''menuntut bersatu, tapi caranya begitu ...'' Wawancara tempo dengan soerjadi sekitar kongres pdi di medan yang berakhir
tanpa acara penutupan akibat konflik. |
KONGRES IV PDI di Medan berakhir dengan tanda tanya tentang nasib Soerjadi.
Ia terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum DPP dalam sidang pleno hari
kedua. Kongres berakhir tanpa ada sidang pleno lagi karena ruang sidang
diduduki kelompok nonpeserta. Apa kata Soerjadi? Berikut petikan wawancaranya
dengan TEMPO beberapa saat sebelum kongres bubar:
Ada tuduhan, kongres ini tak mengindahkan tata tertib.
Saya kira tak benar. Kongres ini baru pemilihan ketua umum. Pemilihan DPP
nanti. Mengapa begitu? Karena dalam pemandangan umum semua peserta sudah
langsung menyebut ketua umum. Saya juga menginginkan pemilihan setelah selesai
sidang komisi organisasi yang membicarakan tata cara pemilihan. Secara terbuka
saya menyatakan pemilihan itu dengan pemungutan suara. Tapi kongres kan tidak
bergantung pada pendapat saya, dan saya tunduk pada keputusan kongres.
Kabarnya, DPD-DPD dikumpulkan untuk mempercepat sidang.
Tidak benar. Pemilihan ketua umum itu merupakan spontanitas atau gerakan yang
tiba-tiba. Itu munculnya dari floor. Mula- mula dari DPD Yogya. Yogya kan
pembicara sebelum terakhir, sebelum DPD Sum-Ut yang paling akhir.
Utusan Yogya itu mengatakan, ''Sudah calon tunggal, tidak ada calon yang
lain.'' Saya saksikan semuanya mendukung. Dukungannya sama. Jadi, calon ketua
umum itu mendapat dukungan dari semua yang hadir. Ini sebetulnya sudah
aklamasi. Padahal, Sumatera Utara belum bicara. Aklamasi itu barangkali karena
sugesti pembicara dari Yogya itu. Ketika itu, terdengar teriakan-teriakan
interupsi dari belakang, tetapi untuk menyebutkan aklamasi. Itu yang ditangkap
oleh pimpinan sidang.
Dalam pemandangan umum kok ada DPC, ada DPD?
Peserta dari daerah kan terdiri dari lima orang DPD dan dua orang DPC. Dan
semuanya memiliki kesempatan yang sama. Mereka harus membagi waktu, biasanya
dengan cara menggabungkan DPD dengan beberapa DPC supaya semuanya bisa
ngomong. Ada juga DPD yang ngomong atas nama seluruh DPC. Hal itu mereka
tempuh karena nggak mungkin semua orang bisa ngomong.
Setelah Anda terpilih sebagai ketua umum, Anda menghadapi sidang pengadilan
di Jakarta. Dan tidak tertutup kemungkinan Anda akan dihadapkan sebagai
terdakwa. Nah, sidang-sidang pengadilan ini kan membuat Anda tidak efektif
jadi ketua umum?
Sidang-sidangnya, kalau saya lihat persidangan Alex, seminggu hanya dua kali.
Setelah terpilih sebagai ketua umum, apa rencana Anda untuk rekonsiliasi?
Pertama-tama haruslah diingat apa yang menyatukan kami, orang-orang PDI. Kami
ini kan dipersatukan oleh cita-cita, oleh konsepsi, oleh idealisme. Terjadinya
persatuan itu pada dasarnya kalau kita mau lebih mendalami cita-cita. Itu baru
namanya persatuan. Saya ingin, sebelum masuk ke dalam persatuan itu, hendaknya
lebih jelas apa pengertian persatuan itu. Jadi, jangan terlalu sederhana
memberikan pengertian ''persatuan- kesatuan'' atau ''rekonsiliasi''.
Nah, kalau orang yang mengajak bersatu itu dengan cara, misalnya, membakar
patung saya dan membawa poster ''Soerjadi antek PKI'', kira-kira bisa nggak
orang seperti ini diajak bersatu dengan landasan cita-cita atau idealisme yang
sama? Lo, kita ini wajar-wajar sajalah. Saya ini kan juga manusia biasa. Jadi,
kalau ada orang memperlakukan saya seperti itu, lalu ia mengajak bersatu
dengan saya, bagaimana mungkin kalau iktikadnya saja begitu? Anda lihat kan
kemarin mereka menuntut bersatu, tapi caranya begitu. Dan itu sudah mereka
lakukan bertahun-tahun. Ini soal pertama. Yang kedua, kalau mereka bisa
memperbaiki cara-cara seperti itu, tentu tidak tertutup kemungkinan untuk
rekonsiliasi. Sebab, saya toh pada akhirnya juga manusia biasa.
Kabarnya ada ''titipan-titipan''.
Titipan itu memang banyak. Di antara mereka yang dititipi itu ada yang
menyampaikan kaset rekaman kepada saya. Sekali-sekali tidak ada salahnya kan
PDI juga main intel-intelan mengantongi kaset rekaman kecil. Tapi apa kemudian
yang terjadi? Nah, aklamasi. Soalnya ialah karena sebelumnya saya sudah
berusaha menanamkan kepada kader-kader PDI kemandirian sebagai partai. Kalau
kemudian mereka hanya menjadi pelaksana dari para penitip, itu yang salah
saya.
Kesan Anda setelah terpilih?
Saya sangat terharu. Hal itu terutama karena saya sudah cukup lama
diperlakukan tidak enak, diperlakukan semena-mena seperti kejadian di Medan
ini. Justru perlakuan terhadap saya itu malah mempengaruhi pandangan para
utusan dari cabang terhadap saya. Selama ini, selama berhari-hari, barangkali
lebih dari sebulan atau dua bulan, saya selalu diberitakan yang jelek-jelek.
Tetapi justru berita-berita itulah yang membuat orang lalu berubah pikiran
atau pandangannya terhadap saya. Nah, tiba-tiba di kongres malah terjadi
aklamasi. Padahal, sebelumnya ada beberapa orang yang mencalonkan diri atau
dicalonkan sebagai ketua umum. Dengan adanya pencalonan-pencalonan itu,
sebenarnya sudah ada jaminan untuk tak mungkin terjadi aklamasi memilih saya.
Belum lagi akibat psikologis karena adanya tulisan di media massa. Itulah
beberapa kenyataan yang mendahului kongres ini dan bahkan juga mendahului
pemilihan ketua umum. Kondisinya itu begitu. Itu sebabnya saya terharu. Kok
begitu besar kepercayaan teman-teman kepada saya.
|