Catatan seorang polisi Penulis : abrar yusra dan ramadhan kh jakarta : pustaka sinar harapan, 1993
resensi oleh : dwi s.irawanto |
Buku ini bercerita tentang tokoh yang dianggap kontroversial: Hoegeng.
Penggantiannya sebagai Kapolri banyak dikaitkan dengan kasus pemberantasan
penyeludupan mobil mewah. Betulkah? SUATU pagi, sewaktu menjabat Menteri Iuran
Negara, Hoegeng dipanggil Presiden Soekarno ke Istana Negara. Di sana sudah
hadir sejumlah menteri dan pejabat tinggi. Acara pagi itu: perkenalan dengan
Direktur KLM (perusahaan penerbangan Belanda) yang baru. ''Meneer direktur mau
pulang ke Belanda lewat Amerika. Ayo, kalian mau minta apa?'' kata Bung Karno.
Melihat pejabat-pejabat pesan ini dan pesan itu kepada sang direktur, Hoegeng
bingung. ''Baru kenal, kok sudah disuruh minta-minta,'' katanya dalam hati.
Saking bingungnya, Hoegeng cuma titip pesan untuk temannya di New York bahwa
suratnya sudah diterima.
Itulah salah satu potret Hoegeng yang gampang diingat: bersahaja.
Kesederhanaan itu juga yang tampak di Graha Purna Widya, Jakarta, Kamis malam
pekan lalu, pada peluncuran buku Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan memoar
pertama seorang perwira tinggi polisi.
Buku ini menarik karena bercerita tentang tokoh yang dianggap kontroversial.
Hoegeng dilantik sebagai Kapolri pada umur 47 tahun. Tapi, juga turun begitu
cepat, dan meninggalkan sejumlah teka-teki mengenai penggantiannya.
Sayang, tak semua kisah Hoegeng, yang pensiun pada umur 49 tahun, bisa dibaca
dalam buku ini. Kendati disebutkan buku ini merupakan kisahnya sejak kecil
sampai sekarang, kita tak akan menemukan cerita seputar keterlibatannya dengan
Petisi 50 atau masalah cekal yang dikenakan pada dirinya. Buku ini hanya
mengajak kita melihat sosok Hoegeng sebagai polisi semata. Tak lebih dari itu.
Begitu pun, sebagai kisah suka duka Hoegeng semasa jadi polisi, buku ini
cukup menarik. Abrar Yusra dan Ramadhan K.H. menuliskan kisah-kisah Hoegeng
dengan bahasa ringan. Tapi, dari buku ini tergambar watak Hoegeng sebagai
seorang polisi yang keras kepala, disiplin, dan tanpa kompromi. Diceritakan,
antara lain, bagaimana Hoegeng sewaktu menjabat Kepala Resor Kriminal Sumatera
Utara di Medan, dengan berang membuang ke pinggir jalan seperangkat perabotan
yang dikirim seorang pengusaha sebagai ucapan selamat datang kepadanya. Selain
itu, Hoegeng juga pernah digoda dengan hadiah rumah dan mobil, dan juga
ditolaknya. Hadiah-hadiah itu, kata Hoegeng dengan jujur, memang menggiurkan.
''Apalagi untuk pegawai yang hidup sederhana seperti saya, entah kapan bisa
kebeli,'' tulisnya.
Sikap tanpa kompromi ini, konon, yang disebut-sebut membuat Hoegeng cepat
diganti sebagai Kapolri. Penggantian itu, entah benar entah tidak, banyak
dikaitkan orang dengan langkah Hoegeng mengusut penyeludupan mobil-mobil
mewah. Tiap tahun, pada masa itu, kata Hoegeng, tak kurang dari 1.500 mobil
tak sah masuk ke Indonesia, dan melibatkan banyak pejabat tinggi negara.
Mula-mula kasus penyelundupan yang diserahkan polisi dideponir kejaksaan. Pada
hasil tangkapan kedua, setelah ditahan beberapa jam, tersangka lolos dengan
jaminan sejumlah pejabat. Baru pada kasus ketiga, pelakunya dijatuhi hukuman,
dan itu pun hukuman percobaan.
Salah satu kasus penyelundupan mobil yang ramai ketika Hoegeng jadi Kapolri
adalah kasus Robby Tjahjadi. Anak muda dari Solo ini, tulis Hoegeng, punya
relasi sedemikian luas dan elitis. Sejarah memang mencatat Robby dibekuk dan
diadili. Tapi, bukan lewat tangan Hoegeng, karena ia sudah diganti sebelum
kasus penyeludupan mobil mewah ini tuntas terbongkar.
Diganti sebagai Kapolri, Hoegeng ditawari jadi duta besar di Belgia. Tapi,
tawaran itu ditolaknya. ''Saya tak pernah belajar jadi dubes, kalau boleh,
jabatan apapun asalkan di Jakarta saya mau,'' katanya kepada Menhankam (waktu
itu) Jenderal M. Panggabean, yang menyampaikan tawaran Pemerintah untuk bekas
Kapolri tersebut.
Bagaimana kesan Hoegeng tentang Presiden Soeharto? Hoegeng mulai mengenal Pak
Harto ketika dirinya ditunjuk sebagai sekretaris kabinet, Maret 1966. Pak
Harto, menurut Hoegeng, orangnya serius. Dalam sidang kabinet, lanjutnya, Pak
Harto datang semata-mata untuk rapat: duduk, membuka catatan, mengikuti rapat
dengan tekun, dan begitu rapat selesai langsung berdiri dari kursi, lalu
berjalan ke pintu. Anehnya, selama tiga bulan menjadi carik kabinet, Hoegeng
mengaku belum pernah bercakap- cakap dengan Jenderal Soeharto.
Kini, Hoegeng, salah seorang pentolan Petisi 50, sudah makin tua. Usianya
sudah 72 tahun, jalan tak lagi tegap, dan gigi sudah pada ompong. Tapi, bekas
Kapolri ini masih saja ingin digusur orang. Belum lama berselang, kata
Hoegeng, rumah kediamannya yang terletak di Jalan Moh. Yamin, Jakarta Pusat,
ditawar seorang utusan konglomerat untuk dibeli. Sekalipun dirinya hidup
dengan uang pensiun yang pas-pasan, Hoegeng menolak untuk menjual rumah yang
ditawar miliaran itu. Rumah itu, katanya, satu-satunya inventaris kepolisian
yang terpaksa diterimanya. Itulah Hoegeng.
Dwi S. Irawanto
|