Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXIII/31 Juli - 06 Agustus 1993
   
Nasional

Tragedi dini hari pencari rezeki

Lebih dari 100 pencari kerja ke malaysia dipaksa awak kapal terjun ke laut di malaysia. ditemukan 47 mayat, selain 57 orang selamat dan beberapa yang hilang. awak kapal menghilang.

MAKSUD hati memburu rezeki, apa daya laut menelannya. Itulah nasib para
pencari kerja asal Indonesia yang tewas digulung ombak, Selasa dini hari pekan
silam, di pantai Kampung Tali Air tak jauh dari Pantai Morib, Selangor,
Malaysia atau sekitar 60 km selatan Kuala Lumpur.
Kisah tragis ini bermula ketika lebih dari 100 penumpang menceburkan diri ke
laut setelah kapal Bara Damai menyodok onggokan pasir. ''Saya mengira sudah
sampai di pantai. Tinggi air cuma sampai sedada,'' kata seorang penumpang yang
selamat. Para tekong kapal, yang jumlahnya empat orang, memang memaksa semua
penumpang terjun ke air. ''Turun... turun. Nanti kalau di pantai harus
berpencar,'' katanya. Maka, para penumpang pun berhamburan meloncat ke laut,
sambil menenteng tas masing- masing, di kegelapan. Ternyata, pasir tadi hanya
berupa beting gundukan pasir yang terbentuk oleh gulungan ombak. Jarak laut
sedalam tiga meter masih dua kilometer ke pantai.
Ada juga yang ragu-ragu karena tak bisa berenang seperti Maryati, yang
kemudian mengaku didorong oleh seorang tekong. Seperti cerita Maryati, ia
kemudian terbawa arus pasang dan terapung-apung selama tiga jam. ''Saya masih
hidup karena izin Allah,'' katanya.
Tak semua bisa berenang. Kalaupun ada yang bisa, mungkin tak kuat mencapai
pantai. Sebab, dalam perjalanan hampir 10 jam itu, mereka tak makan.
''Bagaimana mau makan. Kapalnya terlalu kecil, penumpangnya berdesakan.
Bergerak saja susah,'' cerita Busrai. Perahu itu panjangnya cuma 17 meter dan
lebar tak sampai 3 meter biasa disebut perahu pongpong.
Si pongpong ini berangkat pada hari Senin pukul 11.00 siang dari Pelabuhan
Babi, Desa Purnama, sekitar 25 kilometer dari Dumai. Esok paginya, sekitar
pukul 6.00, seorang pencari kerja yang selamat terdampar di pantai ditemukan
oleh polisi penjaga Istana Hinggap milik Sultan Selangor. Dari sinilah kabar
mengenaskan itu tersiar. Laporan kemudian diteruskan ke petugas Pusat
Koordinasi Penyelamat Maritim (MRCC) terdekat, di Pelabuhan Klang.
Sampai akhir pekan silam 47 mayat ditemukan. Di antaranya terdapat dua bocah
berusia 2 dan 9 tahun. Mereka dimakamkan di tanah pekuburan Islam Banting.
Yang selamat 57 orang. Hingga Sabtu pekan silam, mereka masih ditahan polisi
sebelum diserahkan ke imigrasi Malaysia.
Jumlah penumpang nahas yang dibawa kapal itu belum diketahui persis. Menurut
mereka yang selamat, kira-kira ada 130 orang. Namun, yang belum ditemukan
tampaknya akan dinyatakan hilang. ''Jika tak ada lagi mayat yang ditemukan,
pencarian akan segera dihentikan,'' kata Kepala Polisi Distrik Kuala Langat,
Suleiman Mahmud, kepada TEMPO Jumat pekan silam.
Para pencari kerja yang nahas itu di antaranya berasal dari Madura, Lumajang,
Lamongan, Medan. Mereka biasanya menjadi buruh perkebunan kelapa sawit. Di
negeri jiran itu upahnya sekitar Rp 20.000 per hari. Bandingkan, pekerjaan
yang sama di Riau cuma diupah Rp 3.000 sampai Rp 3.500.
Menurut para pencari kerja itu, mereka membayar Rp 500.000 sampai Rp 600.000
per orang pada seseorang yang biasa dipanggil si Sabuk, untuk bisa sampai di
Malaysia. Kini, Sabuk pemilik kapal Bara Damai beserta tiga anak buahnya
sedang dikejar polisi. Kapal itu sendiri saat ini ditahan di dermaga TNI-AL di
Dumai.
Dumai menjadi salah satu titik pemberangkatan para pencari kerja ke Malaysia.
Di kota minyak tersebut tercatat ada belasan tekong calo yang sekaligus
memberangkatkan mereka. Setelah peristiwa di Pantai Morib itu, para tekong
raib.
Menurut Polisi di Kuala Langat, Malaysia, setiap minggunya ada dua atau tiga
kapal dari Indonesia yang menurunkan pendatang haram. Malah, dua hari sebelum
tragedi Morib itu, ada tertangkap 30 orang. Tak kurang Deputi Menteri Dalam
Negeri Malaysia, Megat Junid Megat Ayob, mengimbau agar para pencari kerja tak
menggunakan jalur haram. Selain ongkosnya lebih mahal, risikonya pun tinggi.
Bea resmi feri Dumai-Malaka hanya Rp 64.000.
Sekalipun kabar mengenaskan itu sudah merebak, gelombang pencari kerja ke
Malaysia tampaknya tak akan reda. ''Di sana pasti mendapat pekerjaan. Malaysia
butuh tenaga kerja Indonesia,'' kata seorang tekong di Dumai kepada TEMPO.
Ahmed Kurnia S. (Jakarta), Diah Purnomowati (Dumai), dan Ekram H. Attamimi
(Selangor)
MENURUT catatan Pusat Koordinasi Penyelamat Pantai (MRCC), dalam lima tahun
terakhir ini ada lebih dari 400 pencari kerja asal Indonesia yang tewas di
perairan dekat Semenanjung Malaysia. Misalnya:
22 Mei 1989: 223 orang meninggal dari 325 penumpang kapal Dharma Mulia yang
karam dalam pelayaran dari Tanjung Benoa, Indonesia.
27 Mei 1989: 39 orang termasuk enam wanita dan dua anak tewas. Tongkang
berpenumpang 40 orang terbalik, 40 km dari pantai Parit Jawa, Johor. 29 Juni
1991: 117 orang tewas setelah kapal yang mereka tumpangi dihantam kapal tanker
di Selat Malaka.
14 Oktober 1991: 18 tewas setelah tongkang yang ditumpangi karam, 10
kilometer dari Pulau Kukup, Johor.
1 Mei 1993: 18 orang tewas. Perahu yang mereka tumpangi tenggelam dekat
Singapura.
27 Mei 1993: 6 orang tewas. Kapalnya karam dekat Pantai Muara Johor.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data