Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXIII/24 - 30 Juli 1993
   
Film

Bermacam-macam peter sellers

Ia termasuk aktor yang tak pernah mengulang akting dalam peran-perannya. tapi ia tak pernah memperoleh hadiah di cannes maupun di hollywood. di sini ia dikenal lewat pink panther.

PETER Sellers menyusup ke Indonesia sebagai Detektif Clouseau yang bloon.
Tapi film serial Pink Panther justru yang tak ada dalam acara pekan film Peter
Sellers di Taman Ismali Marzuki, pekan lalu. Tak apa, soalnya Sellers yang
lain tetap saja mengocok perut penonton, mungkin lebih lucu ketimbang si
Detektif Clouseau yang dulu kabarnya tak laku di Indonesia.
Dan bila Anda juga tak menemukan kemiripan antara Sellers dalam Pink Panther
dan Sellers dalam film yang lain, juga Anda tak perlu merasa bloon. Pribadi
sang aktor sesungguhnya, demikian kata aktor terkemuka Inggris Peter Sellers,
hilang tenggelam ditelan oleh pribadi tokoh yang tengah diperankannya.
Itulah mengapa dalam enam film yang diputar pekan lalu ia tidak kelihatan
sebagai Sellers, tapi sebagai tukang kebun yang lugu, penulis naskah TV,
tukang memutar film di bioskop yang pemabuk, sutradara drama, atau penasihat
khusus presiden.
Peter Sellers mulai menjadi perhatian masyarakat ketika ia muncul dalam
sejumlah sandiwara radio di Inggris. Ia memulai debut perfilmannya tahun 1951
dalam Penny Points to Paradise, tapi aktingnya dalam The Smallest Show on
Earth yang mendapatkan perhatian pertama dari para kritikus film. Dalam film
ini, Sellers berperan sebagai seorang tukang putar film yang tua dan pemabuk.
Bandingkan tokoh pemabuk dalam film ini dengan tokoh pemabuk dalam film
Lolita karya Stanley Kubrick. Keduanya diperankan oleh Peter Sellers. Tapi
kita tidak melihat sedikit pun pengulangan peran dari satu film ke film
lainnya. Dalam Lolita, Sellers berperan sebagai Clare Quilty, penulis naskah
drama TV eksentrik, muncul begitu saja seperti bola yang menggelinding.
Ini adalah film tentang seorang dosen sastra Perancis, Humbert Humbert (James
Mason), yang mabuk kepayang kepada anak tirinya yang masih belia, blonda, dan
jelita bernama Lolita (Shelley Winters). Ketika istrinya, Charlotte Haze (Sue
Lyons), membaca buku harian Humbert tentang kenyataan itu, ia patah hati,
berlari dan tertabrak mobil. Maka, Humbert segera menjemput Lolita ke asrama
sekolahnya. Ketika Humbert dan Lolita masuk ke dalam sebuah hotel, Clare
Quilty (Peter Sellers) muncul ''mengganggu'' di lobi hotel, memperhatikan sang
gaek yang sudah kebelet ingin bercintaan dengan gadis usia 14 tahun itu.
Berpura-pura menjadi seorang detektif, Quilty mengganggu Humbert dengan
menanyakan hubungan macam apa yang terjadi antara Humbert dan ''anak tiri Anda
yang begitu jelita dan bahenol itu''.
Terakhir, Sellers muncul sebagai Clare Quilty, seniman yang dikagumi Lolita,
kekasih Lolita sesungguhnya, pemabuk sial yang dicemburui Humbert. Film
sepanjang lebih dari dua jam ini tokoh utama sebenarnya adalah Lolita dan
Humbert. Namun, sosok Peter Sellers yang keluar-masuk layar putih dengan peran
yang berganti-ganti malah mencuri segenap perhatian penonton.
Sellers bukan hanya aktor yang komikal dan penuh improvisasi. Ia juga punya
kemampuan melepaskan kepribadiannya secara total, sebuah kemampuan yang jarang
dimiliki oleh para aktor. Lihat saja aktingnya dalam film Being There karya
Hal Ashby, yang dianggap sebagai karya terbagus dari 54 film yang pernah
dibin- tanginya. Film yang dibuat berdasarkan novel Jerzy Konsinsky ini
mengisahkan tukang kebun bernama Chance, yang baru saja ditinggal mati
tuannya. Selama itu, Chance hanyalah tahu bekerja di kebun tuannya dan
menonton televisi. Chance tak mengetahui kehidupan di luar rumah tuannya, tak
tahu tentang kejahatan, transaksi uang, wanita, politik pokoknya apa pun di
dunia ini. Suatu hari, penguasa hukum tanah dari rumah tuannya mengusir
Chance. Chance lantas pergi dan tertabrak sebuah limusin yang dikendarai Eve
Rand (Shirley Maclaine), istri pengusaha kaya raya.
Di rumah Rand itulah Chance, yang namanya kemudian menjadi Chance Gardener,
berkenalan dengan presiden Amerika yang sedang menghadapi problem ekonomi
negaranya. Ajaib, pernyataan-pernya- taan Chance tentang tumbuhan dipahami
presiden itu sebagai simbol-simbol filsafat yang bisa diterapkan dalam pidato
ekonominya. Ketika kata-kata Chance dikutip oleh presiden itulah, namanya
mendadak terkenal dan ia diwawancarai berbagai media. Tapi Chance adalah
Chance. Ia adalah seorang tukang kebun yang hanya senang menonton TV dan tidak
menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Seorang sutradara pernah mengatakan, berperan sebagai ''orang biasa'' itu
sulit. Chance bukan hanya ''orang biasa'' tapi orang yang ''terlalu biasa''.
Ia hampir tanpa emosi dan keinginan. Dan untuk memerankan orang yang begitu
itu, yang hanya mengerti tentang tumbuh-tumbuhan dan acara televisi, bukanlah
main-main.
Peter Sellers, salah seorang aktor yang sedikit, yang telah mencapai sebuah
puncak kesenian akting yang paling tinggi.
Leila S. Chudori


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data