Arie smit: mencari cahaya di bali Perjalan hidup arie smit,77, pelukis asal belanda yang menetap di bali.
menyumbangkan aliran "young artist". pernah meraih penghargaan dari pemda
bali. |
Pelukis asal Belanda yang menetap di Bali, Arie Smit, tak cuma melukis dan
mencari harta lewat karyanya. Dalam pergaulannya dengan penduduk setempat, ia
menyumbangkan sebuah aliran yang sampai kini tetap punya pengikut: Young
Artist. Inilah aliran yang lahir dari pergaulan Smit dengan anak-anak desa di
sekitar Ubud, yang memberikan warna lain pada lukisan-lukisan tradisional
Bali. Pengikutnya kini tak cuma anak-anak. Berkat jasa itu, antara lain, tahun
lalu Smit mendapat penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali. Dalam usia 77
tahun sat ini, Smit memang tidak aktif berkeliling untuk merekam suasana Bali.
Tapi ia tetap melukis di Vila Sanggingan, yang ia sebut pondok, di Desa
Peliatan, Ubud. Di situlah ia menuturkan perjalanan hidupnya kepada Putu
Wirata dari TEMPO. Aku memang gemar bertualang, tetapi aku tak menyangka akan
menyerahkan seluruh hidupku pada Bali. Aku lahir di Zaandam, kota industri di
Belanda, 15 April 1916. Ayahku Johanes Smit dan ibuku Elisabeth Ahling
mewarisi perusahaan keluarga ''Smit Expeditie'', sebuah perusahaan transpor
dan trailer yang sudah berumur 200 tahun lebih. Kami delapan bersaudara, empat
lelaki dan empat perempuan. Ketujuh saudaraku bekerja di bidang bisnis dan
pendidikan. Hanya aku sendiri yang ditarik oleh pesona dewi kesenian. Memang,
sejak di bangku SD aku sudah menyukai pelajaran ilmu bumi dan mengetahui nama
beberapa kota, pulau, dan danau di Indonesia. Waktu di kelas enam, aku punya
teman baru dari Pulau Sumatera. Keluarga anak Sumatera itu datang ke Belanda
untuk belajar ekspor karet. Penampilan anak Indonesia berkulit sawo matang itu
sangat berbeda dari kami dan ia merupakan sensasi buat kami. Kami saling
bertukar cerita. Dia dengan asyiknya bercerita tentang harimau, pohon raksasa,
dan getah karet yang mengalir dari batang. Sungguh sensasional bagiku. Aku
tidak mengerti, mengapa ada gejolak emosi begitu hebat ketika berkenalan
dengan anak Sumatera itu. Mungkin karena aku memiliki antena kesenimanan yang
cukup peka. Maka, ketika remaja aku memilih sekolah seni rupa. Aku mendaftar
di Akademi Seni Rupa Rotterdam. Tapi hanya beberapa tahun aku menekuni
pendidikan di sekolah itu karena datang tawaran dari ketentaraan Kerajaan
Belanda untuk bertugas di Hindia Belanda. Dalam usia 18 tahun, aku sudah masuk
wajib militer. Peraturan Kerajaan Belanda menyatakan anak lelaki tertua
terkena wajib militer dalam usia 18. Itu terjadi tahun 1934. Pada tahun 1938,
ketika usiaku 22 tahun, aku pun meninggalkan Akademi Seni Rupa Rotterdam dan
berangkat sebagai wajib militer menuju tanah masa depan dengan penuh khayalan
di kepala: Hindia Belanda. Uniknya, sebagai serdadu, aku hanya mendapatkan
latihan bahasa Melayu. Tak ada latihan memanggul senjata. Tapi itu bukan ma-
salah. Aku berharap mudah-mudahan mendapat pekerjaan yang tak ada hubungan
dengan tugas militer. Aku merasa tidak cocok dengan kekerasan. Jiwaku terlalu
lembut untuk tugas-tugas militer. Begitulah, aku -- serdadu Arie Smit -- mulai
mengarungi ribuan mil yang lebih mirip perjalanan wisata. Aku berangkat dengan
kapal Mail en Passagiersdienst Rotterdamse Lloyd, menempuh samudera ganas
sepanjang pesisir barat Benua Afrika dan pesisir selatan Benua Asia. Di
kepalaku terbayang Gunung Bromo, Gunung Slamet, Gunung Merapi, gunung yang
hanya kukenal namanya. Ternyata harapan untuk melihat sendiri gunung itu
kesampaian. Aku mendapat tugas di Jawatan Topografi, lembaga yang bertugas
menggambar peta-peta pulau atau daerah. Orang Belanda hanya aku seorang,
sedangkan orang Melayu ada 40 orang. Pekerjaan yang menyenangkan. Di Jawatan
Topografi, aku mempelajari litografi, fotografi sekaligus fotolitografi.
Lama-lama, aku juga mengambil pekerjaan yang berhubungan dengan tata letak dan
malah pernah bekerja dengan Sutan Takdir Alisjahbana, pendekar Pujangga Baru
di Indonesia itu. Kalau malam aku nonton film di Sawah Besar, Alhambra, dan
malam minggu ada acara khusus nonton komedi (Stadschouwburg) yang mementaskan
opera musik. Pada hari Minggu dan hari libur, aku bersepeda keliling kota
Jakarta atau mengerjakan kegemaranku melukis dengan cat air. Aku sering
melukis di Kalibesar, di Klenteng, Asemka, atau tempat-tempat lain yang cukup
indah dan sunyi. Belum ada sebiji mobil pun waktu itu. Tahun-tahun itu
merupakan tahun yang penuh inspirasi. Celakanya, inspirasi yang sedang
mekar-mekarnya itu buyar ketika 7 Desember 1941 pecah perang melawan Jepang.
