Semangat dunia timur Agenda pertunjukan pameran seni rupa, pagelaran musik di gedung kesenian
jakarta, dan pesta festival teluk kendari di sulawesi selatan. |
Sekitar 50 seniman dan pengajar seni rupa dari Cina bersama beberapa pelukis
terbaik Indonesia menggelar karya-karyanya di Jakarta Hilton Convention Centre
dari tanggal 31 Juli sampai 4 Agustus ini. Para pelukis Cina itu adalah mereka
yang belajar atau pernah belajar di Akademi Seni Rupa Zhejiang di Kota
Hanchouw. Di antara pelukis-pelukis beken itu terdapat Qing Dahu. Dia adalah
seniman pertama dari Cina yang karya-karyanya dicetak dan diterbitkan dalam
jumlah terbatas di Cina. Kini ia menjabat lektor kepala di Akademi Seni Rupa
Zhejiang dan Ketua Dewan Tetap Asosiasi Seniman Cina cabang Zhejiang.
Sedangkan dari Indonesia ada karya-karya Affandi, Abas Alibasyah, Barli
Sasmitawinata, S. Sudjojono, Dede Eri Supria.
Pameran besar di Jakarta ini dicirikan oleh watak realis dari hasil karya
para pelukis kedua negara, sesuatu yang merupakan kekuatan khusus seni rupa
timur, baik di Cina maupun di Indonesia. Suatu alur benang merah yang
mempersatukan lebih dari 400 lukisan dan patung yang digelar ini adalah upaya
yang gemilang dan penuh semangat dari seniman dunia Timur, yang bergulat
menemukan ekspresi artistik mereka.
Tiga Citra Nuansa Tiga pelukis muda, M. Sukron Mahrestu, Soemaryo Hadi, dan
Sri Aji Yanto, menggelar karya-karya mereka di Gedung Kesenian Jakarta, 5
sampai 15 Agustus ini. Mereka sudah sering menyelenggarakan pameran bersama
dan kali ini sebanyak 30 lukisan akan mereka gelarkan.
Senirupawan Jakarta Abas Alibasyah, Ratmini Sudjatmoko, Astari Rasyid, Dolo
Rosa Sinaga, dan selusin perupa terkenal lainnya bersama-sama menggelar karya
seninya di Ruang Pameran Utama TIM Jakarta, 5 sampai 15 Agustus nanti. Acara
ini yang diberi label ''Pameran Seni Rupa Karya Senirupawan Jakarta''
dimaksudkan untuk memperingati hari proklamasi kemerdekaan ke-48 dan Hari
Lahir Pusat Kesenian Jakarta - TIM ke-25.
Dari Jawa ke Kalimantan Untuk mempersempit jarak kesenian dan masyarakat,
tiga pelukis muda menyeberangkan karya-karyanya dari Pulau Jawa ke Kalimantan.
Fajar Iriadi, 31 tahun, George Eman, 35 tahun, Hendro Suseno, 31 tahun, tiga
sarjana Institut Seni Indonesia yang mukim di Yogyakarta, menggelar pameran
bersama ''Lintas Kalimantan'' di berbagai kota di Kalimantan. Pameran perdana
dibuka pada 1 sampai 4 Agustus di Gedung Habariang Hurung, Sampit, Kalimantan
Tengah, dan 7 sampai 10 Agustus di Taman Budaya Kalimantan Tengah,
Palangkaraya. Lalu pindah ke Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin (14
- 18 Agustus), dan ditutup di Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjar Baru (22
sampai 26 Agustus).
''Kami ingin mengalirkan arus seni lukis modern yang berpusat di kota-kota
besar di Jawa ke tempat lain,'' kata Fajar Iriadi. Pameran ini disponsori PT
Yala Persada Angkasa, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa
konstruksi.
Pesona Warna Dua puluh pelukis muda dari Sanggar Pelukis Jakarta bergabung
memamerkan ''Pesona Ragam Warna''. Tempatnya di ruang pamer Enteos Club,
Gedung BRI Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Para pelukis ini ada yang
karyawan swasta, mahasiswa, dua bekas tukang batu (Margono dan Mudsan).
Duo Sudiarso Dua pianis terbaik Indonesia yang masih punya hubungan darah
menunjukkan kebolehannya di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis 5 Agustus pekan
ini. Mereka adalah Aisha Ariadna Sudiarso (anak) dan Iravati M. Sudiarso
(ibu). Uniknya, kedua pianis ini belajar dari orang yang sama, dan itu
dilakukan mulai usia dini. Iravati belajar piano pada usia 5 tahun dari
ibunya, Hestia Mangunkusumo. Sedangkan Aisha belajar piano sejak usia 3 tahun
dari neneknya, ya, Hestia juga. Keduanya sudah memperoleh berbagai penghargaan
internasional. Aisha kini mahasiswa Manhattan School of Musik New York
sedangkan ibunya dikenal sebagai pianis Asia pertama yang bermain bersama New
York Philharmonic Orchestra selama lima minggu. Di GKJ mereka akan menggelar
karya-karya J.S. Bach, S. Rachmaninoff, Francis Poulence, dan Witold
Lutoslawski.
Festival Teluk Pesta seni rakyat tingkat provinsi, yang baru pertama kali
diselenggarakan di Sulawesi Selatan, dilangsungkan 10 sampai 12 Agustus nanti.
Pesta ini dinamai Festival Teluk Kendari. Selama tiga hari itu akan digelar
berbagai kesenian tradisional, baik berupa kesenian, kebudayaan, perlombaan
maupun makanan tradisional. Gubernur Sultra Drs. M.H. La Ode Kaimuddin
mengharapkan pesta rakyat ini bisa mendatangkan wisatawan, baik domestik
maupun mancanegara.
|