Sisi kepribadian sejarah kesadaran Penyunting: angus mclntyre clayton: centre of southeast asian studies,
monash university, 1993. resensi oleh : fachri ali |
DARI satu segi, buku ini berusaha menampilkan uniknya kepribadian para tokoh
yang distudi. Menurut pendekatan penulisnya, mereka memang tak harus merupakan
cermin struktur budaya masyarakat Indonesia. Para tokoh, sebagai pelaku
sejarah, mempunyai kebebasan memilih berbagai alternatif yang ditawarkan
struktur budaya.
Menurut Anthony Reid, penyuntingnya, para pengamat Indonesia selama ini
cenderung mengesampingkan pentingnya peran pribadi- pribadi besar. Mereka
melihat masalah hanya terbatas pada pola umum, kategori masyarakat dan budaya,
daripada menelaah perkembangan mental pribadi-pribadi besar itu. Dari segi
historis, buku ini juga menampilkan tokoh-tokoh yang seakan mewakili
perjalanan ''sejarah kesadaran'' masyarakat.
Indonesian Political Biography secara sederhana bisa dilihat dalam tiga
bagian besar. Pertama, biografi tokoh-tokoh yang telah merengguk ''kesadaran
universal'' awal. Keiindonesiaan dirumuskan (Soekarno, Sjahrir, Amir
Sjarifuddin, dan Siauw Giok Tjhan). Kedua, biografi ''mistik-politik''
(Soeharto) dan ketiga biografi tokoh-tokoh ''pelanjut'' yang menyerap
kesadaran universal di atas batas-batas nasional (Y.B. Mangunwijaya dan
Mochtar Lubis).
Bagian pertama menampilkan drama, tragedi pribadi dan politik para tokoh,
khususnya Amir dan Sjahrir. Amir, yang revolusioner, karir politiknya menanjak
19361940 disebut Jacques Lecrec penulisnya sebagai The Amir Years. Ia
terbunuh di tangan seorang letnan polisi militer di Desa Ngalihan, Solo 19
Desember 1948, hanya beberapa saat setelah bukan menteri pertahanan dan
perdana menteri.
Dalam konteks pribadi, Amir sukar dipahami. Sebagai nasionalis ''non-ko'', ia
pernah bekerja dengan H.J. van Mook di Departemen Ekonomi Hindia Belanda.
Setelah meninggalkan Islam agama masa kecilnya ia aktif di dalam lingkaran
politisi Protestan. Toh kemudian, secara terbuka pada 1948, ia mengakui
sebagai seorang komunis. Sjahrir tokoh yang menjadi perdanamenteri pertama
Indonesia, juru runding yang andal, arsitek demokrasi parlementer ini akhirnya
terbaring sendiri di lantai penjara. Stroke menggerogotinya pada awal 1965. Ia
meninggal, tulis Lindsay Rae, di Swiss, jauh dari negeri yang ia ikut
menciptakannya. Drama politiknya mengharukan. Sebagai seorang yang ''fanatik''
pada demokrasi dan pengritik PNI karena kuatnya unsur feodalisme di dalamnya
ia (bersama dengan PSI) juga bisa bertindak secara nonparlementer. Peristiwa
17 Oktober 1952, menurut Rae, adalah contoh ''deviasi'' PSI dari garis
demokrasi. Puncaknya, keterasingan PSI dari wacana politik nasional. Gagasan
universal hak asasi manusia dan kebebasan ''gagal'' bersentuhan dengan wacana
politik nasional kala itu.
Bagi generasi muda, nama Siauw Giok Tjhan dan visi kesenian Soekarno nyaris
tak dikenal. Melalui Siauw Tiong Djin, penulis biografi Tjhan, banyak hal yang
tak diketahui, tentang gerakan kaum nasionalis peranakan sebelum perang.
Analisa visi kesenian Soekarno terlukiskan dengan baik oleh Angus McIntyre.
Soekarno yang gemar karya seni naturalis, yang indah dan mengandung semangat
kebesaran dan kemegahan adalah refleksi ascenAsionism (kecenderungan akan hal
yang besar dan megah)-nya. Pulasan Soekarno atas Jakarta dengan berbagai
monumen termasuk Istiqlal merupakan usaha estetiknya memberikan ''baju
budaya'' untuk masyarakat, tapi melupakan realitas kehidupan. Kecenderungan
estetika ascensionism ini menjadi kunci untuk memahami konsep dan tindakan
politiknya. Gagasannya tentang Nasakom, untuk sebagian, adalah refleksi
kecenderungan itu: keinginan melihat persatuan di atas cetakan resmi. Namun ia
melupakan perpecahan, realitas telanjang kala itu.
Pada bagian kedua, kita menemukan biografi ''mistik politik'' Pak Harto. Pada
hemat saya, Margot L. Lyon, penulisnya, yang sangat berhasil menulis Bases of
Conflict in Rural Java, gagal menemukan data empiris kegiatan mistik tokohnya.
Ia hanya bertelekan pada spekulasi teoretis tentang teori dan konsep kekuasaan
Jawa. Pembangunan dan Pancasila merupakan simbol legitimasi. Pembangunan TMII
adalah simbol kultural keinginan Pak Harto mewujudkan negara dari awal dan
menempatkannya ke tatanan Orde Baru terpisah dari tatanan lama.
Di bagian terakhir, Mochtar Lubis, dan Mangunwijaya muncul. David T. Hill,
menulis Mochtar dalam perspetif ''sejarah kesadaran''. Mochtar sesungguhnya
mewakili generasi (baru) yang melintasi batas nasional. Mangun, di mata Rae,
adalah pendekar budaya universal dalam pengertian yang hampir sebenarnya.
Walau seorang nasionalis, pastor ini ''terbenam'' ke dalam budaya Jawa. Namun,
ia bebas dari segala dinding itu. Seruan kultural Mangun adalah ''pembebasan''
universal.
Fachry Ali
|