Waktu itu Jepang tengah melebarkan sayap ke Asia Tenggara, menebarkan
cita-cita Asia Raya dan hendak merangkul ''Saudara Muda'' sambil mendepak
kekuasan Belanda. Sebagai seradu Belanda, aku dikirim ke Malang, dan di
sanalah aku mendapat latihan militer di daerah Porong Stelling. Kami masih
dalam latihan ketika Jepang mendarat di Natuna, Tarakan, dan Manado, Januari
1942. Bulan Februari, giliran Ambon yang direbut. Tanggal berikutnya menyusul
tempat-tempat lain seperti Sumatera, Singapura. Akhir Februari, Jenderal
Immamura mendarat di Merak dengan 16 orang tentara. Malam itu juga kapal
perang Amerika Houston dan kapal perang Australia Perth ditenggelamkan di
Selat Sunda. Akhirnya, Belanda menyerah tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati. Aku
termasuk dalam kumpulan tawanan yang ditangkap Jepang. Aku sempat bertempur,
tetapi dengan cerita yang selalu mengundurkan diri. Kami mundur dari Blora ke
Kali Brantas terus ke Bojone- goro, mundur lagi ke Surabaya sampai ke
pegunungan Tengger. Di lereng gunung itulah aku mendengar berita bahwa
Kerajaan Belanda kalah oleh Jepang, dan kami, tentara Belanda, mendapat
perintah berkumpul di Probolinggo. Namun, dalam perjalanan ke Probolinggo, 19
Maret 1942, rombongan kami tertangkap. DITAHAN JEPANG Serdadu Belanda yang
ditahan Jepang sekitar 4.000 orang. Kami - diangkut dengan kereta api ke
Batavia. Di sana aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Jonkheer Mr.
Tjarda van Starkenborch Stachouvwer (bos sipil) dan Hern Terpoorten (bos
pasukan) dalam keadaan tertawan dan siap dikirim ke Mancuria. Serdadu lainnya,
seperti kami, juga siap dikirim ke luar Indonesia. Tanggal 15 Januari 1943,
bersama 1.350 orang, aku masuk kapal laut Harikiu Maru. Dalam kapal itu ada
tentara milisi, orang sipil seperti pegawai administrasi, pegawai akunting,
dan sebagainya. Aku tidak tahu mau dibawa ke mana. Tapi dengar-dengar kami
akan diangkut ke Singapura. Tak ada gambaran dalam kepalaku bagaimana nasibku
nanti. Mungkin dibunuh atau disuruh kerja paksa, aku tidak tahu. Semuanya
penuh misteri. Perjalanan di laut sangat mengerikan, karena ranjau laut
sewaktu-waktu bisa merobek lambung kapal. Akhirnya, setelah empat hari empat
malam, kami tiba di Singapura. Dengan truk kami diangkut ke kamp Changi,
tempat ribuan orang Australia dan orang Inggris ditahan. Kami pun ditahan di
sana selama 10 hari. Keadaan sesak, makanan amat terbatas dan tak bergizi. Aku
kelaparan. Setelah 10 hari di Changi, aku dan tawanan lain diangkut dengan
kereta api ke stasiun Singapura. Satu gerbong berdesakan 39 orang. Begitu
sesaknya, banyak yang harus berdiri dan aku termasuk orang yang berdiri.
Kereta jalan pelan sekali dan makanan sangat menyedihkan. Tiap gerbong dijatah
satu ember bubur dan satu ember sayur encer, yang sebenarnya bukan sayur tapi
cuma berbau sayur. Kami tidak bisa beli apa-apa karena dilarang ke luar
kereta. Hanya kalau ada yang mau buang air besar pintu kereta dibuka, dan
buang air dilakukan sementara kereta jalan terus. Perjalanan kami berlangsung
lima hari lima malam. Pada hari yang terakhir, kami hampir berontak karena
tidak tahan. Di stasiun Ipoh, ini kira-kira saja karena pada masa perang itu
identitas semua tempat dicabut, kami berteriak-teriak ke penjaga, minta agar
diizinkan tidur di peron. Setelah bertengkar wawa wowo -- karena penjaga tidak
mengerti bahasa kami -- barulah aku bisa tidur untuk pertama kalinya setelah
lima hari lima malam terjaga terus. Kemudian kami diangkut terus sampai di
Banpong, Thailand, dan diturunkan di sana dan dimasukkan ke kamp. Dari sanalah
penderitaan tiga tahunku dimulai. Jepang memberlakukan daftar down country
untuk tahanan yang kesehatannya kurang bagus dan out country untuk tawanan
yang kesehatannya bagus. Aku masuk daftar out country dan mendapat tugas di
Burma, membangun jalan kereta api. Kami harus menebang pohon di hutan,
membikin talud untuk mempertinggi tanah, dan memasang rel. Jepang sangat
disiplin. Tiap batang rel harus diangkat oleh tim yang terdiri dari 10 orang.
Karena dalam timku aku yang paling tinggi, pundakku jadi rusak karena memikul
balok-balok besi rel. Panjang jalan yang kami bangun tidak tanggung-tanggung,
200 km. Selama tiga tahun itu, aku pindah kamp sebanyak 15 kali, dan beberapa
kali masuk daftar down country untuk mendapatkan perawatan sekadarnya.
Seingatku, ada dua kali pemeriksaan Palang Merah dari Swiss, tapi itu hanya
pemeriksaan dari jarak lima meter. Pemeriksaan dilakukan secara resmi. Seorang
petugas Palang Merah berjalan ditemani seorang perwira Jepang, memperhatikan
kami dari jauh. Jepang tidak mengizinkan petugas Palang Merah mendekat karena
takut kami berbicara macam-macam, dan petugas Palang Merah itu dilarang
melihat kamp. Seingatku, kiriman makanan yang pernah kami terima dari luar
hanya dua kali, berupa paket Natal. Paket itu dibagikan untuk ribuan orang,
yaitu sepotong biskuit dan sejari mentega. Tapi aku tahu makanan yang dikirim
setiap bulannya ditahan oleh Jepang, obat-obatan juga ditahan Jepang. Selama
menjadi tawanan, aku mendapat serangan malaria sampai 30 kali. Kalau sudah
diserang penyakit, aku tidak bisa bekerja dan artinya aku tidak mendapat upah.
Besar upahnya 10 sen sehari. Dengan 10 sen itu aku bisa membeli seekor ikan
dan sebutir telur rebus. Kebetulan dalam kelompokku ada dokter yang masih
punya bubuk kinine. Setelah menelan kinine aku bisa sembuh dan bekerja lagi.
