Keluarga Beberapa ahli ilmu politik berpendapat bahwa indonesia lebih menganut pola
korporatisme eksklusioner yang memusatkan segalanya di tangan aparat negara. |
KELUARGA adalah sebuah impian tentang kerukunan. Meskipun yang kita dengar
tentang itu sering berbeda: dalam cerita terkenal tentang keluarga pertama
manusia, konflik antara Kain dan Abil yang seibu dan seayah berakhir dengan
kematian.
Tapi mungkin justru karena itu kita berharap yang sebaliknya. Maka lahirlah
sebuah ide tentang keluarga yang aman, tenteram, damai, banyak rangkul, banyak
senyum. Kata ''kekeluargaan'' dalam kamus politik kita sebuah kosakata yang
penting dewasa ini menunjukkan ide yang berdasarkan harapan seperti itu.
Artinya: bukan ''liberalisme''. Artinya: bukan ''kediktaturan''. Artinya:....
Artinya sebuah sistem yang rada lain dari yang lain. Tapi agaknya tidak khas
Indonesia. Alfred Stepan, seorang ahli ilmu politik yang mempelajari
negeri-negeri Amerika Latin, pada tahun 1978 berbicara tentang organic
statism. Dalam model ini, pelbagai bagian masyarakat dilihat sebagai sesuatu
yang secara kodrat bersatu dalam suatu bangunan politik yang harmonis. Negara
memegang pimpinan yang kuat dan menentukan. Masyarakat diatur dalam
kelompok-kelompok fungsional yang tak bersaing satu sama lain. Pertentangan
kelas dianggap tak ada. Juga suara individu.
Dengan kata lain, sebuah ''korporatisme''. Di sini pernyataan kepentingan
yang spontan ditiadakan: semuanya harus melalui ''saluran yang sudah
ditentukan''. Ada kelompok-kelompok yang, dalam jumlah terbatas, diakui untuk
berhubungan dengan aparat pemerintah secara teratur dan diatur.
Kelompok-kelompok ini umumnya berupa perhimpunan masyarakat yang menyuarakan
suatu jenis fungsi dan kepentingan, tetapi yang pimpinannya lazimnya direstui
pemerintah: buruh, tani, pengusaha....
Sebuah demokrasi? Mungkin kata ''demokrasi'' harus dihindari di sini. Stepan
hanya membedakan dua macam korporatisme. Yang pertama korporatisme yang
''eksklusioner''. Yang kedua yang ''inklusioner''. Yang pertama ditandai oleh
lebih besarnya pengawasan oleh negara dan itu berarti lebih kuatnya
pengekangan. Yang kedua lebih banyak ruang untuk masukan dari masyarakat,
namun hanya melalui perhimpunan-perhimpunan kerja yang dianggap sah. Dan tentu
saja negara tetap dominan.
Tentu, Anda melihat bahwa model organic statism banyak cocoknya dengan model
''kekeluargaan'' Indonesia. Beberapa ahli ilmu politik juga berpendapat
demikian. Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Asia Research Centre
bulan lalu di Perth, Australia Barat, Dr. Andrew MacIntyre mengemukakan itu.
Dan ia melihat ke depan: suatu keadaan ''eksklusioner'' yang memusatkan
segalanya di tangan aparat negara dan menyisihkan banyak unsur keikutsertaan
masyarakat pada akhirnya akan repot untuk Indonesia.
Tapi yang akan muncul dalam masa sepuluh tahun mendatang bukanlah sebuah
''demokratisasi''. Partai-partai politik tetap tak akan bersaing bebas dalam
pemilihan umum. Organisasi- organisasi sosial tak akan menjadi lebih cair
mengalir dan kompetitif. MacIntyre tampaknya tak melihat bahwa pertumbuhan
ekonomi, yang dikaitkan dengan tumbuhnya kelas menengah yang menurut teori
adalah pendorong demokratisasi akan membuat perubahan besar pada sistem yang
ada. Apa yang terjadi di Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand mungkin tak akan
terjadi di sini.
Lalu apa? Jawabnya: perubahan yang ad hoc, yang berdikit- dikit, dan khusus
sifatnya untuk setiap sektor kehidupan. Dengan kata lain, Indonesia akan lebih
ke arah korporatisme yang ''inklusioner''.
Dalam gambaran masa depan ini, tak ada bunga meriah bagi para demokrat yang
tak sabar. MacIntryre memang hati-hati, seraya mengakui bahwa argumennya masih
memerlukan penelitian empiris yang lebih rinci. Bagi saya, yang bukan penyabar
tapi takut berharap, yang tampak di depan memang sebuah jalan rata yang terus
dan membosankan.
Atau sebuah paradoks: sistem yang sekarang akan berlangsung lama, bukan
karena negara kuat, melainkan justru karena negara itu begitu
berlobang-lobang. Ia tidak 24 jam bersifat represif dan ''eksklusioner'', ia
''bisa diatur'', dan batas mana yang negara dan mana yang masyarakat menjadi
kabur, ketika para pejabat punya kepentingan sebagai orang swasta dan
sebalikya, ketika suap dan koneksi jalin-menjalin. Mungkin itu juga gara- gara
apa yang disebut ''kekeluargaan'': sesuatu yang kacau, meskipun dicoba
dikemudikan serapi-rapinya. Toh ''kecelakaan akan terjadi dalam keluarga yang
paling teratur'', tulis Charles Dickens dalam cerita masyhur David
Copperfield.
Goenawan Mohamad
|