Bisa larut bisa hancur Baru saja ditemukan, plastik yang dapat larut dalam air atau hancur oleh
bakteri. hasil penelitian dr. robert petcavich. kalau sudah diproduksi masal,
diharap dapat mengatasi sampah plastik. |
PLASTIK yang serbaguna itu kini tak hanya dapat dimusnahkan, tapi juga dapat
diminum. Dan ini bukan keajaiban sulap David Copperfield. Tapi, mungkin bisa
disebut, keunggulan teknologi masa kini, yang kelak akan menjadi hal yang
biasa-biasa saja di masa depan.
Plastik temuan baru itu terbuat dari bahan petroleum dan diberi nama plastik
H (singkatan dari hydrodegradable). Menurut penemunya, Dr. Robert Petcavich,
39 tahun, plastik H bisa larut dalam air dan, kalau ada yang suka, dapat
langsung ''diglek'' tanpa menimbulkan efek samping.
Jadi, bagaikan bumi dan langit jika itu dibandingkan dengan sampah plastik
yang kita kenal sulit dimusnahkan dan sangat berpotensi mencemari lingkungan
hidup. Kendati ditanam dalam tanah bertahun-tahun, plastik bandel itu tak bisa
hancur. Dan, bila dibakar, asapnya menimbulkan gas beracun yang dapat merusak
atmosfer.
Keistimewaaan plastik H ialah bisa larut kendati larutnya hanya dalam air
asam (acid). Untuk lebih jelasnya, plastik ini dapat diatur kelarutannya dalam
air dengan merekayasa pH (derajat keasaman).
Untuk membuktikan kecanggihan temuannya itu, dua pekan lalu Petcavich
mengadakan presentasi di hadapan 350 hadirin di Singapura. Dia bahkan meminum
larutan plastik tersebut. Sakit perut? ''Ah, saya baik-baik saja sampai
sekarang,'' kata Petcavich kepada Bambang Harymurti dari TEMPO.
Ia berani meneguk larutan plastik H, tak lain, karena semua unsur yang
terkandung dalam plastik H telah dinyatakan aman oleh FDA (semacam Ditjen POM
di Indonesia). Namun, Petcavich doktor ahli polimer enggan merinci
unsur-unsur plastik ini. ''Anda kan tahu, saya harus menjaga rahasia temuan
saya,'' ujarnya.
Kendati demikian, riwayat penemuan plastik yang bisa lebur itu tentu tak
kurang menarik untuk diceritakan. Syahdan, pada tahun 1991, Petcavich bersama
anaknya berjalan-jalan di pantai San Diego, AS, yang bertabur plastik dari
ujung ke ujung. Rasa kepeduliannya pun tergugah.
Sejak itu, Petcavich meneliti plastik dan mengurung diri di garasi rumahnya.
Hasilnya? Hanya dalam waktu tiga bulan, ia berhasil menemukan plastik H.
Setahun kemudian, pakar yang pernah bekerja di Litbang Texas Instrument &
Marketing Allied Chemical ini juga memperkenalkan plastik C dan Z, yaitu
plastik yang dapat membusuk bila dibuang ke tempat sampah (biodegradable).
Plastik C dan plastik H adalah jenis yang biasanya dibuat untuk kantong
plastik atau mainan anak-anak dan meleleh pada suhu 50 derajat Celcius,
sedangkan plastik Z bisa dipakai untuk membuat perkakas rumah tangga dan
meleleh pada suhu 120 derajat.
Selain bisa larut dalam air, kehebatan plastik C dan Z adalah keluwesannya.
''Dalam proses pembuatannya, dapat direkayasa berapa tingkat biodegradable
yang diinginkan,'' kata Petcavich. Maka, ia bisa mengatur daya tahan plastik C
dan Z antara 20 hari dan dua tahun. Luar biasa, memang.
Dengan segenap kelebihan itu, tidak otomatis plastik H, C, atau Z itu unggul
100%. Dalam perkara harga, jenis plastik ini sangat mahal. Satu kilogram
plastik buatan Petcavich dihargai antara US$ 4,4 dan US$ 11. Padahal, plastik
biasa harganya hanya US$ 1,22,5 per kg. Menurut Petcavich, bila produksi
plastik H, C, dan Z dapat diproduksi hingga 50 ribu ton setahun, biaya
produksinya akan sama dengan plastik biasa, yakni US$ 2 per kg.
Sebelum Petcavich menemukan plastik H, di AS sudah ditemukan juga plastik
yang lapuk oleh sinar matahari dan mikroba tanah. Pada jenis pertama, bahan
baku plastiknya mengandung banyak unsur karbonil, yakni sejenis bahan kimia
yang berubah bila terkena sinar ultraviolet dari matahari. Konsekuensinya,
mudah diurai lewat proses alamiah.
Jenis yang kedua mirip dengan temuan Petcavich, yakni plastik biodegradable.
Plastik ini memiliki kekuatan seperti plastik konvensional. Namun, begitu
ditanamkan dalam tanah, kesaktiannya hilang.
Itu dimungkinkan karena plastik ini terbuat dari bahan selulosa alami, yang
dihasilkan lewat proses fermentasi tepung jagung ditambah sejumlah resin dari
minyak nabati.
Menurut Campell, pakar teknologi, biodegradable otomatis akan bersenyawa
dengan logam yang ada dalam tanah seperti kalsium, kalium, atau zat besi dan
menyisakan selulosa pendek. Lalu, ''Selulosa akan hancur oleh bakteri tanah,''
katanya.
Plastik yang lapuk oleh sinar matahari dan bakteri itu kini sudah diproduksi
di Amerika dan Kanada dalam jumlah terbatas.
Plastik ''alamiah'' sejenis ini juga diproduksi oleh Shikoku, lembaga riset
industri Jepang. Plastik ini terbuat dari unsur pati, kayu, kulit serangga,
dan kulit kerang. Satu hal lagi, plastik ini bisa dihancurkan oleh mikroba
dalam 75 hari.
Namun, seperti halnya plastik yang larut oleh matahari ataupun hancur oleh
bakteri, plastik buatan Jepang belum banyak diproduksi. Lalu, apa kelebihan
plastik Petcavich? Barangkali, kapasitasnya untuk mudah hancur. Kini,
sedikitnya ada 1.600 perusahaan dari berbagai penjuru dunia yang sudah
mengontak Petcavich.
''Jika benar, penemuan ini bisa memecahkan masalah limbah plastik di
Indonesia,'' kata staf Bapedal, Masnellyarti Hilman. Menurut Masnel, untuk
memusnahkan sampah plastik, diperlukan biaya Rp 375 ribu per ton. Padahal, di
Jakarta saja setiap hari menumpuk 1,25 ton plastik.
BA, Bambang Harymurti (Washington, D.C.), dan Bambang Hamid Sujatmoko
(Jakarta)
|