Surat dari redaksi Biro Tempo di Tokyo mengadakan simposium tentang bahasa indonesia di asia timur. acaranya semarak, dihadiri pakar dari rrc dan korea selatan. |
SEIICHI Okawa, Kepala Biro TEMPO di Tokyo, tampaknya punya angan-angan:
suatu waktu bahasa Indonesia akan menjadi bahasa persatuan di Asia Timur. Ia
punya alasan untuk mendukung angan- angan itu, antara lain, sejarah masa lalu
membuat hubungan antarbangsa di Asia Timur kurang harmonis. RRC dan Korea
Selatan, misalnya, punya hubungan yang kurang harmonis. Lalu, rakyat RRC atau
Korea Selatan menyimpan rasa kurang senang pada Jepang karena Negeri Sakura
itu pernah menjajah negerinya. Nah, untuk menjembatani kesenjangan komunikasi
antarrakyat di Asia Timur itulah Okawa melihat bahasa Indonesia bisa berperan.
Maka, Okawa mengatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa masa depan di kawasan
Asia Timur.
Okawa, yang fasih berbahasa Indonesia dan pernah tinggal di pedalaman Irian
Jaya itu, tak hanya berangan-angan, tapi juga berikhtiar. Maka, selama dua
hari, pekan lalu, di Tokyo, berlangsung simposium tentang bahasa Indonesia di
Asia Timur. Tujuan perhelatan ini: membahas dan saling tukar informasi tentang
pengajaran bahasa Indonesia di Asia Timur. Sebagai sahibul bait, tentulah Biro
TEMPO Tokyo. Dalam kerepotan ini, Okawa dibantu Shizuko Ito, 23 tahun, sarjana
bahasa Indonesia, alumni Universitas Bahasa Asing Tokyo, yang tahun lalu
bergabung dengan Biro TEMPO Tokyo.
Dalam mewujudkan simposium ini, mula-mula Okawa mengirimkan proposal ke
berbagai pihak. Goenawan Mohamad, bekas Pemimpin Redaksi yang kini menjadi
Redaktur Senior TEMPO, adalah orang pertama yang dikirimi proposal oleh Okawa.
Proposal juga dikirim kepada Profesor Ju San-Yuan dari Universitas Beijing dan
Profesor Chung Young-Rhim dari Universitas Bahasa Asing Hankuk, Seoul.
Keduanya dosen bahasa Indonesia yang paling terkemuka di negaranya, dan
dikenal Okawa ketika ia melakukan tugas jurnalistik di kedua negeri itu. Kedua
profesor itu pernah mengusulkan pada Okawa agar TEMPO menjembatani para dosen
bahasa Indonesia di Korea Selatan, Jepang, dan RRC, dalam bertukar informasi
tentang pengajaran bahasa Indonesia.
Simposium berlangsung semarak, dihadiri sekitar 40 peserta. Mereka, antara
lain, para dosen dan mahasiswa bahasa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi
di Jepang, staf Gaimusho (Deplu Jepang), dan para staf dari berbagai lembaga
kebudayaan di Tokyo. Dari Jakarta, hadir Goenawan Mohamad (TEMPO) dan Kepala
Pusat Bahasa Departemen P dan K Hasan Alwi. Dubes Indonesia di sana, Poedji
Koentarso, tentu tak ketinggalan hadir. Menteri P dan K Wardiman Djojonegoro
memberikan sambutan tertulis.
Pembicara dalam simposium ini selain profesor dari Korea Selatan dan RRC
yang sudah disebut adalah Profesor Shigetsugu Sasaki dan Kazuko Ishii dari
Universitas Bahasa Asing Tokyo, serta Profesor Toshiki Kasuya dari Kyoto
Sangyo University. Mereka itu tentu saja ahli atau pengajar bahasa Indonesia.
Simposium berbiaya tiga juta yen ini perusahaan patungan Jepang Indonesia,
Nippindo Co., menjadi sponsornya akhirnya membuahkan kesepakatan, berupa
pembentukan FBI-Astim (Forum Bahasa IndonesiaAsia Timur). Forum ini akan
menggalakkan tukar- menukar informasi di antara para pengajar bahasa Indonesia
di Korea Selatan, Jepang, RRC, dan Indonesia. Melalui simposium ini TEMPO
mengumumkan secara resmi untuk memberikan ''Hadiah TEMPO'' untuk mahasiswa
bahasa Indonesia di Jepang, RRC, dan Korea Selatan yang mampu mengarang dengan
baik dalam bahasa Indonesia. Hadiahnya, antara lain, tiket pesawat pulang
pergi dari ibu kota negara masing-masing ke Jakarta, dan ongkos menetap selama
sebulan, di Indonesia.
|