Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/XXIII/14 - 20 Agustus 1993
   
Agenda Pertunjukan

Tujuh perupa di bali

Agenda pertunjukan pameran lukisan di nusa dua (bali), gedung kesenian jakarta, yogyakarta dan pementasan musik karya dede harris, serta pemutaran film karya yaujiro ozu.

Tujuh pelukis: Aming, Antonius Kho, Bangliek, Daniel Kho, Fredy K., Sann,
dan M.G. Syawaludin mengadakan pameran bersama di Gelleria Nusa Dua, Bali,
sampai akhir Agustus. Para perupa muda ini memiliki latar belakang pendidikan
lukis yang berbeda- beda. Aming, anak Bondowoso bekas murid pelukis ternama
Dullah, Antonius Kho kelahiran Klaten studi di Akademi Kesenian di Koln,
Jerman, sedangkan Bangliek yang lahir di Yogyakarta jebolan seni rupa
Universitas Trisakti. Gaya lukisannya pun berbeda-beda. Tiga Nuansa di GKJ M.
Sukron Mahrestu, Soemaryo Hadi, dan Sri Aji Yanto adalah tiga pelukis yang
sama-sama memulai kariernya antara tahun 1970 dan 1980. Hasilnya, sebanyak 30
karya dari tiga pelukis ini akan dipamerkan di Gedung Kesenian Jakarta, 5 - 15
Agustus 1993. ''Tiga Citra Nuansa'', begitu tema pameran ini, bisa dilihat
dari pukul 10.00 sampai 21.00 WIB. Tiga Dosen ISI Yogya ''Manusia dan
Kehidupan'' menjadi tema pameran lukisan tiga dosen Institut Seni Indonesia:
Sun Ardi, Procoyo, dan A.G. Hartono. Lulusan jurusan seni murni Fakultas
Senirupa dan Disain ISI ini menampilkan karya-karya grafis. Selain itu, mereka
juga menampilkan karya-karya cukilan kayu dan skrin. Pameran ini, yang
berlangsung sejak 8 Agustus bertempat di Slamet Riyanto Gallery, Jalan
Tirtodipuran, 61 A, Yogyakarta, ditutup 7 Septembar 1993. Lucebert di Cemeti
Pelukis berkebangsaan Belanda, Lucebert, menghadirkan karya- karyanya di
Cemeti Gallery Yogyakarta sampai akhir Agustus ini. Lucebert adalah anggota
kelompok Cobra, sebuah perkumpulan perupa Eropa yang mengembangkan
karya-karyanya di Kopenhagen (Denmark), Amsterdam (Belanda), dan Brussel
(Belgia).
Lukisan Lucebert kebanyakan berupa goresan tinta di atas kertas. ''Menggambar
adalah pekerjaan saya sehari-hari. Semangat, roh, serta ide yang tak kunjung
habis harus terus disegarkan,'' kata Lucebert suatu kali. Ia memang dikenal
juga sebagai seorang penyair.
Lukisan Lucebert menampilkan gambar-gambar yang agak realistis tentang
manusia, ''kemanusiaan manusia'' dan ''kemanusiaan binatang''. Suatu figur
yang sangat menakjubkan senantiasa memadati karya lukisannya, mulai dari
deformasi manusia monster sampai pada gambar semacam realisme buas, kasar,
bahkan menjijikkan dan menakutkan umpamanya berkepala manusia tapi berbadan
hewan. Festival Budaya Riau Siapa yang berminat mengikuti Festival Budaya
Masyarakat Pedalaman Se-Asia Pasifik, bisa mendaftar sampai tanggal 15 Agustus
ini. Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Riau itu akan
menampilkan sebelas kegiatan budaya, antara lain upacara perkawinan,
mendirikan bangunan, teater, dan musik yang khas pedalaman.
''Festival ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kebanggaan dalam diri masyarakat
pedalaman,'' kata Gubernur Riau Soeripto. Selain itu, untuk menyebarluaskan
berbagai ragam seni masyarakat pedalamam ke luar negeri. Dalam festival ini
diselenggarakan pula seminar tentang masyarakat pedalaman, membahas 32 makalah
dari para pakar budaya.
Sampai saat ini sudah ada 700 peserta yang mendaftar. Mereka berasal dari
berbagai daerah di Indonesia, juga dari negara anggota ASEAN lainnya, selain
Jepang, Vietnam, dan Australia. Festival itu sendiri berlangsung 2 - 5
September mendatang. Wajah Kita dari Dede Pemusik kidal kelahiran Bandung,
Dede Harris, akan mementaskan karya musik ''Wajah Kita'' di Teater Arena,
Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 - 17 Agustus ini.
Lewat petikan gitar dan lirik lagunya, Dede akan bicara tentang kenyataan
sosial di sekitarnya. Ia dinilai mampu menampilkan kesan naif, satirik, atau
liar dengan gitarnya yang seolah-olah hendak keluar dari keterbatasan bunyi
dawai. Dede dibantu oleh lima teman pemusiknya, termasuk Harry Roesli, yang
akan membawakan acara yang dimulai pukul 20.00 WIB. Enam Karya Ozu Karya-karya
sutradara Yaujiro Ozu tak mungkin mati dalam lembaran sejarah film Jepang
kendati sesepuh perfilman itu meninggal pada 1988. Semasa hidupnya, Ozu telah
melahirkan 35 buah film. Karya-karya Ozu, seperti dikatakan oleh Atsushi
Kanai, asisten direktur Pusat Kebudayaan Jepang, berbeda dari Akira Kurozawa
yang cenderung memakai pendekatan Barat untuk membuat film-filmnya.
''Karya-karya Ozu dibuat dengan menggali cerita asli dan kebudayaan Jepang,''
kata Kanai yang menyebut Ozu sebagai sutradara terbaik.
Enam film yang langka kopinya itu, dan merupakan karya-karya Ozu yang
terkenal, akan diputar pada 9 - 14 Agustus ini di Teater Tertutup Taman Ismail
Marzuki Jakarta. Film-film itu adalah I was born, but ... (produksi 1932),
Late Spring (1949), Early Spring (1951), Tokyo Story (1953), Floating Weeds
(1959), dan An Autumn Afternoon (1962).
Pemutaran film berlangsung dua kali sehari, pukul 17.00 dan 19.30 WIB.
Tanggal 13 Agustus, pada jam pertunjukan kedua, akan diselingi diskusi dengan
pembicara kritikus Jepang, Kyoichiro Murayama, dan sutradara film, Putu
Wijaya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data