Kanvas yang tak terbatas Pelukis made wiyanta rupanya tak merasa cukup dengan sebidang kanvas. lalu
ia pergi ke alam dan menikmati kebebasan berkarya, dan tersajilah pameran
karya instalasi. |
KALAU pelukis tak punya cat, apa lalu berhenti berkarya? Kalau tak puas
dengan bidang gambar, apa lalu tak membuat sesuatu?
Orang yang bertanya-tanya itu bernama Made Wiyanta, 44 tahun, yang selama ini
dikenal sebagai pelukis. Karya Wiyanta di tahun 1980-an adalah karya-karya
ornamentik tanpa bentuk yang pasti. Karya-karya yang bertolak dari ornamen
pada wayang kulit Bali yang dikembangkan menurut imajinasinya sendiri sebebas
mungkin. Jadinya adalah sebuah dunia garis dan warna yang melingkar- lingkar,
saling membelit, menjulur ke atas, ke bawah, ke segala arah. Kadang-kadang di
antara belitan-belitan itu muncul kepala manusia dengan rambut bagai api, atau
sekadar dua biji mata. Suatu keliaran imajinasi yang, entah bagaimana, sangat
berbau Bali.
Kemudian Wiyanta, tampaknya, mengalami kejenuhan penciptaan hal yang bisa
menimpa seniman siapa saja. Karena itu, muncullah pertanyaan-pertanyaan di
atas. Dan dua pekan lalu, di Desa Apuan, di halaman berumput studionya,
Wiyanta memamerkan jawabannya berupa 20-an karya yang lazim disebut karya
instalasi.
Di desa sekitar 45 km dari Denpasar itu ia memamerkan, misalnya, batu-batu
padas yang biasanya untuk penyangga tiang pura yang diserakkan, hampir
membentuk lingkaran. Lalu dua batang bambu, satu polos, ditancapkan ke tanah
membentuk sudut sekitar 44 derajat. Satu lagi dicat putih, ditancapkan tegak
lurus di dekat yang polos. Lalu ada beberapa batang bambu yang dipasang
membentuk seperti atap rumah berbentuk prisma segi tiga, ditambah sejumlah
bambu diletakkan berderet.
Di sisi lain sejumlah pakis, media untuk menanam anggrek, ditumpuk hampir
membentuk lingkaran, dan di media itu ditancapkan lidi-lidi tegak lurus. Ada
pula sebentuk batu, dicap putih, dibentuk seperti torso, tapi dari satu sisi
terlihat seperti phallus. Batu ini diletakkan di bawah kerangka prisma segi
tiga tegak lurus dari kayu, diletakkan terbalik. Tampaknya karya instalasi
bagi sebagian perupa, di Indonesia maupun di mana saja, menjadi semacam
selingan. Yakni ketika media berkarya yang biasa terasa tak menampung gagasan
dan emosi, ketika diperlukan sesuatu yang lain dari biasanya. Dan karya
instalasi, yang di Barat berkembang dari Dadaisme dan Pop Art, memberikan
ruang penciptaan, bisa dikatakan, tanpa batas.
Kanvas karya instalasi adalah lingkungan senimannya, apakah itu ruang
pameran, halaman sebuah bangunan, pantai, hutan pokoknya di mana saja yang
memungkinkannya. Media karya ini pun tak terbatas. Apa saja mungkin: kayu,
batu, air, lumpur, benda jadi, listrik, pohon, manusia.... Cara ''melukiskan''
karya instalasi pun tak terbatas. Menggores, mengecat, memotong, menata,
menyambung, menancapkan, dan sebagainya yang bisa dibayangkan.
Lalu apa yang mau dicapai? Sebuah pengalaman yang tak terbatas pada sebidang
kanvas, sebentuk kayu, atau seonggok batu. Sebuah karya yang bukan saja
memperhitungkan ruang, tapi juga gerak, angin, arus, cahaya, dan lain-lain.
Dengan kata lain, semangat dasar karya instalasi adalah kebebasan. Kebebasan
menciptakan sesuatu yang di antara benda- benda yang sudah ada (rumah, batu,
pohon, becak, dan lain-lain) sesuatu itu terbayangkan menjadi kesatuan,
menjadi bagian dari dunia benda-benda itu, tapi tetap memancarkan keunikannya
sendiri. Sesuatu yang sengaja dibuat, tapi kemudian hadir secara wajar
sebagaimana hadirnya sebatang pohon di halaman, atau seonggok batu di kali.
Dengan kriteria itu sebenarnya karya-karya instalasi Wiyanta kebanyakan
terasa belum lahir dari semangat ''mau bebas''. Pada kebanyakan karyanya masih
terasa perencanaannya belum menjadi karya yang menjadi bagian dari alam, karya
yang wajar tadi. Segi Tiga, judul ''atap rumah'' bambu-bambu tadi, masih
terasa diatur komposisinya. Batasan Aids, karya mirip phallus tadi, terasa
ditata keseimbangannya antara phallus dan kerangka prismanya. Pun pada
Bayangan Putih, karya berupa dua bambu yang satu tegak lurus yang satu miring.
Ini juga terasa pada Perputaran, karya batu-batu padas yang diserakkan itu.
Yang bisa dikatakan lumayan adalah Petak, karya medium pakis yang ditancapi
lidi-lidi. Karya ini seperti hadir di hadapan kita begitu saja, dan sekaligus
memancarkan keunikan karena perpaduan antara medium pakis dan lidi-lidi bukan
sesuatu yang biasa dibentuk oleh alam. Juga Tumpah, benda-benda seperti ulat
berwarna merah, putih, dan biru ditumpahkan ke suatu petak kayu, dan sebagian
meluap keluar dari petak.
Akhirnya, apakah itu karya instalasi, atau gambar hitam-putih di kertas, atau
coreng-moreng cat warna-warna di kanvas, kehadirannya akan tak punya makna
bila itu tak mensubversi kita dengan pengalaman estetik. Suatu pengalaman
merasakan keindahan yang tanpa pamrih, yang menjadi perbendaharaan ruhani.
Bila pameran yang sepi pengunjung ini ada harganya, setidaknya dua karya
tersebut terakhir memang memberikan itu. Meskipun karya- karya Wiyanta yang
gambar ornamen-ornamen lebih punya kekuatan dalam memberikan pengalaman
estetik itu.
Putu Wirata (Denpasar) & BB (Jakarta)
|