Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXIII/07 - 13 Agustus 1993
   
Perilaku

Belajar berkata tidak

Amerika serikat pemegang rekor tertinggi kehamilan remaja. tiap tahun, satu juta gadis di bawah usia 20 tahun hamil di luar nikah. mereka putus asa. mau diapakan bayi itu nanti?

INILAH pelajaran pahit dari Amerika Serikat. ''Mereka putus asa dan
mengatakan tidak tahu mau diapakan bayinya nanti,'' kata Dokter Reginald
Tsang. Hati dokter itu ciut. Di kliniknya di Cincinnati, Ohio, dokter itu
melihat sepasang orang tua berusia 13 tahun terpaku di samping inkubator.
Mereka memandang bayinya yang baru lahir, yang besarnya tidak lebih dari
tangan Dokter Tsang.
Di pusat kesehatan anak-anak itu, Tsang dan sejawatnya harus menyelamatkan 9
dari setiap 10 bayi yang baru lahir yang beratnya sekitar satu kilogram
produk dari rahim belia-belia. Di tempat yang sama, Dokter Joseph Rauh juga
frustrasi karena harus menyediakan alat kontrasepsi untuk remaja. Tak lama, ia
bertemu lagi dengan anak berusia 1314 tahun yang dulu dibekali kontrasepsi
itu. Mereka hamil, dan kebingungan.
Itulah sebagian laporan majalah US News & World Report, edisi akhir Juli
lalu, tentang gejala yang kini mencekam khalayak di AS. Sinyalemen yang lama
berembus kini menjadi kenyataan: AS negara pemegang rekor tertinggi angka
kehamilan remaja. Tiap tahun, satu juta gadis di bawah usia 20 tahun, atau 1
dari tiap 10 gadis remaja, hamil. Itu sama dengan 43% dari pemudi di AS,
paling tidak, hamil satu kali ketika berusia 20 tahun.
Mungkin yang tidak hamil pada usia muda hanya mujur. Menurut Lembaga
Pengawasan dan Pencegahan Penyakit di AS, 40% dari anak 15 tahun mengaku
pernah melakukan hubungan intim. Padahal, tahun 1970 angka itu hanya 10%. Ini
artinya anak-anak belia pun sudah menjadi perantara penularan penyakit.
Sedihnya lagi, menurut laporan Biro Sensus, tahun lalu 65% dari remaja
perempuan yang melahirkan itu tidak menikah. Persentase ini meningkat
sepertiga lebih dari tahun 1980. Selain itu, bisa diramalkan masalah generasi
berikut bila yang lahir kini bayi-bayi tidak berkualitas beratnya satu
kilogram dan lahir dari kandungan bunda muda yang belum sempurna itu.
Menarik ketika US News menggali alasan mengapa banyak cewek tergelincir.
Dokter Marion Howard dari klinik di Atlanta menemukan bahwa gadis-gadis yang
ditelitinya sudah menyediakan alat kontrasepsi. Tapi yang lebih menjadi
masalah bagi kebanyakan gadis, menurut Howard, adalah mengatakan ''tidak''
kepada orang yang memaksanya melakukan hubungan seks dan mengatakannya tanpa
menyakitkan hati.
Jadi, jangan keburu menyalahkan mereka sebagai penganut seks bebas. Menurut
penelitian di tingkat nasional, tak sampai seperlima gadis yang merencanakan
hubungan intim pertama kali. Sisanya bersebadan di luar rencana. ''Mereka
melakukan hubungan seks karena tidak tahu bagaimana menolak,'' kata
Christopher Kraus, koordinator program ''Menunda Keterlibatan Seksual'' di
Cincinnati.
Program ''Menunda'' dirancang Howard dan masuk kurikulum sekolah di
Cincinnati. Teknik lama dibuang. Kini, anak-anak muda belajar dari sesama
remaja, khususnya bintang kelas dan atlet idola.
Pelajaran yang digencarkan adalah teknik menolak hubungan intim. Ini dinilai
lebih efektif ketimbang metode lama yang hanya mengampanyekan ''suci sampai
kawin'' atau memantangkan seks. Malah, Departemen Kesehatan dan Pelayanan
Masyarakat menuding program memantangkan seks itu tak lain sebagai promosi
agama.
Kini, murid kelas tujuh, umpamanya, disuruh main sandiwara berkencan.
Tontonan ini lalu dilanjutkan dengan diskusi. ''Kami juga menekankan bahwa di
film-film, adegan seks dibuat sehebat mungkin semata untuk melariskan
dagangan,'' kata Kraus.
Namun, penyebab kehamilan remaja tampaknya lebih rumit dari itu. Maret lalu,
polisi menangkap beberapa anggota Spur Possem kelompok pemuda kelas menengah
di Lakewood, California. Tuduhannya: melakukan penganiayaan seks terhadap
bocah perempuan sepuluh tahun. Ternyata, perangai itu, menurut mereka,
merupakan bagian dari perlombaan di Spur Possem, yakni sebutan jagoan bagi
yang terbanyak melakukan ''begituan''.
Di Yongkers, New York, bulan lalu polisi menuntut sembilan anak SD berumur
913 tahun yang memerkosa cewek 12 tahun. Guru di sekolah itu menggampangkan
kejadian itu sebagai akibat permainan ''mari memerkosa!''.
Ada tudingan bahwa perkara ini muncul karena anak-anak telat diberi pelajaran
pendidikan seks. Selama ini, program itu belum merupakan satu paket nasional.
Kurikulum Howard saja diterapkan berbeda-beda di Cincinnati. Ada sekolah yang
mengajarkan teknik penggunaan kontrasepsi, tapi ada pula yang melarang. Di
sebuah perkampungan kumuh Newport, Ohio, ada program sahabat ibu muda.
Maksudnya untuk mencegah ibu-ibu belia kebobolan kedua kalinya. Sebab,
kehamilan beruntun itu menghambat sekolah atau kerja.
Ternyata, program itu tidak semudah di kertas. Contohnya Tina Daniels, 20
tahun. Ia sudah mendaftar untuk kembali ke kampus. Ia ingin menjadi pekerja
sosial setelah bayi di luar nikahnya berusia 1,5 tahun. Dan ia mengaku berani
melepaskan diri dari cowoknya yang penyiksa. Untuk mencegah kehamilan kedua,
ia memakai alat kontrasepsi yang berlaku lima tahun.
Tak lama, Daniels kembali lagi ke dokter, minta alat kontrasepsinya dicabut.
Alasannya, pacar barunya ingin punya anak. Mereka akan menikah April tahun
depan. Tapi kesudahannya: Daniels gigit jari. Rencana pernikahan itu bubar.
Padahal, kini ia sudah hamil dua bulan. Nasib.
Bunga Surawijaya


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data