Tapi dua atau tiga minggu kemudian malaria itu kumat lagi. Karena berkali-kali
mendapat serangan, tubuhku melemah dan aku menderita penyakit beri-beri yang
hebat. Kedua kakiku membesar, kemaluanku juga membengkak tidak keruan. Di
antara kami juga ada seorang pastor. Kami membikin gereja sendiri dan pastor
memimpin misa dalam keadaan yang sulit itu. Dan itu yang mendorong aku harus
bisa bertahan. Aku ingin hidup. Aku harus bertahan. Harapan terus tumbuh
karena setiap malam ada saja bisikan dari kawan-kawan bahwa Bali sudah jatuh
ke pihak sekutu, atau Manila sudah direbut. Padahal, itu tidak benar, toh bagi
kami itu harapan. Harapan yang membuat bisa bertahan. Yang tidak bisa aku
lupakan selama masa tawanan itu adalah pemandangan setiap hari ketika tiga
atau lima orang tawanan meninggal. Tiap kali ada yang mati, tim penggali
lubang siap bekerja. Diiringi tiupan terompet, semua orang di kamp harus
berdiri tegak, tidak peduli apakah dia sedang makan atau hanya mengenakan
celana dalam. Yang menolong aku dari maut mungkin karena kami berada di
sepanjang Sungai Kuwai. Jadi, tiap hari aku bisa mandi dan minum air yang
sudah dimasak. Malah, kalau akan berangkat kerja, aku dan semua tawanan
membawa bambu panjang berisi teh untuk persiapan sehari penuh. Kami biasa
berangkat pukul 6 pagi dan pulang pukul 6 sore, ketika hari sudah gelap. Tiga
tahun aku berada di bawah todongan bedil tentara Jepang. Para pengawas Jepang
yang kejam mencambuk para pekerja, menyepak, menendang sesuka hati. Memang ada
beberapa pengawas yang berhati sabar dan lembut seperti sutera. Tapi pekerjaan
dan cuaca buruk yang hiruk-pikuk saja sudah menjadi siksaan. Selama dalam
kerja rodi itu, Jepang pernah membolehkan aku - mengirim kartu pos untuk orang
tuaku di Holland. Hanya boleh menulis dua kalimat dan itu pun harus dalam
omong Melayoe. Orang tuaku menerima kartu pos itu di Holland tanggal 29 Juli
1943, tapi aku tidak pernah menerima balasan. Ambisi Jepang untuk membentuk
koloni Asia Raya tak berumur lama. Sekutu menjatuhkan bom di Nagasaki dan
Hiroshima pada 6 dan 9 Agustus 1945. Akhirnya, Jepang bertekuk lutut, menyerah
tanpa syarat kepada Sekutu. Pada hari Jepang menyerah, seisi kamp merayakan
kebebasan. Perayaan yang sangat sensasional. Bayangkan, tiga tahun lebih kami
hidup dalam kabut misteri tanpa tahu kapan datang hari pembebasan. Selama tiga
tahun kami hanya dikungkung oleh siang dan malam yang tak berujung. Memang,
tiga hari sebelum Jepang bertekuk lutut, kami bisa bernapas lega. Tak ada lagi
perintah bekerja waktu itu, tak ada teriakan haik, haik, haik dari pengawas
yang beringas. Suasana yang tenang itu pun bagi kami merupakan misteri juga.
Kami yang biasa bekerja keras justru sakit setelah mendapat istirahat. Perut
kami mulas. Selama tiga hari tanpa perintah keras dan perintah apel itu, k-
ami jadi bertanya-tanya. Gelisah. Beberapa teman mengintip apa yang diperbuat
orang-orang Jepang di dapur. Mengapa mereka hanya bertopang dagu dan tak
memberikan perintah kerja. Ternyata, mereka bertangis-tangisan karena pemimpin
tertingginya, Kaisar Hirohito, menandatangani penyerahan tanpa syarat terhadap
Sekutu. KEMBALINYA KEBEBASAN Jepang resmi menyerah tanggal 1 September 1945 di
kapal Missouri. Peristiwa ini dilanjutkan pemulangan tawanan yang sakit ke
negara masing-masing. Tapi aku dan kawan-kawan yang sehat ditahan dulu di
Bangkok. Kami tak dipulangkan ke Negeri Belanda, tapi malah dikirim ke
Indonesia lagi. Di Batavia, aku kembali ke Jawatan Topografi. Di sana aku
tinggal di sebuah mes di Gang Pool dekat Istana Negara sekarang. Setelah tiga
tahun menekuni pekerjaan ini, aku mendapat kenaikan pangkat menjadi sersan
Chromo Lithograaf. Tanggal 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan
Republik Indonesia dan orang-orang Belanda yang masih di Indonesia
dipulangkan. Hanya yang sudah punya pekerjaan diperkenankan tinggal lebih lama
di Indonesia. Aku diberhentikan dengan hormat dari tentara dan berganti status
menjadi orang sipil. Dan aku termasuk orang yang memenuhi persyaratan untuk
tinggal di Indonesia. Datanglah kebebasan. Aku mencopot seragam militerku,
kuhirup udara sepenuh paru-paru dan kuterjunkan diriku dalam belantara cat dan
kanvas. Untuk menghidupi diri, aku sempat menjadi pen- gajar di Fakultas Ilmu
Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia Bandung (kini ITB). Tapi pekerjaan
itu kuterima sebagai pekerjaan sambilan. Separuh waktuku kugunakan untuk
melukis. Tercapailah sudah cita-citaku, menjadi pelukis merdeka. Aku
berkenalan dengan Frank Bodmer, seorang Swiss kelahiran Surabaya. Bodmer
adalah fotografer Presiden Soekarno. Kami ber- sahabat. Ke mana pun Bomer
pergi dengan mobil Austinnya, pasti ada aku. Bodmer memotret dan aku membikin
sket. Bodmer yang mengajak aku masuk menjadi warga negara Indonesia pada tahun
1950. Waktu itu memang ada kemudahan bagi orang asing yang sudah tinggal 10
tahun lebih di Indonesia menjadi WNI. Aku mulai produktif menuangkan imajinasi
dan kreasiku hingga cukup banyak punya karya untuk pameran. Pameran tunggalku
di Plaju, Sumatera (1950) disponsori oleh perusahaan minyak BPM (Bataafsch
Petroleum Maatschappij). Sukses! Banyak yang terjual dan aku mengantongi cukup
banyak uang. Aku memang tidak pernah berpikir bagaimana agar lukisan-
lukisanku terjual dan laris. Aku melukis bukan karena iming- iming pasar. Aku
mencipta hanya karena aku ingin mencipta. Maka, ketika aku berpameran kedua
kalinya, (di Balikpapan, 1954), dan tak ada yang laku, aku justru senang. Aku
bisa mengoleksi karya-karyaku itu. Beberapa yang kecil-kecil malah diboyong ke
Belanda oleh teman-teman yang pulang kampung. Aku adalah Arie Smit yang amat
mencintai alam dan pemandangan. Kalau aku tinggal di suatu tempat, aku selalu
keluyuran ke sana ke sini. Semuanya untuk merekam suasana, merekam kekayaan
budaya setempat. Tahun 1951, misalnya, aku melancong ke kota gudek Yogyakarta.
