Dari dunia mimpi yang kongkret Festival film aborigin, 22 film dokumenter dan semidokumenter, dibuat oleh
mereka sendiri dan kulit putih. inilah rekaman tentang pernyataan hak dan
kerinduan pada tanah dan mimpi. |
SEGALANYA berasal dari mimpi. Tak ada waktu, tak ada sejarah. Melalui mimpi,
kejadian demi kejadian mengalir dan nasib diselenggarakan. Begitulah
dikisahkan, tujuh perempuan bersaudara bermimpi dikejar oleh lelaki bernama
Nyiru, dari satu tempat ke tempat lain. Maka, mereka pun menyusup ke bumi,
melewati gurun pasir, hutan, dan sumber air. Di setiap tempat, mereka menari
dan melakukan upacara penyucian untuk menghubungkan diri dengan asal dan
kelangsungan hidup. Mereka membuat hukum dan aturan, tempat kehidupan bersama
disandarkan. Dari jejak-jejak mimpi inilah, benda dan peristiwa terbentuk.
Inilah salah satu rekaman video yang dibuat oleh suku Pitjantjatjara, suku
kecil dan terpencil di Australia Selatan. Sebuah rekaman yang dapat mewakili
dengan kuat semangat masyarakat Aborigin untuk merumuskan diri dan dunia yang
mereka hadapi. Mulai anak-anak, penari, dukun, kru film, sampai anggota
masyarakat lainnya terlibat penuh dalam proses pembuatannya. Mereka memberikan
komentar tentang upacara, ikut serta menari, memberikan semangat kepada
pemain, dan ikut menunggu proses pembuatan rekaman itu. Melalui Seven Sisters
Dreaming, judul rekaman ini, mimpi mereka rumuskan bersama-sama menjadi
kenyataan. Rumusan yang hampir seabad dikemas oleh orang lain, orang kulit
putih, beserta prasangka-prasangka mereka.
Film Curiouser and Curiouser, sebuah kompilasi dari berbagai penelitian
antropologi tentang bangsa Aborigin, mulai tahun 1898 hingga 1938, merupakan
contoh bagaimana prasangka menyusup dengan baik dalam sistem pengetahuan.
Proses ritual, perburuan kanguru, dan kehidupan peneliti dipaparkan dalam
imaji tentang ''yang lain'', dengan cara yang eksotis. Imaji tentang Aborigin
adalah imaji tentang objek dan imaji tentang keliaran.
Meskipun dengan objek yang sama, terdapat perbedaan yang mendalam antara film
yang dibuat oleh orang Aborigin dan orang kulit putih, baik dalam tema maupun
proses pembuatannya. Dari 22 film dan video yang diputar oleh Kine Klub Taman
Ismail Marzuki, Jakarta, bekerja sama dengan Kedutaan Besar Australia, 26 Juli
hingga 30 Juli lalu, hampir semuanya mengisahkan kerinduan Aborigin pada tanah
dan mimpi, tempat mereka hidup dan berasal. Tanah menjadi pusat sekaligus
tema, menyiratkan betapa pentingnya tanah dalam pandangan hidup Aborigin.
Melalui Dance on Your Land, suku Lardil dari Pulau Mornington merekam
perjalanan mereka menyeberangi Australia Utara, dengan tarian sucinya yang
mengingatkan pada hukum kehidupan dan kekuatan budaya mereka. Dalam
perjalanan, mereka disambut oleh suku-suku yang dikunjungi dengan tarian dan
ritusnya sendiri. Jadilah perjalanan ini sebagai usaha untuk membangkitkan
kesadaran dan identitas diri mereka.
Kasus tuntutan hak atas tanah, yang kini masih hangat, didokumentasikan
dengan hidup dalam Land Bilong Islanders. Tiga penduduk asli Pulau Muray
mengajukan pemerintah Australia ke pengadilan. Mereka menuntut hak atas pulau
yang mereka diami. Kasus ini merupakan tahap penting dari perjuangan
masyarakat Aborigin di jalur legal. Inilah sebuah proses pengadilan yang
mempersoalkan kembali asumsi dasar tentang kepemilikan dan hubungan antara
kulit putih dan Aborigin.
Menarik melihat perbedaan antara film yang dibuat oleh orang kulit putih dan
oleh orang Aborigin, perbedaan yang mencerminkan cara melihat kenyataan.
Film-film yang dibuat, disutradarai, dan diperankan oleh orang Aborigin, Seven
Sisters Dreaming misalnya, dibuat dengan irama yang lamban, menggunakan
longshot dan sudut lebar, sehingga yang sering terlihat hanya kelengangan dan
keluasan, tanpa adegan apa pun. Adegan demi adegan berlangsung spontan dan
hadir tanpa hubungan kausal. Berbeda dengan film yang dibuat dengan gaya
western, penggambaran tentang kelompok dan interaksi yang terjadi di dalamnya
lebih penting daripada ekspresi individual. Dengan kata lain, mereka lebih
melihat kenyataan dalam pengertian ruang ketimbang kategori waktu.
Curiouser and Curiouser, film dokumenter yang sepenuhnya dibuat oleh orang
kulit putih, dengan kental menggunakan logika waktu. Peristiwa sejarah dan
gejala kebudayaan diringkas dalam hubungan sebab-akibat yang mengikuti jalur
yang bersifat universal. Dalam pandangan ini, sejarah merupakan sesuatu yang
dapat diikuti, dapat diamati, dan bersifat kongkret. Masyarakat Aborigin, yang
melihat kenyataan dalam pengertian ruang, bertindak sebaliknya. Rekaman yang
mereka buat lebih mementingkan komposisi ketimbang tempo. Pusat perhatian
diarahkan pada batasan kongkret tentang tempat, permukaan tanah, dan bentuk
material hubungan sosial. Bahkan, dunia mimpi pun dilihat sebagai ruang
kongkret.
Setelah mengalami pengejaran dan pembersihan etnis, sejak dua abad lampau,
masyarakat Aborigin kini mempunyai kesempatan merumuskan citra diri dan
pandangan dunianya berkat teknologi informasi. Satellite Dreaming
menggambarkan bagaimana masyarakat Aborigin merebut penggunaan media, yang
dimanfaatkan sebagai senjata untuk melakukan emansipasi budaya di tanah
impiannya. Sementara dalam masyarakat modern, berkat teknologi informasi,
kenyataan bisa dikemas menjadi mimpi, bagi masyarakat Aborigin berlaku
sebaliknya: mimpilah yang dikemas menjadi kenyataan.
Taufik Rahzen
|