Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXIII/14 - 20 Agustus 1993
   
Film

Sebuah kisah cinta yang lain

Sutradara & skenario : neil jordan pemain : stephen rea, miranda richardson, jaye davidson. produksi : palace pictures. resensi oleh : leila s. chudori

PADA akhirnya cinta tak mengenal warna. Bahkan bagi Fergus (Stephen Rea),
cinta bisa tak mempedulikan jenis kelamin.
Di Irlandia Utara, hidup dengan cinta dan ketulusan adalah kemewahan.
Sehari-hari, rakyat Irlandia Utara menghirup udara penuh bau darah. Mereka
bangun pagi dengan rasa cemas jangan- jangan pintu digedor-gedor. Atau,
mendadak harus tiarap terjadi tembak-menembak antara para ''pejuang
kemerdekaan'' (gerilyawan Irish Republican Army atau IRA) dan ''penjajah''
(tentara Inggris).
Bagi Fergus, hari-harinya di Belfast diisi dengan tugas menculik, menangkapi,
menjebak, dan akhirnya membunuh mereka yang dikategorikan penjajah. Ia seorang
sukarelawan IRA yang siap menerima tugas apa pun. Siang itu tugasnya, bersama
Jude (Miranda Richardson), menjebak seorang tentara Inggris berkulit hitam.
Jude, aktivis IRA yang fanatik, berambut pirang dan bertubuh seksi, memancing
sang tentara dengan paha dan dadanya, lalu Fergus tinggal menghantamnya.
Jody (diperankan dengan baik oleh Forest Whitaker), tentara Inggris itu,
tergoda. Ia disergap, disandera. Yang diinginkan para aktivis IRA saat itu
pertukaran Jody dengan beberapa rekan mereka yang ditahan tentara Inggris.
Dengan karung yang menutupi seluruh wajahnya, Jody mencoba mengenali suara
orang- orang yang menculiknya. ''Bukalah karung ini, saya tak bisa bernapas.
Saya tahu kau orang baik,'' katanya membujuk Fergus. Fergus mengabulkan
permintaan itu.
Lalu mereka mulai berbincang seperti dua kawan lama. Kata Jody, sebagai orang
hitam, dia pun kaum minoritas tertindas di Inggris. Fergus terkesan. Perlahan,
keakraban pun tumbuh. Mereka toh manusia juga yang merindukan perdamaian dan
cinta.
Keistimewaan Neil Jordan sebagai sutradara sudah terbukti pada film-film
sebelumnya, seperti Mona Lisa dan The Company of Wolves. Tak heran jika film
ini mendapatkan enam nominasi piala Oscar. Tak seperti film-film Holywood yang
mengandalkan film- film keras, Jordan memilih jalan sederhana. Ia mengandalkan
gambar-gambar sunyi, dialog yang menyentuh, dan kemampuan akting pemain.
Dengan hanya memperlihatkan Belfast yang kumuh, kotor, miskin, dan berlumur
darah, Jordan telah menggambarkan betapa kerasnya hidup di Irlandia Utara.
Sebagai pendongeng yang fasih dan lancar, Jordan layak mendapatkan piala
Oscar untuk skenario terbaik. Mungkin karena ia juga novelis Irlandia yang
terkenal di Eropa, Jordan mampu menceritakan kompleksitas tokoh-tokohnya
dengan cemerlang. Fergus, sukarelawan IRA yang bertugas menghabisi nyawa
orang, ternyata memiliki hati yang lembut. Ia kian ragu apakah ia tega
membunuh tawanannya, seorang yang penuh peri kemanusiaan.
Tapi bagaimanapun Jody, yang peka itu, tahu bahwa ia akan mati di tangan IRA.
Permintaannya yang terakhir, agar Fergus bersedia mengunjungi kekasihnya yang
jelita di London. ''Ia bekerja di salon Millie's. Setiap sore ia menyeruput
margarieta di pub Metro.''
Dan margarieta adalah yang dipesan Fergus di pub Metro London, ketika ia
membuntuti Dil (Jaye Davidson), kekasih Jody yang jelita dan menggairahkan.
Mungkin, Fergus terus-menerus mengikuti Dil karena campuran rasa bersalah
dengan ketertarikannya pada kecantikan Dil. Dengan nama dan penampilan baru,
Fergus menjalin hubungan dengan Dil. Meskipun bayang- bayang Jody selalu
bermain di benaknya, Fergus tak kuasa menahan diri dari daya pikat Dil.
Akhirnya, problem sosial politik yang semula menjadi tema utama film ini
pudar. Penonton diberi kejutan seksual. Ternyata, Dil adalah seorang waria
yang mengabdikan dirinya pada Jody sepenuh hati dan kini jatuh cinta pada
Fergus.
Paruh kedua film ini memang berfokus pada Dil, hampir melupakan segala hal
yang berkenaan dengan perjuangan IRA. Adalah kemunculan Jude, rekan lama
Fergus di IRA, yang mengagetkan dan mendadak, yang membawa penonton mengingat
kembali perjuangan IRA. Jude, pejuang yang keras, fanatik, dan berdarah dingin
menuntut Fergus untuk aktif dalam perjuangan mereka. ''Sekali kau masuk ke
dalam kehidupan perjuangan, kau tak akan bisa keluar.''
Sisanya adalah ketegangan yang beruntun antara adegan pembunuhan terhadap
seorang hakim dan pengakuan Fergus pada Dil tentang masa lalunya. Jordan
mengemasnya dengan rapi dan lengkap dengan ketegangan yang mencekam. Pada saat
itulah Fergus menyadari bahwa meski kecewa bahwa Dil bukan seorang wanita, ia
tetap menyayanginya. Pada akhirnya, cinta adalah masalah ketulusan nurani.
Sebenarnya pada adegan yang begitu sublim dan mengharukan ini, Jordan sudah
bisa menutup filmnya. Tapi ia rupanya memilih ending gaya Hollywood. Fergus
dan Dil berbincang dari balik kaca dengan penuh kemesraan. Sebuah adegan yang
terlalu verbal, yang merusakkan adegan-adegan sebelumnya yang begitu halus dan
mengharukan.
Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data