Aku naik becak, delman, bersepeda sampai ke pelosok desa. Setahun kemudian aku
pindah ke Bandung sebagai lay out man, kemudian bekerja pada Sutan Takdir
Alisjahbana di Jakarta, juga menangani hal yang sama. Takdir malah sempat
mengajak aku jalan-jalan ke London dan Paris untuk mencari hak cetak beberapa
buku yang mereka anggap perlu dibaca oleh masyarakat Indonesia. Tapi,
keberangkatan itu atas tanggungan pribadiku. DI TANAH FIRDAUS Tahun 1956 aku
meninggalkan Bandung dan menyeberang ke Bali, ke pulau yang konon merupakan
firdaus karena keindahan seni budaya. Aku memang sudah sering mendengar nama
Bali. Dengan bekal Rp 10.000 sisa berpameran di Plaju dan Balikpapan, aku naik
kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij, mendarat di Buleleng, ditemani
sahabatku Auke Sonnega, pelukis yang cukup dikenal di Bali. Malam pertama kami
menginap di Kintamani. Esoknya, kami meluncur ke Ubud, surga para seniman itu.
Di situ berdiam pelukis Jerman, Walter Spies. Juga ada Rudolf Bonnet yang
sedang aktif-aktifnya membina perkumpulan pelukis dan pematung. (Kedua pelukis
ini sudah tiada). Ketika menjejakkan kaki di Bali, aku masih melihat firdaus
itu. Kuil-kuil (pura) Hindu yang eksotis dan anggun, arsitektur yang sangat
dalam nilai filsafatnya. Wanita yang mandi telanjang di sungai, atau
wanita-wanita tanpa penutup dada. Kami menyaksikan kaum lelaki bersarung,
mengenakan destar, yang tua-tua mengunyah sirih. Aku lihat juga
seniman-seniman Bali, pematung, pelukis, penari, yang masih sangat alami,
belum tersentuh pariwisata. Setiap pagi para petani lewat di jalan, menuntun
sapi, memikul bajak dan menyelipkan sabit di pingang. Ketika mentari merambat
naik, wanita-wanitanya menjunjung bakul nasi di kepala untuk suami mereka di
sawah. Aku mimpi seperti berada di Eropa abad ke-16. Dalam perjalanan
selanjutnya, aku berkenalan dengan James Pandy, masih tahun 1956. Ia pecinta
kebudayaan Asia yang memiliki pergaulan luas. Ia pernah bekerja sebagai tour
leader biro perjalanan Thomas Cook. Sebelum Perang Dunia II, Cook sering
memimpin kelompok besar ke Danau Toba, Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, dan
juga Bali. Ketika Jepang mengebom Pearl Harbour di pantai Barat Amerika tahun
1941, turis yang berkunjung ke Bali macet. Jim kehilangan pekerjaan dan
beralih sebagai sekretaris Jack dan Katharane Mershon, pasangan Amerika yang
melakukan penelitian di Bali. Pandy kuat dan hebat berdiplomasi. Aku sarankan
dia agar membuka sebuah galeri. Pandy setuju. Dengan dana pas-pasan, Pandy
membangun sebuah gubuk dari bambu berukuran 3 x 5 meter di Pantai Sanur. Di
galeri itulah aku mendapat kesempatan untuk lebih banyak belajar tentang seni
lukis. Bagai pucuk dicinta ulam tiba, galeri Pandy mendapat kunjungan
orang-orang penting. Presiden Soekarno tak pernah melewatkan ''galeri gubuk
itu'' setiap kali berkunjung ke Bali. Ketika Nikita Khrushchev menginap di
Sindhu Beach Hotel, tahun 1957, Pandy yang diminta menghias ruang tempat
menginap tamu penting dari Uni Soviet itu. Hubunganku dengan masyarakat dan
warga banjar adat tidak ada kesulitan walaupun aku penganut Katolik. Aku
memang tidak pergi ke pura untuk sembahyang, tapi sebagai pribadi aku tetap
menyumbang uang di berbagai tempat suci. Aku merasa berutang budi pada
masyarakat Bali karena Bali yang memberiku inspirasi suasana seperti abad
ke-16. Apalagi masyarakat Ubud adalah masyarakat yang terbuka terhadap orang
asing. Sekarang pun banyak pelukis asing yang tinggal di Ubud. Aku mengenal
cukup banyak tokoh adat di Ubud. Beberapa pelukis Young Artist -- nanti akan
kuceritakan tentang Young Artist -- sudah jadi pemuka masyrakat, seperti
Nyoman Cakra yang menjadi kepala Desa Penestanan, sementara Ketut Soki menjadi
pemangku (pendeta di pura). Kedudukan mereka sangat terpandang. Jadi, tidak
ada masalah kalau aku menggabungkan diri dengan masyarakat desa, ikut menjadi
anggota keluarga besar banjar adat yang kuat memegang adat dan budaya. Aku
biasa berjalan kaki keliling desa, ke Penestanan, ke Peliatan, ke Banjar Teges
atau ke mana saja. Karena jaraknya kurang dari 5 km. Kalau jaraknya lebih, aku
naik kendaraan umum. Aku mampu membeli mobil, tapi aku tak mau. Aku tidak mau
direpotkan dengan membeli bensin di pinggir jalan, busi rusak, ban pecah, atau
tetek-bengek lainnya. Aku ingin membebaskan kepalaku dari urusan itu, sehingga
yang menjadi beban tinggal sket dari objek yang menarik perhatianku. Aku tidak
antimodernisasi tapi aku merasa dengan caraku aku mempertahankan perasaan
romantis pada karyaku. Dengan cara itu aku bisa mempertahankan goresan misteri
alam. Namun kini, setelah usiaku lebih dari 60 tahun, aku membatasi jalan kaki
dan naik kendaraan umum. Kalau aku ingin pergi agak jauh, aku naik mobil yang
disopiri pegawai Villa Sanggingan. Aku masih mampir di kios pelukis Young
Artist, membeli beberapa karya mereka untuk koleksi pribadi, yang akan
kuhadiahkan untuk Museum Neka. Apalagi mataku cepat lelah, jadi aku lebih
banyak berdiam di studio, melukis, melukis, dan terus melukis. Hanya pada pagi
hari aku bangun, aerobik di sekitar pondok, melihat matahari terbit, dan
mendengar kokok ayam yang jelas sekali. Aku pernah tinggal di Buleleng (Bali
Utara) selama empat tahun. Ini adalah rekor tinggal terlama di satu tempat.
