Dialog dalam tantangan Penulis : olaf schumann. jakarta : grasindo, 1993 resensi oleh : muji
surisno |
DIALOG yang sejati akan memproses kesadaran kita pada dua arah. Yang
pertama, kita menjadi makin kenal diri kita, makin memahami pengertian,
penghayatan, sikap-sikap kita, manakala dihadapkan pada pengertian,
penghayatan rekan dialog kita dalam dialektika terus-menerus. Pun bila
keputusan kita akhirnya akan ''menutup diri'' dengan mengesampingkan paparan
dialog itu, kita tetap berada dalam kesadaran diri yang lebih kenal pada batas
maupun luas pikiran kita. Kedua, dialog juga membawa kita ke kesadaran baru
yang keluar dari diri sendiri, lalu menuju ke pengenalan orang lain dalam
bingkai pencarian bersama.
Apakah dua arah positif ini membuahkan ziarah dialog kehidupan antaragamawan,
akan bergantung pada keberanian kita mengatasi persoalan intern dan ekstern
agama-agama. Apa maksudnya? Dalam pengalaman riil di Indonesia, yang majemuk
dalam agama, suku, dan golongan, kita bisa secara sadar melihat kerumitan dan
kepekaan soalnya, pada faktor-faktor intern agama. Misalnya, soal teologis,
ajaran, perilaku, ibadat, dan pelayanan sosial agama.
Namun, kita juga mengalami bahwa empati dan ikhtiar saling memahami dan
menghormati unsur-unsur intern agama masih dihalangi oleh sumber-sumber
ekstern agama-agama itu sendiri. Unsur-unsur ekstern ini adalah tebalnya
saling curiga, prasangka yang terus dibawa dalam sejarah hubungan sosial
antaragama tanpa berani mengangkatnya ke tingkat sadar, dibuka, dan
diterusterangkan, dan tidak digeserkan atau seolah-olah diselesaikan lewat
kotak peka yang tak boleh disentuh, misalnya SARA. Faktor-faktor ekstern agama
yang lain adalah politisasi, manipulasi, siasat budaya intrik, yang pada
ujungnya memberi suasana terus pecah dan curiga, agar maksud politis tertentu
tercapai.
Saya mau meletakkan buku Olaf Schumann yang berjudul Pemikiran Keagamaan
dalam Tantangan ini dalam bingkai intern agama-agama dan dalam dua mata arah
dialog sejati di atas. Bingkai ini kiranya menjernihkan secara tulus dataran
teologis dan ajakan moral buku ini, yang menawarkan proses teologi kerukunan
untuk menjadi tautan kemajemukan kebangsaan kita, di Indonesia.
Pijar yang pertama-tama dibawa buku ini adalah keberaniannya yang jujur untuk
berdialog hening budi dan dialektis mengenai tema-tema rawan yang selama ini
secara teologis dipandang berat baik oleh Islam maupun Kristen. Cara
menyajikan substansi tema dan bungkus bahasanya penuh empati, berikhtiar
menjernihkan perbedaan, meletakkan proporsi permasalahan, serta berani
menunjuk letak perbedaan optik itu pada beda nuansa penafsiran. Karena
penafsiran selalu diwarnai optik serta nuansa lokal, di sana ditunjukkan
kelirunya orang yang salah tangkap karena tak mampu membedakan kebenaran
universal yang mutlak tiap-tiap agama dan kenisbian penafsiran terbatas
manusia. Dengan demikian, dibuka dengan lapang betapa manusia, sebagai hamba
Allah yang terbatas dan terus mau merohani dan mencari makna hidup, kerap
keliru berhenti dan mengklaim kebenaran sebagai KEBENARAN. Padahal, ziarah
bersama menuju sang BENAR itulah ziarah dialog-dialog agamawan-agamawan sejati
untuk bertemu dengan Allah.
Penjernihan-penjernihan ini mencolok dalam tema-tema kontroversial: Perihal
Gambaran Al-Quran Al-Karim tentang Al Masih ''Isa bin Maryam'' (Bab 3),
Beberapa Masalah Teologis antara Muslim dan Kristen (Bab V), Pandangan Orang
Barat terhadap Agama Islam dan Al-Quran Dahulu dan Sekarang (Bab VI).
Ketika kesadaran budi menjernih dan mampu memilah antara yang substansi dari
religiositas tiap-tiap agama dan wajah-wajah sosial, budaya, politis, beserta
sejarah pertumpahan darah dan kecurigaan, lalu kita dibawa ke arus untuk
memprosesnya dari tataran kesadaran menuju dialog kehidupan. Bukankah ketika
persepsi kita dan sikap religiositas kita dengan sesama rekan sebangsa, di
sana pula kita diundang untuk bertetangga, berbangsa dengan tetap menghormati
ziarah religiositas keagamaan sesama kita?
Maukah kita serius menanggapinya seraya mencari pemecahan- pemecahan
soal-soal ekstern agama yang tak kalah menghambatnya dalam dialog antaragama
yang dalam buku ini ditunjukkan realitanya dalam dua pengantar dari Djohan
Effendi dan Th. Sumartana.
Saya kira buku ini tak cukup cuma dibaca, tapi marilah kita dialogkan seperti
yang telah dimulai di LIPI, Juli yang lalu, bersama Cak Nurcholish Madjid dan
Mudji Sutrisno. Mudji Sutrisno
|