex
Asmasoebrata, bahkan telah menyiapkan manuver untuk mengumpulkan ketua-ketua
DPD PDI di Jakarta guna beramai-ramai minta Pemerintah turun tangan membentuk
caretaker karena Kongres IV PDI dinilainya gagal. Betulkah keputusan yang
ditelurkan Kongres IV sebuah cacat yang parah?
Kelompok Soerjadi, yang dituduh merekayasa pemilihan ketua umum tadi,
menjawab bahwa pleno untuk sejumlah keputusan tak bisa dilaksanakan karena
ruang sidang utama diduduki barisan anti-Soerjadi. Sebagai gantinya, utusan
cabang telah meneken keputusan itu. Soal Soerjadi terpilih lebih cepat, kata
mereka, itu kehendak pleno, yang merupakan forum tertinggi di kongres. ''Jadi,
ya boleh saja begitu,'' kata Dimmy Haryanto, yang menyayangkan sikap petugas
keamanan yang dianggapnya memberi angin bagi kelompok anti-Soerjadi untuk
menduduki ruang sidang.
Melihat suara mayoritas DPD PDI masih mendukung Soerjadi, seperti terlihat
dari pertemuan Kamis malam pekan lalu, Alex dan kawan-kawannya terpaksa
berpikir dua kali. Pertemuan 27 DPD PDI yang dirancang Alex akan dilaksanakan
pada 7-8 Agustus terpaksa diundur, tak jelas sampai kapan, karena sampai Sabtu
siang pekan lalu tak satu pun utusan daerah yang datang. ''Alex terlalu
terburu-buru. Nanti skenario malah rusak,'' kata seorang kawan dekat Ketua DPD
PDI Jakarta itu.
Lalu, skenario apa lagi yang bakal dimainkan di pentas PDI? Kelompok
anti-Soerjadi kabarnya akan membuat suasana sedemikian rupa agar Pemerintah
turun tangan membentuk caretaker. Soerjadi, sekalipun tak terang-terangan
beraksi, tampak juga sudah pasang kuda-kuda. ''Saya memang di rumah saja, tapi
saya tak cuma tidur,'' ujarnya.
Putut Trihusodo dan Iwan Qodar Himawan
|