Aku tertarik karena daerah itu tidak seturistik Bali Selatan. Kehidupan
masyarakatnya masih agraris, penduduknya tidak begitu padat, dan ikatan
masyarakat terhadap agamanya masih kuat. Malah, lukisan-lukisanku yang
kupamerkan di CSIS (1992) dan Shanti Gallery Jakarta (1993) kebanyakan berasal
dari Buleleng. Kenapa aku hidup menyendiri? Pernahkah aku jatuh cinta? Aku
sudah biasa membujang. Aku menunda perkawinan, menunda terus, dan menunda
terus, ha ha ha. Tapi, waktu muda aku memang pernah ditegur ayah, sebab selalu
ditemani pacar-pacarku. Aku mata keranjang waktu muda. Aku tak tahu, apa
karena teguran ayah itu aku jadi begini. Aku ambil keputusan, lebih baik
jangan kawin. Sampai sekarang. Sebenarnya aku masih punya pacar di Jerman.
Tiap tahun dia masih datang ke Bali. Tapi, bagaimana kalau yang satu ini tak
usah kuceritakan? Biarlah hubungan kami ini menjadi misteri kami berdua. Hanya
Tuhan yang tahu apa di balik misteri itu. Yang jelas, sekarang aku sudah loyo,
padahal di masa mudaku, wah, aku ini hebat. Tak ada yang ditakuti hidup
menyendiri di Bali, sepanjang bisa bergaul di masyarakat. Aku bisa merasakan
kehangatan pribadi orang Timur yang menaruh hormat begitu besar pada
orang-orang tua di pulau ini. Di sini kurasakan, semakin tua orang, semakin ia
dihormati. Lihat saja jika seniman tua diundang ke Pesta Kesenian Bali.
Anak-anak menghormatinya lebih dari orang tua mereka. Aku pun diperlakukan
seperti itu. Itu bagus sekali. YOUNG ARTIST Mula pertama di Bali, aku memilih
Ubud sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1960 aku menetap di lereng Tukad
Campuhan yang indah. Aku membikin sebuah studio kecil di sana. Dari tempat itu
aku bisa mendengar riak air Tukad Campuhan, atau derai angin yang menggocoh
padang ilalang. Sekarang di tebing itu dibangun Hotel Campuhan, dan sebuah
kamarnya sampai sekarang diberi nama: Ruang Arie Smit. Mungkin untuk mengenang
memori kedatanganku. Dulu, masyarakat jarang yang paham bahasa Indonesia
sehingga aku sendiri yang terpaksa belajar bahasa Bali. Komunikasi ini menjadi
bagian yang cukup menyenangkan karena aku langsung bisa merasakan keluguan dan
kesederhaaan orang Bali. Sebenarnya aku tidak ingat bagaimana secara
perlahan-lahan akhirnya aku bisa berbahasa Bali. Ini proses belajar yang
terus-menerus. Kalau aku jalan-jalan, orang-orang yang belum kukenal sering
teriak ''Hallo-hallo'' karena aku dikira turis biasa. Aku sering ngobrol
dengan mereka, tentang apa saja. Kalau omong-omong dengan penduduk desa, aku
lebih suka menggunakan bahasa Bali, belajar sekaligus praktek. Orang-orang di
pedesaan sering mendekatiku kalau melihatku sedang duduk di bawah pohon besar
saat sedang membuat sket. Mereka tidak cuma menyaksikan tapi kadang-kadang
protes. ''Pak Arie, ini penempatan puranya salah,'' kata seorang pendeta
setelah melihat sketku. Dia mengukurnya dengan bingkai kultur dan filsafat
Hindu, sedang aku melihat objek-objek itu dengan kaca mata artistikku. Suatu
kali, sewaktu berjalan ke Desa Penestanan, aku melihat anak-anak kecil yang
putus sekolah. Mereka berlepotan lumpur karena membantu ayahnya bertani. Ada
yang menggembalakan itik, kerbau, atau sekadar mencari belut dan belalang
untuk lauk- pauk. Timbul gagasan untuk memberi mereka media berekspresi. Aku
tidak mendidik, tapi cuma membimbing. Aku berikan kanvas, cat, dan kuas, lalu
kuminta mereka mengekspresikan gayanya yang naif dan kekanak-kanakan. Aku
sodorkan kepada mereka tema kehidupan sehari-hari. Ketika gagasan ini
kulemparkan, dalam sekejap sudah terkumpul sekitar 40 orang anak-anak. Aku
tidak memungut bayaran. Waktu itu lukisan tidak bisa dijual seperti sekarang.
Untuk merangsang mereka supaya tetap rajin mengekspresikan gairah seninya, aku
biasanya memberi uang 500 kepeng untuk setiap lukisan bagus yang selesai.
Ongkos pengganti itu kunaikkan berangsur-angsur, tergantung perkembangan
kreativitas mereka. Tujuan utamaku memang untuk membimbing, selain mengoleksi
karya mereka. Sampai suatu hari datanglah seorang Jerman, dia kolektor dari
Goethe Institut di Jakarta. Aku lupa persisnya tahun berapa waktu itu, tapi
orang inilah yang memberi nama gaya lukisan anak-anak Desa Penestanan itu
sebagai corak Young Artist. Aku bilang teruskan sajalah corak Young Artist
itu. Dan aku bangga pada gaya mereka. Sampai tahun 1980, kalau bicara tentang
pemasaran, usahaku belum menunjukkan hasil. Belum ada kolektor lukisan yang
memborong lukisan seperti sekarang. Setelah tahun 1980-lah baru terjadi boom.
