Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 22/XXIII/31 Juli - 06 Agustus 1993
   
Lingkungan

Grayak bergerilya di jepara

Hama ulat grayak telah membinasakan 500 hektare tanaman kacang tanah di jepara. sekitar 12.000 hektare lagi kini sedang terancam. tidak ada penangkalnya yang ampuh. biarkan saja?

AKSINYA mirip gerilyawan Vietkong. Mereka menyerang tanaman kacang tanah di
malam hari, tapi sepanjang siang, pasukan yang jumlahnya jutaan itu raib ke
bawah tanah atau dedaunan. Itulah gerombolan grayak (spodoptera litura),
sejenis ulat yang sejak Mei lalu tiba-tiba menyerang 23 desa di Kabupaten
Jepara, Jawa Tengah.
Akibatnya, hanya 30% dari panen kacang tanah yang tersisa. Kecamatan
Batealit, misalnya, diserang habis-habisan dan cuma memetik satu ton kacang
per hektare biasanya 3 ton per hektare. Ternyata, gerombolan grayak itu telah
melahap batang dan menghampakan biji kacang.
Ulat ganas ini telah memusnahkan sedikitnya 500 hektare tanaman kacang tanah
yang baru berumur dua bulan. Kerugian ditaksir Rp 300 juta lebih. Lalu,
sesudah menghancurkan kacang tanah, pasukan grayak menyerang tanaman ketela,
dan lebih gila lagi, melabrak ke rumah-rumah penduduk.
Para petani menahan serangan ulat itu dengan semprotan pestisida. Apa daya,
grayak yang menyerang Jepara tergolong generasi stadium IV yang lebih tangguh,
sehingga sulit dibinasakan dengan pestisida.
Bahkan, dalam dua malam saja, hama itu bisa menghajar satu hektare tanaman
kacang. ''Serangannya semakin mengganas,'' kata Hartoyo, petani asal Desa
Kecapi.
Menurut Kepala Laboratorium Pengamatan Hama & Penyakit Tanaman, Pati, Priyo
Sanyoto, ulat grayak Jepara itu termasuk grayak capyema exempta yang
keranjingan makan dedaunan dan populasinya cepat berkembang.
Seekor kupu grayak dalam tempo seminggu dapat membiakkan 90 - 200 ulat.
Badannya setipis lidi, panjangnya sekitar 3 sentimeter, sedikit berbulu,
berwarna hijau loreng-loreng atau kuning bertutul.
Grayak sudah dikenal sejak tahun 1936. Pada masa itu yang diserangnya adalah
tebu dan padi. Kini, setengah abad kemudian, hama itu sudah berkembang dalam
beberapa generasi dan tampaknya jadi lebih ganas. ''Serangan seperti ini baru
pertama kali terjadi,'' kata Sugeng, petugas Sub-Dinas Perlindungan Tanaman
Pangan, Jawa Tengah.
Mengapa grayak merajalela? Perubahan cuaca yang tak menentu dianggap sebagai
peletup hama tersebut. Hujan yang turun hingga Juni, kata Priyo, menyebabkan
makanan predator ulat grayak seperti serangga, bakteri, dan jamur masih
melimpah. ''Akibatnya, siklus ulat grayak tidak dapat diputus,'' ujar Sugeng.
Lain lagi pendapat Hermanu Triwidodo, pakar hama dan penyakit tanaman dari
Institut Pertanian Bogor (IPB). Katanya, ledakan hama juga bisa disebabkan
pemakaian pestisida yang kurang tepat. Penyebab lainnya adalah pembukaan lahan
dengan membakar rumput dan ilalang. Akibatnya, ''Pengaturan alamiah tak lagi
seimbang,'' Hermanu menegaskan.
Namun, pemerintah juga dituding, kabarnya karena beberapa jenis pestisida,
yang tak dipakai lagi di negara asalnya, di sini justru direkomendasi. Salah
satu pestisida itu adalah Furadan, yang dua tahun lalu ditarik pemerintah
Amerika dari peredaran.
Yang pasti, belum ada formula ampuh menangkal grayak. Pestisida tidak mempan,
dan oleh para ahli malah diperkirakan bisa menimbulkan bahaya lebih besar.
Karena itu, Hermanu cenderung membiarkan grayak tanpa disemprot. ''Kalau
dibiarkan, nanti akan terjadi outbreak yang lebih kecil, dan kemudian normal
kembali,'' katanya enteng.
Menurut Doktor Entomology lulusan Universitas Wisconsin ini, pestisida
membuat ulat yang tidak mati jadi kebal. Sedangkan predator ulat grayak justru
terganggu kelangsungannya. Ulat- ulat itu memang punya musuh alamiah pada tiap
fase perkembangannya, sejak telur hingga kupu-kupu.
Pendapat serupa juga dikemukakan Aunu Rauf, Ketua Jurusan Hama dan Penyakit
Tanaman IPB, dan Prof. Soemarto Sostromarsono. Menurut Soemarto, pestisida tak
akan mematikan ulat grayak sta- dium V dan VI. Telurnya, yang terlindung bulu-
bulu rapat, juga sulit dimusnahkan.
''Cara yang paling mungkin ialah dengan mengambil ulat dan telurnya dari
tanaman. Kalau tidak segera diatasi, ya, mungkin terjadi ledakan berikutnya,''
kata Soemarto.
Kini para petani mulai menerapkan cara Soemarto. Sementara itu tak jelas
apakah ledakan hama berikutnya dapat dihindari atau tidak. Akhir pekan ini,
gerombolan grayak malah mengancam 12 ribu hektare tanaman kacang tanah
lainnya. ''Belum ada tanda-tanda se- rangan akan berakhir,'' kata Muhadi,
Kepala Dinas Pertanian, Jepara.
Maka, selain mengambil ulat dan telur grayak, para petani menaburkan dedak
yang mengandung beras. Dedak itu diharapkan akan mendatangkan pasukan semut,
salah satu predator grayak. Cara lain adalah menjebak kupu-kupu grayak jantan
dengan menaruh hormon sexferomon dalam botol-botol plastik.
Hermanu, selian condong membiarkan si grayak, juga menyarankan pembuatan
saluran air yang dicampuri minyak tanah. ''Tapi hal ini hanya bisa dilakukan
di daerah yang ada pengairannya,'' tukas Hermanu.
Pengendalian biologis bisa merupakan jalan keluar, tapi untuk itu diperlukan
waktu cukup panjang. Mencampur bakteri dengan air, misalnya, bisa dipakai
untuk menyebarkan penyakit kepada ulat. Cara ini akan efektif membasmi ulat,
tanpa risiko mematikan serangga. Namun, untuk itu diperlukan waktu lama,
sedangkan petani kini sudah panik, sangat panik.
Bambang Aji, Bandelan Amarudin, dan Joewarno


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data