Menggertak si dara kambing Profesor soenarjo membuat terobosan untuk mengatrol populasi kambing, dengan
cara membuat si kambing betina hamil dini. berbahayakah itu? sang profesor
punya teknik ''gertak birahi''. |
HAMIL dini memang bisa bikin pusing rumah tangga. Tapi jika yang hamil muda
itu kambing, ini akan menguntungkan peternak. Adalah Prof. Soenarjo, guru
besar ilmu reproduksi ternak dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed),
Purwokerto, Jawa Tengah, yang kini getol mengampanyekan kehamilan dini kambing
betina.
''Ini terobosan untuk mengatrol populasi,'' ujar Soenarjo. Makin muda mereka
bunting, menurut dia, berarti masyarakat kambing lebih produktif dilihat dari
sudut penyediaan dagingnya
Secara alamiah, kambing betina umur 7-8 bulan masih malu-malu melakukan
kencan dengan lawan jenis. Mereka baru berani memadu cinta setelah cukup
dewasa, 1,5 2 tahun. Soenarjo punya teknik baru mendewasakan betina belia
itu, dengan cara yang dikembangkannya sendiri, dan disebutnya ''gertak
berahi''.
Dua pekan lalu, misalnya, di muka sekitar 200 peternak kambing di Balai Desa
Paketing, Sampang, Cilacap, Soenarjo memamerkan teknik gertak berahinya.
Seekor betina muda dipeluknya. Lalu dia mencelupkan potongan karet busa ukuran
1 x 1 x 1 cm3 ke dalam larutan khusus: campuran minyak kelapa dan bahan kimia
estradio bensoat. Kemudian karet busa, yang diberi tali benang, dimasukkan ke
liang vagina sedalam 5 cm., dan benang dibiarkan berjuntai di luarnya.
''Apa kambing itu tidak kegelian?'' tanya seorang petani. ''Ya, memang
dibikin geli. Biar terangsang berahi,'' jawab ahli reproduksi ternak yang
meraih gelar doktor dari Institut Pertanian Bogor. Setelah 20 menit karet busa
itu ditarik keluar.
Kemudian sperma beku kambing jantan disemprotkan dengan alat inseminasi ke
vagina betina itu. ''Mudah-mudahan kambing ini bunting,'' ujarnya, dan
disambut keplok riuh peternak.
Soenarjo mulai memikirkan cara baru itu setelah melihat bahwa populasi
kambing di sekitar Purwokerto menyusut perlahan. Sebabnya laju kelahiran cempe
di bawah laju permintaan daging kambing. Ini ditambah dengan kenyataan bahwa
perkawinan alamiah sulit terjadi karena jumlah betinanya 20 kali dari jantan.
Yang jantan sering mati muda, disembelih.
Konsumsi daging kambing tentu tak bisa dicegah. Maka, yang bisa dilakukan,
menurut Soenarjo, ialah meningkatkan kelahiran, mengatrol frekuensi
kebuntingan. Bunting dini menjadi satu alternatifnya mengingat pada umur 8
bulan organ reproduksi kambing betina telah siap bekerja, siap menerima janin
dan beranak.
Memang ada problem kecil. Kambing yang mulai bunting pada umur 8 bulan, dan
beranak 5 bulan kemudian, belum banyak punya stok susu untuk anaknya. Jalan
keluarnya: anak kambing itu diberi makanan ekstra, yaitu tajin, air rebusan
beras. ''Itu memang kebiasaan para peternak kita,'' ujar Soenarjo. ''Itu cukup
menjamin pertumbuhan si jabang kambing.''
Teknik gertak berahi itu tak harus diikuti dengan inseminasi buatan. Bisa
saja kambing muda langsung dicampurkan dengan jantan dewasa, kalau memang ada.
Dengan rangsangan lewat ''gertak berahi'' betina kencur ini tidak malu-malu
menjalin cinta kendati ia sama sekali belum berpengalaman. Pokoknya, rekayasa
ala Prof. Soenarjo bisa membuat betina-betina hijau itu menjadi berani,
agresif.
Ramuan Soenarjo itu bukannya tidak dilandasi alasan ilmiah. Estradio bensoat
yang dimasukkan ke vagina kambing bekerja sebagai hormon sistetis yang
berfungsi seperti estrogen. Hasilnya, kambing yang diolesi hormon sintetis
mengalami ovulasi, sel telurnya matang, dan siap dibuahi, setelah beberapa
puluh menit, kalau tidak beberapa jam. Pada kondisi ini, dorongan seksual si
dara menggebu.
Minyak kelapa dipilih oleh Soenarjo karena bisa menjadi pelarut yang baik
bagi estradio bensoat, selain bisa membantu melicinkan penetrasi karet busa ke
dalam vagina. Karet busanya sendiri bermanfaat memberikan rangsangan fisik
untuk si dara kambing.
Sebetulnya, hormon sintetis bisa disuntikkan ke tubuh kambing betina. Namun,
dikhawatirkan itu bisa mendatangkan efek residu, bila sewaktu-waktu hewan itu
dipotong. Sebab, estradio bensoat, kendati masa aktifnya dua hari, umurnya
bisa panjang di dalam tubuh kambing. Ia tak mudah diurai. Gara-gara suntikan
itu, bahan kimia itu bisa berpindah ke tubuh manusia. ''Olesan langsung ke
vagina bisa meniadakan dampak buruk itu, tanpa mengurangi kemujarabannya,''
kata Soenarjo.
Jurus gertak berahi itu, kata Soenarjo, tak hanya berguna untuk misi hamil
dini. Betina dewasa pun bisa memanfaatkannya. Dengan olesan minyak itu, betina
yang biasanya baru bisa bunting setelah anaknya berumur 1 tahun bisa 7-8 bulan
lebih cepat. ''Jadi, dalam 13 bulan kambing bisa melahirkan dua kali,''
katanya.
Teknik gertak berahi ala Sunarjo, dikombinasikan dengan inseminasi buatan,
telah dicoba di Kabupaten Banyumas setahun terakhir. Hasilnya 110 bayi kambing
lahir selamat. Tingkat keberhasilannya, menurut Purwati, Kepala Bina Program
Dinas Peternakan Banyumas, amat tinggi. ''Keturunannya pun bagus, besar dan
sehat,'' katanya. Maklum, dalam inseminasi itu Soenarjo menggunakan benih
sperma kambing unggul, berukuran besar, jenis Jawa Randu atau Etawa.
Satu ampul estradio bensoat harganya hanya Rp 350, dan bisa dipakai untuk 10
ekor betina. Dinas Peternakan Banyumas pun telah melatih sejumlah penyuluh
lapangnya dengan teknik baru itu.
Putut Trihusodo dan Heddy Lugito
|