Lukisan gaya Young Artist cukup digemari pembeli. Pengikut corak Young Artist
berbiak dari 40 orang yang sudah beranjak dewasa, ditambah ratusan pelukis
muda yang mengikuti jejak orang tuanya. Yang sudah tua-tua dan masih aku ingat
di antaranya adalah Nyoman Cakra, Ketut Soki, Nyoman Londo, Wayan Pugur, Ketut
Tagen, Made Sinte, I Guti Ngurah, Nyoman Gerebig, atau Made Lasir. Seorang
pelukis dari Desa Penestanan, Wayan Karma Wijaya, mengatakan hampir 95%
penduduk Penestanan menjadi pelukis bergaya Young Artist. Tahun lalu aku
menerima penghargaan Dharma Kusuma dari pemerintah Bali. Aku terharu menerima
penghargaan yang sangat bergengsi untuk kalangan budayawan itu. Tetapi aku
lebih bersyukur lagi terhadap situasi sekarang, saat para pelukis memiliki
kebebasan yang lebih besar untuk menuangkan kreativitas. Sekarang
infrastruktur sudah lengkap. Dulu, tahun 1970-an, membeli cat dan kanvas saja
susah. Sekarang, mau membeli kanvas seharga Rp 1 juta satu rol, atau yang cuma
Rp 300.000 juga ada. Galeri-galeri tumbuh seperti jamur. PERSAHABATAN DENGAN
SUTEJA NEKA Setelah menerima piagam Dharma Kusuma itulah aku memutuskan
berdiam di Villa Sanggingan, milik Suteja Neka. Aku juga menjadi anggota
keluarganya, bahkan dengan satu kartu keluarga. Aku merasa hubunganku dengan
dia seperti hubungan ayah dengan anaknya, walau aku tidak pernah punya istri.
Proses perkenalan kami cukup panjang. Tahun 1973, ketika aku berdiam di Desa
Nyuhtebel, Karangasem, Suteja Neka datang bersama istrinya. Dia sudah menjadi
kolektor lukisan. Aku juga sudah cukup lama mengenal nama Neka Art Gallery
dari Rudolf Bonet. Menurut Bonet, waktu itu Neka sudah mulai mengoleksi dan
menjual lukisan yang non-tradisional. Aku tertarik dan lama- lama merasa cocok
dengan dia. Dari tahun 1973 sampai sekarang, aku tetap bersama Neka Art
Gallery. Aku merasa bebas melukis di mana-mana dan hidup di mana-mana. Neka
Art Gallery tetap mempromosikan dan menjual lukisanku. Secara pribadi, aku
juga sangat kagum pada Suteja Neka. Dia membangun Museum Neka dengan
menyisihkan uang dari menjual lukisan. Museumnya mengoleksi sejumlah lukisan
terbaik pelukis Indonesia. Itu sebabnya, aku sumbangkan juga karyaku untuk
dia. Sampai sekarang aku sudah menyumbangkan 15 lukisan, 12 di antara lukisan
itu adalah karya orang lain. Aku sering menghadiri pameran lukisan. Kalau ada
yang cocok, kubeli, kusimpan sekitar tiga bulan, lalu kusumbangkan ke Museum
Neka. Aku masuk dalam kartu keluarga Neka karena boleh dikata aku ini ibarat
ayah setelah dia kehilangan ayahnya beberapa tahun yang lalu. Tapi kami memang
tidak seperti ayah dan anak dalam arti yang sebenarnya. Aku sendiri tidak bisa
menjelaskan hubungan ayah-anak itu dalam kalimat yang jelas. Kami punya
persamaan apresiasi terhadap seni lukis dan kebudayaan Bali. Di tengah budaya
konsumtif yang kuat, ia punya komitmen untuk membangun museum lukisan yang
megah dan lengkap. Andai ia jual koleksi lukisan itu, ia bisa menjadi
miliuner. Tapi Neka tidak melakukannya. Sementara usiaku terus berjalan ibarat
kapal yang mencari tempat berlabuh, aku menemukan ''pelabuhan'' pada Suteja
Neka. Aku ingin melabuhkan kapalku setelah berlayar dari Belanda sejak tahun
1938. Aku ingin istirahat setelah perjalanan sepanjang itu. Kasarnya, aku cuma
seseorang yang mencari tempat bersandar di hari tua. Barangkali ada orang yang
berpikir aku memilih jadi anggota keluarga Suteja Neka sebagai pilihan
praktis. Orang mungkin berkata: Arie Smit kan sudah tua, siapa yang nanti
mengurus jenazahnya kalau mati karena dia tidak punya siapa-siapa di sini?
Tentu saja Suteja Neka yang akan mengurus, ha ha ha. Atau mungkin ada orang
lain yang mengatakan: tentu saja Neka mau mengangkat Arie sebagai keluarga
karena Arie kan kaya. Aku sendiri tidak mau berkomentar. Aku telah menjawab
semuanya itu dengan karya dan Neka juga menjawabnya dengan karya. Enteng saja.
KONSEP KARYA ARIE SMIT Yang kutemukan dalam pencarianku di Bali adalah cahaya,
puisi, dan misteri. Ini tritunggal. Tentang cahaya, aku teringat epos Ramayana
dalam adegan yang menceritakan pemujaan pada Sang Surya Dewa Matahari. Itu
adalah tokoh jagat raya yang sudah memberikan kehidupan kepada seluruh umat.
Dalam seni lukis juga ada karya-karya yang merupakan wujud ucapan terima kasih
pelukis kepada matahari yang sinarnya terus menghidupi bumi ini. Seni lukis
itu adalah lukisan-lukisanku. Karyaku berpokok pada usaha melukiskan cahaya.
Cahaya penting bagiku karena aku lahir di negeri empat musim yang
pencahayaannya jauh berbeda dengan di tanah tropis seperti Indonesia dan Bali
khususnya. Di Belanda, pemandangan didominasi warna putih, hitam, dan kelabu.
