Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXIII/24 - 30 Juli 1993
   
Kolom Pembaca

Dora emon yang menyesatkan?

Baru-baru ini dunia pertunjukan hiburan Ibu Kota kembali diramaikan oleh
pementasan lakon cerita anak-anak yang memang sedang digemari anak-anak, yakni
lakon Dora Emon dari Jepang.
Karena film kartun serial ini diputar setiap Minggu pagi di layar RCTI, dan
komiknya pun laku keras, digelarlah pementasannya di panggung dengan skala
besar, di Jakarta, 2529 Juni, dan di Surabaya, 35 Juli. Sentra Enterprise,
tampaknya, ingin memanfaatkan Dora Emon mania yang melanda anak-anak dengan
memanfaatkan momentum liburan kenaikan kelas. Saya melihat langsung pementasan
Dora Emon serta melihat beberapa hal yang terasa janggal dan tak sesuai dengan
yang dipublikasikan oleh penyelenggara.
Lakon Dora Emon yang dimulai dengan judul ''Istri Nobita'' selama sekitar 15
menit ternyata tidak menggunakan efek visual yang memadai. Padahal, rombongan
didatangkan dari Jepang.
Kejanggalan utama terjadi pada acara selingan, yakni demonstrasi samurai oleh
mahasiswa Jepang. Dilihat dari lama pertunjukannya, ini dapat disebut sebagai
acara utama karena makan waktu sekitar 45 menit. Dari segi seni pertunjukan,
acara selingan itu berhak mendapatkan apresiasi dari penonton, tapi bukan
untuk anak-anak. Acara ini mungkin lebih cocok digelar di Taman Ismail Marzuki
sebagai suatu acara kebudayaan.
Setelah acara yang sangat membosankan bagi anak-anak itu dipentaskan, pihak
penyelenggara masih sempat meminta istirahat sekitar 15 menit. Tampaknya,
dalam hal ini, Sentra tak memperhitungkan faktor kesabaran anak-anak dan juga
para orang tua yang menemani mereka.
Acara itu ditutup dengan lakon Dora Emon berjudul ''Kelahiran Nobita''. Itu
juga hanya berlangsung sekitar 15 menit!
Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa pementasan itu merupakan suatu pertunjukan
kebudayaan Jepang lakon Dora Emon sekadar sebagai pembuka dan penutup acara.
Sentra telah berhasil menggelar suatu pertunjukan yang berbobot, tapi dengan
publikasi yang cenderung mengecoh. Dengan kata lain, hasilnya sangat
mengecewakan anak-anak penggemar Dora Emon.
DEDDY AVIANTO SUPRIHADI Bendungan Hilir Tanah Abang, Jakarta Pusat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data