Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXIII/24 - 30 Juli 1993
   
Teater

Menegakkan harga diri lewat teater

Inilah grup teater aborigin, yang mencoba tampil untuk menjadi bagian yang wajar dari masyarakat australia, untuk merebut harga diri mereka kembali tanpa kekerasan.

AKU menulis Bran Nue Dae untuk mengurangi rasa sakit,'' kata Jimmy Chi,
seorang Aborigin berdarah Cina-Melayu.
Bran Nue Dae, atau hari depan yang baru, mungkin bisa disebut sebagai sebuah
drama pembebasan. Pembebasan dari rasa sakit, dari prasangka, dari ketakutan,
dari sejarah yang gelap. Persisnya, sejarah kaum Aborigin, kaum yang di tanah
airnya sendiri, Australia, terdesak ke pinggir oleh peradaban Eropa yang masuk
lewat serombongan orang terhukum pada abad ke-18. Dan pembebasan itu berjalan
dengan cara damai karena disuguhkan dalam sebuah drama musikal yang kocak.
Naskah itu bermula di tahun 1968, ketika Jimmy, penulis naskah ini, gagal
pada tahun kedua kuliah tekniknya di Universitas Australia Barat, dan
mengalami depresi berat. Dia merasakan kekecewaan, terutama dari masyarakat
Aborigin pada umumnya yang menggantungkan harapan padanya.
Pukulan batin ini begitu mencekamnya sehingga dia didiagnosa sebagai
penderita skizofrenia. Dia lalu dirawat dalam sebuah rumah sakit jiwa. Di
situlah ide menulis drama tentang cara hidup orang Aborigin mulai muncul.
Sekeluarnya dari rumah sakit, Jimmy membenamkan hidupnya dalam kegiatan musik
di Broome, kota kecil di Australia barat laut, tempat berbagai suku budaya
berbaur. Dan di situlah Bran Nue Dae menemukan bentuknya: sebuah drama
musikal, karena Jimmy pada dasarnya adalah seorang musisi dan penulis lagu, di
samping seorang pe- ngarang.
Di pentas Victorian Art Centre, Melbourne, 127 Juli, yang terjadi adalah
sebuah pengembaraan tokoh Willie Johnson yang terusir dari sekolah misi
Katolik di Broome karena kenakalan remaja. Willie yang terlunta-lunta itu,
yang kehilangan pegangan dan kebingungan ketika mengembara, berjumpa dengan
seorang laki-laki Aborigin setengah umur yang sehari-hari dipanggil dengan
nama Paman Tadpole (artinya kecebong).
Cerita punya cerita, ternyata nama si paman yang sebenarnya Stephen Johnson,
dan masih kerabat Willie. Dengan Paman Tadpole, Willie mulai mengadakan
perjalanan pulang ke Broome. Perjalanan ini sarat dengan pengalaman yang
sempat membangun karakter Willie. Dia bertemu lagi dengan Rosie, cinta
monyetnya semasa belasan tahun, dalam perjalanan ini.
Di luar pentas, Willie bisa ditafsirkan menyimbolkan nasib Aborigin. Setelah
kaum ini digilas ratusan tahun, barulah belakangan muncul para pembela yang
berani, baik di kalangan sendiri maupun kalangan bangsa putih pendatang yang
menjadi tuan itu.
Para pembela itulah yang mencoba membangkitkan harga diri Aborigin, lalu
bersama-sama mencari cara hidup berdampingan yang damai. Berhasilkah itu? Yang
terjadi dengan Willie, kira- kira, begitulah. Dalam kehidupan yang sebenarnya,
itu soal lain. Tapi, konon, drama ini, yang sudah dipentaskan di sejumlah kota
di Australia, menyentuh kaum Aborigin. Banyak di antara mereka yang bilang,
menonton Bran Nue Dae seperti menonton hidup mereka sendiri.
Yang jelas, pertunjukan Bran Nue Dae rasanya memang memikat. Pada pembukaan,
di latar belakang pentas, pada dinding yang serbaguna, diproyeksikan layar
film, yang persis seperti layar film khas kota-kota kecil Australia. Sementara
iklan muncul di layar, di latar depan, para pemuda Aborigin menonton sambil
saling mendorong dan mengejek. Waktu cerita pada layar mulai, mereka
menghilang, digantikan oleh para pemain.
Iringan musik pada pemindahan adegan seperti ini tepat dan membawa penonton
pelan-pelan ke dalam cerita. Lagu-lagu yang dinyanyikan, mengiringi gerak
tari, berselang-seling dari lucu menjadi sedih, kadang-kadang sekaligus
kedua-duanya. Jalan cerita, adegan-adegan, dan bahasanya sangat realistis.
Sering tersembur sumpah serapah, dan penonton tertawa.
Tak salah kesan para Aborigin yang sudah disebutkan itu. Sesungguhnya, Bran
Nue Dae memang mencerminkan realita masyarakat Aborigin tanpa menyembunyikan
apa pun. Misalnya, kini masyarakat Aborigin adalah masyarakat campuran:
Aborigin, Indonesia, Jepang, Melayu, Cina, Filipina, Karibia, dan kulit putih.
Ini terutama belangsung di Broome, kota kecil di Australia barat laut. Realita
berantakannya moral pada masyarakat campuran ini pun tidak dielakkan. Pada
akhir sebuah tari yang menggambarkan hubungan badan, umpamanya, dari pentas
dilemparkan belasan kondom kepada penonton.
Inilah cara Jimmy Chi melakukan katarsis pada dirinya sendiri. ''Willie pada
akhirnya menyadari bahwa dirinya adalah daging, roh, dan emosi, dan dalam
keseimbangan itu seseorang akan menyadari sesuatu yang surgawi ...,'' kata
Jimmy suatu ketika. Dan oleh sebagian orang teater, drama ini pun dianggap
pencuci diri Aborigin setidaknya, begitulah harapannya. Inilah drama yang
mencoba memberi sentuhan agar masyarakat Aborigin bangkit harga dirinya,
dengan cara kebudayaan, maksudnya tanpa kekerasan.
Singkat kata, Bran Nue Dae adalah salah satu cara Aborigin menemukan dirinya
sebagai apa adanya. Dan dengan itu, mereka (diharapkan) bangkit untuk duduk
semeja dengan kulit putih, dengan siapa saja. Di sisi lain, drama ini pun
menjadi tempat warga putih Australia ''menebus dosa''-nya. Mereka menonton,
tertawa, dan (diharapkan) memahami pemilik asli Benua Kanguru ini dan
membiarkannya berkembang tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun.
Setidaknya, rombongan ini menjadi kebanggaan Aborigin, dan disambut penonton
di mana saja di Australia, termasuk mereka yang putih. Dewi Anggraeni


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data