Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 23/XXIII/07 - 13 Agustus 1993
   
Obituari

Perginya pelawak yang halus dan serius

Sejak awal, s. bagyo bercita-cita menjadi pelawak. setelah sukses, ia bersiap menjadi petani, khawatir lawakannya tidak laku. ''lawakan itu butuh teori,'' katanya.

DUA tahun lalu, Pelawak S. Bagyo berkata, ''Saya akan bertani kalau nanti
lawakan saya sudah tidak laku lagi.'' Ia serius. Ia sudah menyiapkan tanah
seluas lima hektare di daerah kelahirannya, Purwokerto. Namun, takdir
menghendaki lain. Bagyo tak sempat hidup sebagai petani. Ia tetap pelawak
sampai hidupnya berakhir. Kamis pekan lalu, ketika lawakannya masih laku dan
ditonton jutaan pemirsa TPI, Bagyo meninggal dunia akibat serangan kanker
darah yang sudah mengganas di tubuhnya.
Pada usia 60 tahun, Bagyo tak kekeringan lahan walau bermunculan pelawak muda
yang menjual kekonyolan dan seks. Bagyo sebenarnya bukan pelawak
anti-slap-stick. Ia pelawak dengan cita-cita dunia lawak yang halus dan serius
walau seperti diakuinya ia juga tak bisa lepas dari humor slap- stick.
Menurut Bagyo, seperti ditulisnya sendiri di Kompas, Januari 1988, lawakan
tak hanya membanyol sembarangan, tapi juga membutuhkan teori. Soalnya, pelawak
harus mampu menganalisa penonton di suatu daerah maupun jenis dan usia
penonton yang harus dihibur. ''Menghibur di kelab malam tentu berbeda dengan
di depan anak sekolah. Melucu di depan ibu-ibu jangan porno, jangan kasar,''
tulis Bagyo.
Dan Bagyo konsisten. Ia tahu bahwa lawakan di televisi ditonton oleh
keluarga, sehingga ia tak akan menyelipkan lelucon seksual. Toh orang tetap
tertawa. Semua orang masih tertawa jika ingat lagu Bengawan So ia
memelesetkan melodi Bengawan Solo atau ketika ia membentak galak Diran yang
justru sedang menagih utang.
Menurut Darto Helm, ada tiga unsur yang selalu mereka rangkum setiap kali
melawak. Yang pertama adalah unsur menghibur untuk membuat penonton senang dan
tertawa. Kedua, informatif, menjelaskan suatu masalah atau program Pemerintah
kepada masyarakat. Dan ketiga adalah mendidik. ''Jadi, tak hanya sekadar
melucu. Kalau mau melucu, bicara dengan aksen Betawi kental juga bikin ketawa.
Itu yang Mas Bagyo tidak suka dari pelawak-pelawak muda,'' kata Darto.
Resep itulah yang membuat Bagyo dkk. tak pernah sepi dari tawaran manggung.
Pada zaman gencarnya kampanye pembangunan, Bagyo berperan sebagai pelawak dan
sekaligus komunikator andal. Di tengah lawakannya, ia menyelipkan tema tentang
KB, wajib belajar, atau pesan lain tanpa terasa dipaksakan dan tanpa harus
mengorbankan lawakannya.
Catatan lain dari lawakan Bagyo adalah penyuguhan suatu alur cerita yang
tetap memberi ruang pada kebebasan individu. ''Itu perbedaan generasi Bagyo
dan kami. Bagyo bisa dibilang aliran ketoprak Mataram yang punya alur cerita,
sedangkan kami menyuguhkan komedi situasi,'' kata Dedy Gumilar atau Miing dari
kelompok Bagito. Walau berbeda aliran, Miing tak bisa memungkiri Bagyo sebagai
salah satu pelawak anutan. ''Bagyo mampu berkomunikasi dengan penonton. Ini
perlu dipelajari pelawak muda,'' kata Miing.
Dan selama hampir 40 tahun, Bagyo berhasil membuktikan bahwa profesi pelawak
bisa digeluti seperti profesi lain yang jadi sumber nafkah sehari-hari. Bagyo
mampu membesarkan 11 anaknya yang paling tua dokter tamatan UKI dan
meninggalkan warisan berupa dua rumah, di Cimanggis dan Kebon Jeruk, dua
kapling tanah, di Pondok Gede dan Bumi Jaya, serta beberapa buah mobil.
Itu adalah hasil perjalanan panjangnya. Mulai melucu secara sembunyi-sembunyi
dalam sebuah sandiwara di kampungnya, Purwokerto, Bagyo akhirnya mendapat izin
ayahnya, seorang asisten wedana, untuk menjadi pelawak. Berbeda dengan Kasino
dan Miing, yang awalnya melawak sebagai permainan, Bagyo memang sejak awal
memilih jadi pelawak.
Di Yogyakarta, ketika kuliah di Fakultas Hukum UGM, ia menang dalam hampir
semua lomba lawak. Karena sudah memutuskan untuk jadi pelawak, Bagyo
meninggalkan UGM dan membentuk kelompok EBI bersama Eddy Sud dan Iskak.
Kelompok ini sukses, sampai diboyong Usmar Ismail ke Jakarta untuk ikut film
Gaya Remaja (1957).
Beberapa kali kelompok yang ia bentuk bubar karena anggotanya, seperti Eddy
Sud, Iskak, Atmonadi, dan Ateng, dibajak oleh Bing Slamet. Waktu itu wajar
kalau pelawak muda lebih memilih bergabung dengan Bing Slamet daripada ikut
Bagyo. Kalau ikut Bagyo, mereka cuma dibayar Rp 100 sampai Rp 200. Baru pada
tahun 1970, setelah bertemu dengan Sol Saleh dan Diran, Bagyo punya kelompok
tetap, yang diperkuat oleh Darto Helm tahun 1973.
Sampai Bagyo meninggal, kelompok itu sebenarnya masih bertahan walau tak utuh
lagi. Tahun 1981, Sol Saleh keluar karena mendirikan kelompok baru. Bagyo
bersama Diran dan Darto bertahan. Lantas, tahun 1991, ketika Diran terserang
komplikasi beberapa penyakit sehingga tak ikut berpentas lagi, duet Bagyo dan
Darto terus jalan. ''Hasilnya kami bagi tiga. Gaji saya sama dengan gaji
Diran. Setelah ada pengganti Diran, baru gaji Diran dibagi dua dengan
penggantinya,'' kata Darto.
Bahwa kelompoknya bisa bertahan, itu jelas karena kepemimpinan Bagyo yang
lembut dan jujur. Ia menganggap Diran, Darto, dan Saleh seperti anak-anaknya,
dari menentukan honor, membimbing kemampuan melawak, sampai memeriksa buku
Tabanas. Walau tak ada aturan pasti dalam pembagian honor, ternyata soal honor
tak pernah mengganjal kelompok Bagyo.
Sampai akhir hayatnya, Bagyo dikenang banyak orang sebagai pelawak. Tapi
mungkin ia bisa disebut pelawak plus. Tahun 1982 ia main dalam film Sang Guru
dan mendapat pujian untuk peran sebagai seorang guru yang jujur. Pernah pula
ia mengumpulkan enam kelompok lawak untuk main bersama dalam naskah cerita
yang ia tulis sendiri. Masih ada lagi ketoprak Suryo Budoyo, yang ia dirikan
untuk pentas ketoprak berbahasa Indonesia. Dunia kesenian Indonesia bukan
cuma dunia lawak kehilangan orang yang berdedikasi.
Liston P. Siregar


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data