Kelihatan monoton dan membosankan, selain tak merangsang kreasi dan geregetku
terhadap nuansa warna yang sebenarnya jauh lebih kaya. Aku mulai merasakan
adanya kekurangan itu setelah mengamati apa yang terjadi pada kanvas para
pelukis Eropa kurun waktu sebelumnya, seperti lukisan klasik karya-karya
Rembrandt van Rijn atau Jan Vermeer. Dari sketsa-sketsa yang kuamati, aku
menangkap betapa miskinnya nuansa cahaya. Sebagian besar lukisan itu
menyajikan suasana dalam ruang (indoor). Gubahan warnanya amat miskin, hanya
ada hitam, kelam, putih, atau kelabu. Tak sekali pun kulihat karya yang
menyajikan pemandangan di luar ruangan. Beberapa pelukis modern mencoba
menggunakan akalnya. Pelukis seperti Vincent van Gogh dan William Tuner,
begitu juga Paul Ceanne dan Claude Monet, mengakali cahaya yang sendu itu
dengan melukis di ladang atau di laut lepas dan memilih hari-hari tertentu
untuk mendapatkan suasana ketika cahaya tak cuma kelabu, hitam, atau putih.
Mereka akhirnya menghasilkan karya impresionis, karya yang dibalur dengan
unsur warna putih yang kuat. Melihat pengalaman pelukis-pelukis itu, kurasa
aku perlu melakukan sesuatu. Dan itu aku temukan di negeri tropis, tempat
cahaya begitu beraneka warna. Dan segera cahaya menjadi dasar untuk
mengembangkan obsesi seni lukisku. Ketika bermandikan cahaya matahari Bali,
aku merasa berada dalam firdaus yang memabukkan. Tanah Bali begitu subur dan
kaya, tanaman tumbuh di mana-mana, sungai mengalir dengan riak air yang
membuai, angin lembut menggoyang ranting pepohonan, hujan jatuh dengan
rintiknya yang mencekam. Aku kagum pada cahaya matahari Bali yang
terus-menerus membalur alam tropis ini, membiaskan aneka warna tanpa hentinya.
Aku berkesimpulan, aku harus menggubah karyaku dengan aneka warna. Pada tahun
1956 itu, sesaat setelah menginjakkan kaki di Bali, aku mencoba
mengekspresikan perasaanku ini dalam satu lukisan yang kuberi judul
Wanita-Wanita Bali Pulang dari Pasar. Karya yang dikoleksi Presiden Soekarno
itu menggambarkan dua wanita Bali menjunjung barang-barang untuk dijual di
pasar. Tapi, aku tak sedang memotret sesuatu yang vulger. Bukan pada wanita
yang bertelanjang dada dengan kulit sawo matang itu letak titik karyaku.
Cobalah menengok irama cahaya kuning menyala di latar belakang. Aku menangkap
cahaya itu begitu cemerlang memancar di halaman sebuah pura. Pada lukisan
Bunga dan Patung, yang juga dikoleksi Presiden Soekarno, aku melukiskan suatu
kontras warna benda dalam ruang. Aku tak memulas bentuk, tapi bagaimana warna
itu memainkan iramanya hingga menghasilkan efek yang puitis. Ada proses
kimiawi warna yang menghasilkan efek puitis di dalamnya. Karya-karyaku pada
tahun 1960-an condong pada tempat-tempat yang amat eksotis, tempat yang tentu
saja sudah pernah aku jelajahi di seantero Bali. Dengan kuasku, aku ingin
menangkap flora, gerak angin menggoyang daunan, wanita di atas pura, pohon
kelapa yang membubung ke langit. Aku menangkap semua itu dengan subjektivitas
pribadiku. Aku kadang merasa laut itu berona merah, kuil Hindu di Bali
gemerlap oleh warna kuning keemasan, pohon menjadi oranye ditimpa cahaya
bulan. Aku mengantisipasi stimulasi cahaya dengan perasaanku, dengan mood- ku,
dengan impuls-impuls yang bekerja dalam diriku, dan dengan kebebasanku yang
sepenuh-penuhnya untuk berkarya. Tahun 1973 aku menciptakan karya Pemandangan
Sore Hari dengan membuat mosaik warna yang berkelebat cepat di kanvas,
sekaligus membangun komposisi. Citra pemandangan hanya muncul dalam impresi
dan bentuk-bentuk yang kugubah dalam abstraksi. Lalu awal 1980-an, dalam karya
Pura di Ubud, aku melangkah lebih jauh ke prinsip-prinsip kreasiku. Seperti
aku katakan bahwa seribu detail tak lebih bernilai dari sebuah bentuk yang
bagus, dalam karya ini aku ingin menggambarkan sebuah kuil Hindu dengan blok
warna merah menyala, dengan titik-titik vermilion dan kuning di mana-mana. Di
sekelilingnya rimbun pepohonan menaungi dengan nuansa-nuansa biru tembaga.
