Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXIII/14 - 20 Agustus 1993
   
Lingkungan

Rimba damar sebagai etalase hutan

Menteri djamaloedin menetapkan hutan damar krui, lampung barat, sebagai hutan percontohan yang dikelola rakyat. hutan itu lestari, walau getahnya disadap sepanjang tahun.

DI negeri ini, ternyata tidak semua petani ''gemas'' melihat hutan dan
lantas membabatnya. Petani Krui di Kabupaten Lampung Barat, misalnya. Mereka
justru melestarikan hutan, yang di Krui merupakan hutan damar.
Krui terdiri atas lima kecamatan, berbatasan dengan hutan lindung Taman
Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Menteri Kehutanan Djamaloedin, yang
berkunjung ke hutan ini awal Juni lalu, menetapkan Krui sebagai ''ruang
peraga'' untuk hutan binaan rakyat yang harus dicontoh penduduk di kawasan
lain.
''Siapa yang ingin melihat petani hidup akrab dengan hutan, silakan datang ke
Krui,'' ujar Menteri, menyuarakan kesung guhan. Sejak itu, sejumlah pejabat,
baik dari pusat maupun daerah, silih berganti masuk hutan Krui, yang damarnya
tersohor sejak zaman kolonial Belanda. Terakhir, 28 Juli lalu, tiga dirjen di
lingkungan Departemen Kehutanan juga meninjau ke sana.
Kenapa hutan damar Krui bisa lestari? Jawabnya, pohon damar (shorea
Javanicus) memberi nafkah bagi penduduk. Getah damar, yang merupakan bahan
baku untuk batik, korek api, pernis, lak, dan larutan pengawet, sudah lama
menjadi bagian kehidupan penduduk sehari-hari.
Saat fajar menyingsing, tua-muda keluar rumah menggendong bakul di punggung,
seutas tali rotan dan golok terselip di pinggang. Alat-alat itu diperlukan
untuk menyadap getah damar.
Memanjat pohon damar yang tinggi dan besar (batangnya rata- rata selingkar
tangan) bukanlah pekerjaan sulit. Sambil bersandar di tali rotan yang
dibelitkan ke pohon dan kaki bertumpu di pokok kayu, mereka pun mencungkil
getah damar kering dari lubang kayu yang mereka buat.
Selesai membersihkan lubang itu, mereka melubangi lagi bagian lain agar
getahnya keluar untuk disadap bulan berikutnya. ''Kalau pohonnya tidak
dilukai, getahnya tidak akan keluar,'' ujar Mohammad Erson, 45 tahun, petani
di kawasan hutan itu.
Bagi ayah empat anak ini, menakik getah damar adalah warisan turun-temurun.
''Hampir semua petani di sini punya kebun damar yang dibiarkan berubah menjadi
hutan,'' ujar Erson. Memang, tunas damar bisa tumbuh subur tanpa dipupuk dan
disiangi. Hanya saja, yang menanamnya harus sabar menunggu dua puluh tahun,
barulah damar bisa ditakik getahnya. Dan saat itu, ''kebun'' damar sudah
berubah menjadi hutan.
Ermon punya 200 pohon damar yang sudah berproduksi di atas lahan satu
hektare. Tiap bulan ''kebun'' itu memberinya 250 kg getah damar kering yang
dihargai Rp 700 per kg. Tentu saja ia tidak bisa hidup hanya dari getah damar.
''Menyadap damar cuma sampingan. Mata pencaharian pokok saya bertani padi di
sawah,'' ujar Ermon kepada Kolam Pandia dari TEMPO. Dan rupanya, hampir semua
petani di sana berkebun damar.
Setiap Ahad, suasana Desa Laay dihuni 151 keluarga bagaikan suasana piknik.
Para remaja ramai-ramai memanjat pohon damar. Lalu hasilnya dijual ke pasar.
''Orang tua tak perlu lagi memberi uang jajan ke anaknya. Bahkan hasil menjual
damar cukup untuk biaya sekolah,'' ujar Ny. Jauni Asma, 54 tahun, Kepala Desa
Laay.
Menjual damar juga tidak sulit. Pasar damar selalu bagus karena komoditi itu
senantiasa dicari orang.
Karena itu, tak seorang penduduk akan menebang pohon damar. Padahal, kualitas
kayunya bagus untuk bahan bangunan. ''Pohon damar bisa memberi hasil selama ia
bergetah, tanpa musim, sampai ratusan tahun,'' ujar Nasah, seorang warga Krui.
Getah damar kering Krui disebut ''damar mata kucing''. Mungkin karena
bentuknya bulat dan ukurannya rata-rata sebesar mata kucing. ''Kualitasnya
baik dan harganya pun mahal,'' ujar Broto Sumadyo, Kepala Perencanaan Dinas
Kehutanan Provinsi Lam pung. Penduduk Krui menamainya ''damar kaca'', karena
jernih sebening kaca.
Damar jenis ini secara alami baru berproduksi setelah mencapai umur 20 tahun.
Tapi Broto optimistis, dengan teknik kultur jaringan, damar bisa berproduksi
lebih cepat. ''Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen
Kehutanan tengah meneliti kemungkinan pohon damar bisa berproduksi kurang dari
20 tahun,'' ujarnya.
Di Lampung Barat, pohon damar tersebar di pesisir seluas 44.120 hektare. Tapi
berapa hektare luas hutan yang dikelola rakyat, belum tercatat resmi. ''Kami
masih menginventarisasi,'' kata Broto.
Pohon ini tumbuh pula di kawasan TNBBS. Yang menarik, damar juga tumbuh
menghutan di luar taman nasional, satu hal yang bisa terjadi karena penduduk
membudidayakannya atas inisiatif sendiri. Itu sebabnya, hutan lindung tak
pernah diusik.
Sebagai tanaman konservasi, pohon damar cocok untuk daerah pesisir berlereng
tinggi. ''Akarnya kuat, daunnya berlilin sehingga tidak banyak terjadi
penguapan,'' ujar Broto. Tapi entah mengapa, damar mata kucing seperti enggan
tumbuh di tempat lain.
Petani di kawasan hutan Pulaupanggung dan Kotaagung, yang cuma berjarak
sekitar 100 km dari Krui, justru lebih tertarik menanam kopi ini pilihan yang
wajar karena kopi dalam dua tahun sudah bisa dipanen. Tapi lalu timbul masalah
lain, yakni ketika sebagian hutan damar berubah jadi kebun kopi, yang jadi
sengketa berkepanjangan antara petani dan petugas kehutanan.
Kini Balitbang Dephut tengah menjajaki kemungkinan, apakah bisa menularkan
kebiasan penduduk Krui dalam berkebun damar ke perambah hutan lindung.
Masalahnya, bagaimana mereka bisa menunggu sampai 20 tahun.
Hasan Sukur


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data