Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXIII/24 - 30 Juli 1993
   
Fotografi

Foto jurnalistik yang subversif dan jujur

Buku clinton: potrait of victory adalah kesaksian fotojurnalis p.f. bentley mengikuti perjalanan bill clinton mencapai gedung putih. sekumpulan potret yang subversif dan jujur.

PADA peringkat yang terpintar dan terbodoh, wartawan foto sering terpuruk di
urutan paling bawah. Bukankah demikian bahkan tuding orang-orang pers sendiri
ini profesi yang paling mudah di dunia? Tekan tombol kamera, pekerjaan pun
selesai. Seorang fotografer tak perlu mempelajari latar belakang sebuah
peristiwa untuk membuat rekaman gambar. Seorang fotografer bahkan tak perlu
mengenali terlebih dahulu wajah orang yang akan dipotretnya. Cukup ikuti
petunjuk praktis ini: dia yang paling cantik, yang duduk paling depan, atau
yang paling banyak ditepuki orang adalah dia yang harus dipotret. Pekerjaan
ini menjadi semakin mudah, dan semakin bodoh, dengan diciptakannya
photo-opportunity. Wartawan bergerombol di satu tempat yang sudah diatur
panitia. Mereka yang bingung tinggal mengikuti arah lensa rekan-rekannya untuk
mencari tahu apa atau siapa yang perlu dibidik. Tanpa disadari, foto berita
telah menjadi semacam alat kendali. Informasi mengalir dari satu sumber dan
dalam satu versi: tak ada keraguan, tak ada perdebatan. Buku Clinton: Potrait
of Victory ingin memperdebatkan kemapanan itu, dan menyeret kita dalam
keraguan. Baik dari segi isi maupun profesi kewartawanan, buku foto tentang
kampanye (calon) Presiden AS Bill Clinton ini melenceng dari segala kebiasaan.
Ada ratusan foto di sini yang di media cetak lain mungkin sudah menjadi
penghuni keranjang sampah. Foto-foto kabur foto-foto muram foto-foto yang
tak lengkap Clinton sebagai tangan tanpa badan di balik bendera yang
menghalangi lensa sang fotografer, atau Clinton di sebuah lorong gelap
membisikkan janji-janji yang tak akan pernah diketahui isinya. Di rezim lain,
persepsi fotografer P.F. Bentley itu mungkin membuatnya harus berurusan dengan
pasukan pengawal (calon) presiden. Juga ia akan dituduh tak tahu adat,
subversif, cari gara-gara, dan seterusnya .... Bentley, fotografer kondang
majalah Time, yang memenangkan berbagai penghargaan foto kepresidenan,
mengikuti rombongan Clinton pada saat yang terakhir ini dihantam berbagai
masalah. Karena dulu menentang Perang Vietnam, kini, 30 tahun kemudian,
Clinton dituduh sebagai pengkhianat. Karena ada wanita yang mengaku sebagai
bekas pacar gelapnya, Clinton dijuluki si pezinah. Dan karena ia cuma seorang
gubernur dari kota kecil, sampai menjelang akhir kampanye, Clinton bahkan tak
pernah diperhitungkan oleh partainya sendiri. Sementara gerombolan wartawan
foto memotret Presiden AS (saat itu) Bush dan penantang unggulan lainnya di
lokasi-lokasi eksotis mencium bayi, mengendarai tank, dan menyalami petani
Bentley menyusuri lorong yang lebih sunyi. Selama sembilan bulan, wartawan
foto ini menguntit langkah tertatih Clinton melalui koridor stadion, lapangan
rumput, kamar hotel, landasan bandara, dan kegelapan malam. Apa yang mendorong
sebuah majalah besar dan seorang fotografer senior meliput kandidat yang oleh
kebanyakan orang sudah dianggap kalah sebelum perlombaan dimulai ini? Intuisi,
mungkin, atau boleh jadi sebuah spekulasi khas negara demokrasi. Yang jelas,
Clinton tampaknya tak pernah secara sadar menggunakan Bentley sebagai alat
pendongkrak popularitas. Lagi pula, apa yang dijebak Bentley dengan kamera
Leicanya yang bersuara lembut di ruang-ruang rapat yang penuh ketegangan, di
kabin pesawat yang sempit dan murung, di boks telepon umum di kota terpencil
tempat Clinton melancarkan jutaan permintaan tolong cukup untuk
''merongrong'' wibawa seorang politikus. Di Amerika Serikat, tempat citra
menjadi industri miliaran dolar dan seorang badut bisa dipilih menjadi
presiden, Clinton: Potrait of Victory merupakan sebuah anti propaganda.
Bentley seperti sengaja memotret melawan arus. Posisinya selalu berseberangan
dengan ''kotak wartawan'' tempat gerombolan fotografer berebut memotret
Clinton lensa kameranya sering dihajar cahaya matahari dan lampu televisi
bahkan segala yang menor dan gemerlap dalam sebuah kampanye dihilangkannya
karena ia lebih suka menggunakan film hitam-putih yang brutal tapi jujur.
Semua itu membantu Bentley meraih perspektif yang lebih menukik dibandingkan
dengan wartawan yang hanya ''datang-memotret-lalu-pergi''. Clinton, di mata
Bentley, bukan sekadar tentang Bill Clinton, melainkan tentang sekumpulan
orang kecil dengan segudang cita-cita yang belum tentu semuanya akan tercapai.
Clinton adalah tentang James Carville, ahli strategi Clinton, yang dipotret
Bentley di tempat-tempat ganjil di kedai cuci baju, atau ketika lari pagi di
pinggir jalan dalam keadaan garang dan penuh siasat. Clinton juga tentang
mekanisme politik yang sebenarnya bukan slogan-slogan yang dikumandangkan di
mimbar (bukankah itu cuma sandiwara?), melainkan ribuan janji yang diucapkan
di lorong-lorong gelap untuk kemudian diingkari sejuta kali di depan televisi.
Clinton adalah tentang Hillary Clinton. Dari 125 foto yang dihasilkan Bentley,
tak cuma sekali Bill Clinton tenggelam dalam bayang-bayang istrinya itu. Saat
Hillary menampik rumusan panitia kampanye, misalnya, atau ketika ia mengusap
kening suaminya, saat itulah Hillary tampil sebagai seorang pemimpin alami.
Sebaliknya, Clinton malah sering kelihatan sebagai bocah yang bingung dan
ketakutan. Toh, kita patut salut kepada Clinton. Tak sekali pun ia menampik
kamera Bentley atau meminta pengawal mengusir wartawan foto itu. Clinton bila
kita teliti lagi satu per satu foto dalam buku setebal 127 halaman itu bahkan
tampaknya tak sadar bahwa ia terus-menerus dibidik Bentley. Hasilnya? Bagi
Bentley, perjuangan Clinton bukan tentang Clinton lagi, tapi sudah menjadi
milik rakyat AS: Clinton cuma sebuah titik di antara jutaan titik lainnya. Dan
itulah yang membedakan P.F. Bentley dari jutaan wartawan foto lainnya. Bagi
fotografer senior itu, memotret bukan pekerjaan yang mekanistis, tapi penuh
kejutan, mencang-mencong, dan membingungkan. Saat kameranya ragu-ragu menjerat
sebuah momen, kita merasa seolah-olah benda mati itu memiliki sebuah hati yang
bimbang dan otak yang penuh pertimbangan. Tapi jantung yang berdegup keras itu
milik sang fotografer. Dengan buku Clinton: Potrait of Victory, P.F. Bentley
membuktikan sekali lagi bahwa fotografer bukan seonggok robot tanpa akal.
Yudhi Soerjoatmodjo


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data