Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXIII/17 - 23 Juli 1993
   
Tari

Menawar akar memetik amai-amai

Empat nomor tari karya boi g. sakti, dengan berbagai gaya, dari tradisi minang sampai postmodernisme jerman. penjelajahan yang serius, dan penemuan akar tradisi yang kreatif.

ADALAH cahaya, dari atas, dari samping, dan terbagi simetris. Lalu musik,
dan terbentuklah suasana pagi. Dua wanita berdiri di sudut kiri belakang,
mengenakan kamisol ungu, dan kain batik. Wanita ketiga, juga dengan kamisol
ungu dan kain batik, masuk dari sayap kiri panggung, berjalan dengan perkasa.
Tiba- tiba di tengah panggung ia seperti membentur sesuatu, lalu berbalik,
bergegas masuk ke sayap panggung lagi. Dan kemudian adalah sebuah tari,
disebut Amai-amai, yang artinya wanita- wanita, oleh empat wanita.
Nomor kedua dari empat nomor tari karya Boi G. Sakti, di Teater Tertutup
Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pekan lalu, tampaknya karya yang paling kompak.
Dari awal sampai akhir, imaji-imaji tampil utuh. Yang lembut, tangkas,
sensual, gelisah, ramai, sunyi.... Antara gerak dan suara, antara musik dan
cahaya, dan semua unsur yang disajikan di panggung, berputar menjadi bulat,
dan terus mengelinding.
Nomor ini pun terasa akrab. Mestinya penonton menangkap kesan-kesan tari
Minang. Suara tepukan telapak tangan ke paha, umpamanya. Lalu entakan kaki,
lompatan tinggi, tendangan silat. Dan, boleh dikata tak sedetik pun karya ini
tampil dengan kendur. Selain koreografer yang awas, pujian sudah semestinya
diberikan kepada empat penarinya.
Sardono W. Kusumo, salah satu nama di dunia seni tari internasional, memuji
Amai-amai sebagai karya yang ''vokal, musik, gerak binatang, gerak manusia
tampil dengan utuh''. Dibandingkan dengan tiga karya yang lain, yang
mengeksploitasi gaya tari modern Amerika, atau postmodernnya Jerman, kata
Sardono, Amai-amai terasa bertolak dari tradisi, dan itulah mengapa Boi
berhasil dalam nomor ini.
Tentu, bukan salah menampilkan gaya-gaya yang jauh itu, dan sebaliknya. Dalam
kata-kata Boi sendiri, ''melahirkan sesuatu,'' itu tak ''perlu memperhitungkan
dari mana sumber- sumber itu datang....'' Tapi bila yang Amerika itu, yang
postmo itu, tampaknya belum terpegang di tangan koreografer muda berusia 27
tahun lulusan D-III Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta ini, memang ada
yang perlu dikaji.
Nomor pertama misalnya, Dongeng Buat Malin. Dua penari pria dan seorang
wanita menampilkan nomor yang didasari kisah Malin Kundang. Ada sesuatu,
sebutlah itu imaji sebuah karya, pada nomor awal ini tak sepenuhnya lahir.
Padahal, rasanya ketiga penari tampil dengan terampil, dan pas dalam membentuk
komposisi.
Bila demikian, tampaknya faktor itu tak terletak di pundak para penari. Dalam
hal ini, sebagaimana dalam dua nomor terakhirnya, Boi mungkin belum
benar-benar pas dengan idiom- idiom gerak tari modern Amerika. Bak jurus-jurus
silat, yang ini baru dikuasai secara fisik, tapi belum terpegang esensinya.
Dengan kata lain, gerak-gerak modern yang berasal dari yang jauh itu belum
menyentuh batin. Ini terasa benar dibandingkan dengan Amai-amai, sebuah karya
yang lahir dari ''menoleh jiwa menawar akar''. Koreografer yang lahir di
Batusangkar, Sumatera Barat, ini, yang belajar menari Minang di Sanggar
Gumarang Sakti pimpinan Gusmiati Suid, tentu tak sulit mengenal dan menghayati
''akar-akar''-nya. Dan karena itu ia bisa dengan lancar mengucapkannya untuk
mengekspresikan hal dengan ''bahasanya sendiri''.
Itu sebabnya bila dalam dua nomor terakhir, Puisi Cinta dan AB-ad-AB nan
sakit (baca: abad adab nan sakit), yang tampil menonjol bukanlah keutuhan.
Tapi pecahan-pecahan adegan yang tak membentuk imaji. Sebuah pecahan-pecahan
yang dengan bagus menampilkan kepiawaian para penarinya. Lihat, seorang penari
melemparkan diri secara lurus ke depan penari lainnya yang kemudian menangkap
tubuhnya dalam posisi tetap horisontal, adegan yang mengesankan.
Kurang paskah Boi berjalan di lorong postmodernisme Jerman? Tak pada
tempatnyakah anak muda ini membuat panggung yang ramai sebagai sebuah dunia
sendiri, yang tak dipakai sebagai tempat mengekspresikan sesuatu, tapi yang
dijadikan sesuatu untuk menciptakan sesuatu? Tiba-tiba saja seorang penari
masuk membawa sejumlah telur. Lalu terjadi lempar-lemparan telur, lalu seorang
penari lain masuk membawa kompor sudah menyala, komplet dengan tempat
penggorengan. Dan telur pun dipecah, digoreng.
Jika panggung lalu terasa hanya menjadi tempat seseorang menggoreng telur,
nomor ini memang kurang menyentuh. Padahal, apa pun genre yang ditampilkan
dalam sebuah karya seni, tentunya yang diharapkan bukanlah sekadar
keterampilan fisik. Tapi sesuatu yang menegur batin.
Oktober tahun lalu, Amai-amai ditampilkan Boi di Gedung Kesenian Jakarta.
Menurut kritikus tari Sal Murgiyanto, waktu itu Amai-amai pun belum tampil
secara mengesankan. Banyak gerak merupakan ulangan yang ''berlebihan,'' tulis
Sal (TEMPO, 10 Oktober 1992).
Bila boleh ditarik analogi, koreografer muda yang paling utama saat ini itu
tinggal memerlukan pengendapan. Penjelajahannya ke segenap gaya rasanya
bukanlah sekadar atas nama mode, tapi diniati dengan sungguh-sungguh, melihat
kredonya. Dan yang paling penting, Boi tak sulit mendapatkan penari-penari
yang secara teknik, daya tahan, penafsiran adalah seniman-seniman ''yang rajin
menghabiskan waktunya di studio tari,'' kata Sardono.
Bambang Bujono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data