Di antara kegelisahan dan ketenteraman Sejumlah karya yang merekam kesan-kesan perjalanan secara visual.
karya-karya yang mencoba memahami alam, yang mengajak kita merindukan kembali
alam itu. |
SETIDAKNYA ada tiga pelukis senior Indonesia yang pernah memamerkan
karya-karya yang merupakan rekaman perjalanannya. Yang pertama adalah Zaini
(almarhum), dengan karya cat airnya yang merupakan musik sapuan warna, yang
menjadikan objek hanya sebagai ''pintu'' untuk mengekspresikan perasaannya.
Lalu Srihadi Sudarsono, dengan karya-karya cat air yang liris, yang dicapainya
dengan penggambaran objek secara impresif dengan teknik yang tinggi. Kemudian
S. Sudjojono (almarhum), yang membuat sketsa-sketsa yang merupakan semacam
catatan harian yang ekspresif.
Kini muncul Syahnagra, 40 tahun. Berbeda dengan karya-karya terdahulunya,
misalnya karya tahun 1970-annya, yang trengginas dengan warna-warna menantang
dan kontur tegas pada figur yang naif, kini ia hanya meninggalkan impresi pada
kanvasnya. Pergantian gaya ini seperti sebuah musim: dari musim panas ke musim
gugur menjelang musim dingin. Lihat saja, kali ini karyanya banyak yang
diselimuti kabut.
Itulah yang kita tangkap dari pameran tunggalnya yang keenam, yang
diselenggarakan di Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, akhir Juli
lalu, yang menyajikan 36 karya dengan berbagai ukuran dan berbagai tahun
penciptaan sebagian besar dari tahun 1992 dan 1993.
Sejumlah besar kanvasnya mencitrakan pemandangan alam, sudut kota, atau
perkampungan. Kita dibawa pesiar menikmati berbagai kota di Eropa dan
Indonesia, melalui sapuan-sapuan akrilik warna putih yang melebar dan dominan
yang menyisakan goresan warna-warni yang mencitrakan sebuah potongan musim.
Sebagai puisi visual sederhana yang mudah dipahami. Dan karya Syahnagra
mempunyai sifat yang umum itu: membawa penglihatan untuk berperilaku tenang
dan merenungi isi alam yang ''memabukkan''.
Tengoklah Paris. Menara Eiffel yang mengisi tegak lurus kanvas besar dan
kebekuan Kota Paris yang menjadi latarnya mencoba membangunkan kerinduan kita
pada alam, pada sebuah musim. Ini juga ada pada Kapal dan Kota Tua, dengan
garis dan warnanya yang lembut dan samar-samar, lalu sapuan-sapuan putih lebar
yang mencitrakan kabut, menyuguhkan suasana sepi.
Kekuatan Syahnagra memang pada kemampuannya dalam memunculkan impresi objek
melalui garis dan warna yang manis, ketidakteraturan yang enak, yang
menimbulkan satu kenyamanan visual. Risikonya, keelokan pemandangan itu
menutupi yang hendak diungkapkannya.
Tapi, sejauh karya-karya yang dipamerkan, ia berhasil menjaga karyanya untuk
tak sekadar jatuh menampilkan gambar yang indah.
Yang sebenarnya menarik untuk lebih dicermati dari seorang Syahnagra adalah
karya hitam-putihnya, yang rata-rata berukuran kecil, yang sebagian besar
bertarikh 1989, baik yang berupa karya etsa maupun yang dibuat dengan potlot
konte. Pada karya- karya ini, penguasaan Syahnagra atas bidang gambar, garis,
serta sudut pandang untuk memunculkan impresi objek cukup meyakinkan. Lihat
dan bandingkan, misalnya, karya hitam-putih Kapal Tua dan Jembatan, 1989, dan
karya akrilik Kapal dan Kota Tua, 1993, yang objeknya hampir sama.
Pada karya yang pertama, ia berhasil menampilkan kekuatan garis-garisnya yang
tajam dan ekspresif. Karya hitam-putih ini menyiratkan perpaduan antara
keterasingan dan ketakjuban pada alam yang tumpang tindih dan bergerak dalam
proses penciptaan. Hal ini terwakili juga pada Stockholm, Kota Tua, dan
Perahu, yang semuanya merupakan karya hitam-putih dan bertarikh 1989.
Berbeda dengan karya akrilik Kapal dan Kota Tua. Di sini terasa kegelisahan
Syahnagra dikendalikan oleh perhitungan visual meskipun suasana liris tetap
muncul. Tapi tak semua karyanya yang begini berhasil membangun suasana liris
seperti pada karya ini, juga Paris, Jembatan Sungai Ams, dan sebagian besar
karya hitam-putihnya. Setidaknya pada Borobudur, ia kurang menampilkan diri
sebagai seseorang yang percaya pada impresi, sehingga perlu memperjelas
objeknya, yang menjadikan karya ini gagal menyajikan suasana.
Hal yang sama bisa dilihat pada Rumah di Toba, Perahu Bretan I, dan Perahu
Bretan II. Terasa ada usaha menyusun objek-objek menjadi lebih teratur dan
terlihat jelas, dan komposisi terasa sangat diperhitungkan hingga spontanitas
berkurang.
Namun, secara umum, karya alumni Institut Kesenian Jakarta ini memang mencoba
keluar dari kebiasaannya melihat dan mengekspresikan langsung objek-objek ke
kanvas, tanpa ''penafsiran''. Kini caranya melihat dan ''memproses'' objek ke
kanvas berbeda, mengarah pada pemahamannya terhadap alam.
Dan pemahaman Syahnagra tertarik-tarik antara yang menggelisahkan dan
menenteramkan meskipun yang dilihatnya adalah alam yang ''memabukkan'', bukan
yang mengimpit, atau meresahkan perasaan. Ia memang belum semusikal Zaini atau
seliris Srihadi. Tapi, setidaknya, ia punya kegelisahan yang menjanjikan
sebuah perkembangan mendatang. S. Malela Mahargasarie
|