Abri memberi sinyal Abri tak ingin mencampuri kongres pdi. menhankam menganggap soerjadi
terpilih kembali akibat manipulasi terhadap tata tertib. dari lima calon ketua
umum pdi sebenarnya soerjadi paling bagus di antara yang jelek. |
PIHAK yang berwenang telah berunding dengan ''kaum pembangkang?'' Itu jarang
terjadi. Tapi itulah yang agaknya berlangsung selama Kongres PDI di Medan,
Jumat lalu. Jacob Numawea, seorang tokoh PDI Peralihan, setelah berbicara
dengan seorang anggota keamanan berpangkat kapten, diperbolehkan masuk arena
kongres untuk berunding dengan Ketua Umum (terpilih) DPP PDI Soerjadi. Namun,
Jacob tak berhasil menemui Soerjadi. Sementara ''pasukan'' Jacob, yang menanti
di luar arena kongres, menduga Jacob dan empat aktivis lain telah dijadikan
sandera oleh kelompok Soerjadi. Akibatnya, terulang insiden pendobrakan
seperti kejadian sehari sebelumnya. Edy Suparman, Ketua PDI Peralihan Kodya
Medan, dengan Toyota Canvas warna hijau tentara, bak film-film action,
berhasil menerobos barikade pagar betis pasukan anti huru-hara, yang nampaknya
tak begitu ambil pusing. Dalam waktu singkat massa PDI Peralihan dan kelompok
Asal Bukan Soerjadi (ABS) berhasil menguasai sebagian arena kongres.
Dari pintu gerbang sampai ruang sidang utama dikuasai kelompok ABS, sedangkan
bagian belakang ruang sidang utama hingga ke seluruh asrama dipegang kelompok
Soerjadi. Ketika kelompok Soerjadi minta pihak keamanan untuk mengeluarkanPDI
Peralihan Ahad lalu, para petugas nampak tak begitu menghiraukannya.
Ini pertanda apa? Sumber TEMPO dari kalangan aparat mengaku memang
''diinstruksikan'' untuk membiarkan kelompok penentang Soerjadi memasuki arena
kongres. Yang penting, katanya, jangan sampai dua kelompok itu berkelahi dan
bikin keributan.
Akibatnya, kongres jadi tidak menentu. Keputusan peserta sidang, yang sejak
awal kongres memilih kembali Soerjadi, justru jadi pemicu kekacauan. ''Ya,
yang saya dengar, kongres itu cuma brat bret brat bret, selesai,'' kata Menko
Polkam Soesilo Soedarman mengomentari tampilnya kembali Soerjadi. ''Kayak
rapat RT saja,'' kata stafnya menimpali. Artinya, belum dapat dipastikan bahwa
Soerjadi bakal tampil memimpin partai berlambang kepala banteng periode lima
tahun mendatang. Lagi pula, ''Kalau pemerintah tidak menghendaki, ya, Soerjadi
kan tinggal kenangan,'' kata sebuah sumber TEMPO.
Tanda-tanda Soerjadi mau dihabisi sebenarnya sudah terlihat jauh hari
sebelumnya. Pangdam Diponegoro Mayjen Suyono, misalnya, ketika memberi bekal
kepada perutusan PDI dari Jawa Tengah mengatakan agar tidak memilih pimpinan
yang cacat hukum. Bekal serupa juga diterima oleh perutusan dari daerah lain,
seperti Yogya dan Jakarta. Dan Pangab Jenderal Feisal Tanjung sendiri sudah
lebih dulu mengimbau peserta kongres PDI agar memilih pimpinan yang bersih.
Ini dikemukakan, kata sebuah sumber yang mengetahui, sehubungan dengan
disebut-sebutnya Soerjadi terlibat dalam kasus penculikan Eddy Sukirman,
seorang tokoh Pemuda Demokrat. Seperti disampaikan di persidangan,
saksi-saksi, yang dimajukan dalam perkara Alex Asmasoebrata, menyatakan
Soerjadi terlibat. Bahkan Alex sendiri sebagai terdakwa juga menuding Soerjadi
terlibat. Makanya, kata sumber tersebut, dalam perkembangannya nanti Soerjadi
bisa saja jadi terdakwa. Artinya, kalau Soerjadi sampai jadi terpidana, itu
akan merepotkan PDI sendiri. Sebenarnya, dari lima calon Ketua Umum PDI itu
Soerjadi termasuk yang paling bagus di antara yang jelek. Hanya saja,
sehubungan dengan kasus penculikan di atas, tambah sumber tersebut, kemudian
yang lebih diharapkan adalah Budi Hardjono. ''Tapi di sini ABRI hanya memberi
sinyal. Ini lho sebaiknya yang dipilih,'' katanya.
Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta B.T.P. Siregar sendiri tak menepis
kemungkinan Soerjadi jadi tersangka. Kepada TEMPO, Siregar mengatakan bahwa
yang menjadi pegangan pihak kejaksaan adalah keterangan saksi-saksi. ''Kalau
memang perkembangan pengadilan begitu, ya, apa boleh buat,'' kata Siregar.
Menhankam Jenderal Edi Sudradjat dalam pengarahannya kepada peserta kongres
mengingatkan, ''PDI bukanlah milik anggotanya saja, yang dapat berbuat
segalanya tanpa mengindahkan perhatian serta concern masyarakat luas.'' Ia
juga mintakepada kader PDI agar perhatian masyarakat, termasuk pemerintah,
jangan ditafsirkannya sebagai intervensi terhadap masalah intern. Tapi
hendaknya ditafsirkan sebagai kecintaan kepada PDI.
Bagaimana halnya dengan Soerjadi yang berhasil terpilih kembali? ''Wong tata
tertib kongres saja tidak diikuti. Main manipulasi gitu kok,'' kata Edi
Sudradjat kepada Sri Pudyastuti dari TEMPO di Manado, Senin pekan ini. Ya,
begitulah yang namanya politik.
Agus Basri, Dwi Setyo Irawanto, Iwan Qodar, Irwan Siregar
|