Mainan anak sama saja Di solo ada festival permainan anak-anak tradisional dari berbagai daerah.
permainan tradisional dan modern dianggap sama saja: semua bisa mengembangkan
anak-anak. |
ISTANA Mangkunegaran Solo mendadak menjadi arena main anak- anak. Selama
sepekan, sejak Kamis minggu lalu, anak-anak dari 23 provinsi bebas bermain di
pendopo dan halaman depan keraton, mengikuti festival permainan anak-anak
tingkat nasional yang dibuka Kanjeng Putri Mangkunegara, istri Mangkunegara
IX.
Acara yang diprakarsai Istana Mangkunegaran, PT Global Sarana Media
Nusantara, dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dengan biaya Rp 200 juta
itu dimaksudkan untuk menggali dan melestarikan dolanan anak tradisional dari
seluruh Indonesia. ''Mangkunegaran, sebagai pusat pengembangan budaya,
memberikan kesempatan bagi penggalian budaya Indonesia dalam hal mainan anak
tradisional itu,'' kata Sri Mangkunegara IX.
Suasananya meriah. Namun, sajian itu tampak asing bagi sebagian anak-anak
kota yang lebih kenal dengan pistol- pistolan, mobil-mobilan Tamya atau remote
control, robot, dan mainan pabrik lainnya. Tak seperti layaknya anak-anak yang
main di pedesaan. Mereka yang bermain dalam festival ini mengenakan pakaian
tradisional daerahnya yang mentereng dan warna-warni. Bermain, menari,
menyanyi, tak ubahnya bak panggung hiburan.
Setiap kelompok diikuti sekitar 10 sampai 20 anak. Irian Jaya, misalnya,
menampilkan permainan Amiyogo. Wajah 12 anak laki-perempuan dirias warna
merah, putih, dan hitam. Mengenakan kaus dan celana merah, mereka
mengayun-ayunkan busur dan anak panah sambil meloncat-loncat berkeliling dan
bersilang-silang. Gerak kaki dan tangan mengikuti bunyi genderang yang
ditabuhnya sambil berpekik, ''ho..ho..ho....''
Seperti aslinya di pedalaman Irian Jaya sana, permainan dimulai dengan
menggelindingkan bola yang terbuat dari akar dan rumput. Anak laki-laki
berlomba mengokang busur dan melepas anak panah. ''Crakk...,'' panah pertama
menancap dan menghentikan bola ''babi hutan'' yang lari tadi. Memang ada panah
kedua dan lainnya yang mengenai sasaran. Tapi, seorang anak yang menjadi juri
lalu memutuskan juaranya, yakni pemanah pertama.
Seperti dituturkan pelatihnya, Rumbewas, permainan anak-anak Irian Jaya ini
punya maksud untuk mengembangkan anak. Secara tradisional, anak-anak
disadarkan bahwa tugas utamanya setelah dewasa adalah berburu. Mereka mesti
tangkas memanah karena hanya orang yang piawai memainkan panah yang dihormati.
''Yang pintar berburu, kalau sudah besar, akan gampang memikat gadis- gadis,''
katanya.
Lain lagi anak Timor Timur. Mereka memesonakan penonton dengan Trus Trus.
Permainan yang biasa diadakan malam bulan purnama itu menampilkan setan,
malaikat, ibu, dan anak-anak. Setan dan malaikat berlomba mencari anak yang
membawa dan menyembunyikan sekuntum bunga. Dalam adegan itu, setan menggoda
anak-anak dengan rayuan manis atau gelitik. Anak yang kegelian dan tertawa
dianggap menyerah pada setan dan memberikan bunga itu. Lain halnya anak yang
ingin ikut malaikat. Mereka mesti menahan kegelian dan mengatupkan bibir
rapat-rapat. Misinya: pendidikan menjadi anak yang baik.
Permainan tradisional lain yang ditampilkan adalah egrang, benthik (memukul
sepotong kayu kecil dengan tongkat, mirip golf), engklek (lomba lari dengan
satu kaki), gobag sodor. Ada lagi panah galah, atau Tok Tok Ada Tamu dari
Jambi.
Menurut Putu Wijaya, wartawan, sutradara, dan sastrawan yang menjadi salah
seorang juri, yang dinilainya adalah kekompakan, orisinalitas, dan kemungkinan
permainan itu untuk mengembangkan anak. Sedangkan putri Paku Buwono XII Koes
Murtiah, yang juga menjadi juri, lebih memperhatikan kebebasan dalam menari
dan menyanyi. ''Kalau taraf jiwa anak bisa los, bebas, dan asyik, maka akan
terjelma kekompakan antara tari dan nyanyi,'' katanya.
Menurut Putu, permainan anak modern bisa saja menjadi bumerang. ''Benda
plastik mainan modern selama ini kenyataannya ''menindas anak, menguasai
anak,'' katanya. Dan kebetulan semua permainan tradisional yang ditampilkan
itu mempunyai ''misi'' mengembangkan anak.
Diakui ahli psikologi dari Universitas Gadjah Mada Prof. Siti Rahayu
Haditono, permainan tradisional memang baik bagi perkembangan kepribadian
anak. Namun, katanya, hendaknya jangan lantas menilai mainan impor dari luar
negeri itu merugikan anak-anak. ''Jadi, masalahnya bukanlah soal modern atau
tradisional,'' katanya. Segala bentuk mainan anak mesti mengandung unsur yang
bermanfaat bagi perkembangan kreativitas, keterampilan, fantasi, kognisi, dan
kecerdasan.
Mainan tradisional yang dianggap mengandung unsur pendidikan antara lain
merangkai daun nangka untuk mahkota, membuat kuda lumping dari pelepah pisang,
tembakan bambu dengan peluru bunga petai cina. Sedang permainannya, sebut saja
massalo atau gobak sodor yang dahulu dipelesetkan juga sebagai ''impor''
karena bunyinya mirip ucapan go back shut door. Juga ada jamuran, amiyogo, dan
lain-lain.
Walau demikian, permainan modern berteknologi juga mesti diperkenalkan pada
anak karena anak-anak juga bisa berkembang dengan yang modern itu. ''Agar
anak-anak tak gamang,'' kata seorang pengamat pendidikan.
Kastoyo Ramelan dan AB
|