Artinya, bentuk detail benda akan hilang dalam semburan cahaya. Yang tinggal
hanya warna belaka. Lalu pertengahan tahun 1980, aku banyak melukis tafril dan
pemandangan dengan imbuhan titik-titik. Kucurahkan hasrat ini dengan pulasan
kuas pendek. Memang beginilah aku melihat cahaya matahari Bali yang mempesona
ketika jatuh ke bumi. Pertama, dia singgah di awan berarak, kemudian memantul
ke pucuk pepohonan, lalu daunan yang berayun menaburkannya ke bumi. Hasilnya
adalah seribu bayang-bayang, baik kecil maupun besar. Aku mencoba
merumuskannya dalam gaya impresif-pointilistik. Dan sampai tahun 1993 ini aku
tak berubah dalam caraku mengekspresikan gayaku. Aku mengagumi Roual Dufy, dan
orang mungkin akan ingat pada konsepsi artistik Henry Matisse, pelukis Jerman
pencetus fauvisme. Dialah orangnya yang meletakkan warna sebagai pokok nilai
suatu karya. Tapi, dasar berpikirnya beda. Matisse menatap dan
memperbincangkan warna berdasarkan ilmu fisika. Dia menganalisa warna dalam
kaidah- kaidah ilmu yang rasional. Dia menangkap warna dengan otaknya. Tapi
aku melihat warna dengan perasaan kagum, aku menganggapnya sebagai anugerah,
dan aku terpukau oleh pesonanya. Aku suka berpindah-pindah di sekitar Pulau
Dewata ini karena mencari getar puisi dalam pemandangan yang menghampar dari
gunung ke laut, dari kaja (utara) ke kelod (selatan). Aku mencari sesuatu yang
bukan realisme. Aku ingin mencari sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang ada
di balik realitas. Aku ingin menyelam sedalam-dalamnya sampai ke hakikat dari
realita. Tahun 1990, Garret Kam sudah menulis buku untuk pandangan seni
lukisku, judulnya Poetic Realism. Realisme yang puitis, itulah yang ingin
kucapai dengan karyaku. Bagiku, lukisan yang cuma menyalin gambar alam sesuai
dengan aslinya adalah deskripsi. Mereka yang sanggup membayangkan b- enda
sebagai realitas dan melukisnya secara akurat adalah ilustrator. Tapi mereka
yang sanggup melihat bentuk tersembunyi dan melihat warna sebagal bentuk,
itulah pelukis. Aku membuat karya-karya yang romantik, kugunakan teknik
lirikal. Karyaku adalah realisme, tapi aku menghindar dari pemanfaatan
aktualitas yang bersifat eksplisit. Aku tak mau menggambar bentuk yang persis
sampai ke detail-detailnya. Aku berusaha melakukan suatu realisme puitis,
sebuah mimpi, konfrontasi yang lembut. Warna-warnaku tak membentur, tapi
berpadu. Garis-garisku tidaklah membagi, tapi menyatukan. Aku tidak suka pada
realisme vulger yang menyajikan sesuatu secara telanjang bulat apa adanya.
Satu contoh realisme seperti itu adalah iklan sebuah produk obat yang sering
disiarkan televisi. Lihatlah iklan obat Konidin, obat antibatuk itu. Dalam
iklan itu kita mendengar seseorang batuk dengan hebatnya sampai kita mau
menutup mata dan telinga. Itu realisme yang tidak baik. Itu ofensif. Rasanya,
Konidin perlu bikin iklan yang artistik dan harmonis. Pakai fantasi. Dan
realitas yang vulger, realitas tekanan itu, disajikan pula oleh film di
bioskop-bioskop, film di televisi, pada gambar iklan di majalah dan
koran-koran. Realitas seperti itu nyaris tak mengandung keindahan. Tidak
artistik. Pendapatku, realitas yang vulger seperti itu, the naked truth, yang
terlalu tinggi dosisnya bisa menekan jiwa manusia. Tapi, coba bandingkan
dengan apa yang ada di film serial Mahabharatha. Perang dilukiskan secara
puitis, dengan halus, sama sekali tidak vulger, tidak sadistis. Seniman Bali
mencipta tari Baris, sebuah tarian perang yang enak ditonton. Tari itu sangat
puitis. Heroisme yang puitis. Alasan lain mengapa aku tidak suka realisme
vulger adalah keinginanku untuk memaparkan sesuatu yang gaib, sesuatu yang
misterius. Aku mengagumi pelukis interior Belanda abad ke-17, Pieter de Hoogh
dan Jan Vermeer. Karya mereka cerah, intim, hangat, superhuman, atmosfernya
mengundang hasrat untuk melakukan pendalaman, mengundang kekaguman dan hasrat
untuk melakukan penemuan. Komposisinya superior, ada kedalaman dan penuh
misteri. Sungguh, karya mereka memiliki daya yang menggoda orang untuk
menengok pada apa yang tersembunyi di pintu rumah yang disingkap sebagian.
Makanya, aku katakan, seribu detail tidak bisa mengalahkan satu bentuk yang
bagus. Misteri hampir lenyap dari muka bumi. Apa yang bisa kita lihat dari
tersingkapnya kabut misteri dari kehidupan manusia di Barat? Satu penyebab
rusaknya perkawinan Charles-Diana, Andrew- Fergi, adalah karena khalayak ingin
agar semuanya diketahui. Pers ingin mengungkap sampai kehidupan ranjang
mereka, ingin membuka sampai bagian paling rahasia dari Istana Buckingham itu.
Mereka tidak mau ada misteri dalam Istana Buckingham itu. Mereka tidak mau ada
rahasia. Ketika terjadi kerusuhan di Thailand, aku lihat di televisi Perdana
Menteri Suchinda bersikap keras sekali. Dia mungkin mau menangkap dan
menghukum para demonstran. Tapi, Raja Bhumibol Aduljadej memanggilnya untuk
menghadap ke istana. Suchinda menghadap, dia duduk dengan hormat di hadapan
Raja. Raja bicara sedikit saja, dan urusan selesai. Kerusuhan berhenti.
Khalayak di Thailand semua menunggu ucapan Raja. Semua unsur kelihatan
menunduk di hadapan yang mulia Raja. Itulah misteri dari kerajaan. Memang,
secara global, misteri mulai lenyap dari kehidupan. Seks sudah kehilangan
misteri. Itu tidak baik. Aku kira, orang Timur pada umumnya masih memandang
seks sebagai suatu misteri dari perkawinan. Bukan sesuatu yang vulger, bukan
sesuatu yang harus dipaparkan dari segi biologisnya saja. Biologi itu untuk
dokter, bukan untuk khalayak ramai. Aku tidak menulis puisi dalam arti yang
sebenar-benarnya. Sekarang ini spesialisasi sudah begitu hebat dan canggihnya.
Si A menjadi pelukis, si B penyair, si C jadi pematung, dan seterusnya. Aku
melukis karena spesialisasiku memang pelukis. Tapi, spesialisasi yang
diarahkan untuk satu tujuan saja bisa merugikan harmoni. Ketika memamerkan
karyaku di Shanti Gallery, Jakarta, bulan Mei 1993 lalu, Sulaiman, pemilik
galeri itu, mempunyai inisiatif bagus. Dia pilih 77 karyaku untuk dipamerkan.
Itu bertepatan dengan usiaku yang 77 tahun. Orang Asia suka bermain dengan an-
gka. Sekarang 77 lukisan, jadi tahun depan mungkin 78 lukisan, ha ha ha. Tapi,
itulah pameranku yang terakhir. Anda tidak akan pernah melihat pameran
lukisanku dalam angka 78. Tidak. Aku sudah tua.
|