Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXIII/10 - 16 Juli 1993
   
Lingkungan

Wwf vs pemburu di hutan paya

Kawanan rusa di wasur, irian jaya, memang dilindungi, tapi para pemburu tidak peduli. populasi satwa itu pun merosot. dan juli ini, musim perburuan dimulai.

WASUR, kawasan perburuan satwa di Irian Jaya, sudah dua tahun terakhir ini
diawasi ketat. Selama dua tahun pula, kawanan rusa di Taman Nasional ini
dijadikan proyek World Wildlife Fund for Nature (WWF). Insya Allah, jumlah
rusa liar yang binasa di sana semakin berkurang.
Ini cukup menggembirakan, karena jumlah itu lebih kecil dibandingkan dengan
jumlah rusa tangkapan yang ditetapkan seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA)
Merauke. Begitulah menurut laporan resmi akhir tahun lalu. Namun, bagi Karel,
hidup tak berubah banyak.
Tiap malam, laki-laki kekar ini mengarungi paya-paya yang mendominasi dataran
rendah Wasur yang luasnya 400.000 hektare itu. Bersama sebelas teman sedesa
dan beberapa ekor anjing, Karel bersampan di antara belukar mangrove menyusuri
air yang tingginya sebatas dada.
Apa yang dicari Karel? Tak lain tak bukan, kawanan rusa. Ia biasa menembus
gelap-gulita, dengan mengandalkan senter. Untuk merobohkan rusa, Karel
menggunakan panah dan tombak. Hasilnya, paling banyak hanya tiga ekor rusa
yang dibagi rata sesama anggota kelompok. ''Itu pun kalau nasib mujur,'' ujar
bapak empat anak itu.
Sedikitnya tangkapan Karel bukan berarti rusa hampir musnah. Memang,
dibanding empat tahun lalu, populasi rusa kini sudah berkurang banyak.
Hasil survei Fraser-Stewart menunjukkan, populasi rusa Wasur mencapai 239
ekor per kilometer persegi. Hampir dua kali lipat dibandingkan dengan populasi
yang terdapat di dataran rendah Sungai Fly, Papua Niugini. Tapi kini populasi
hewan itu hanya 8.000 hingga 9.000 ekor, atau 12 ekor per kilometer persegi.
Semua pihak yang berkepentingan dengan nasib rusa di Wasur tak ragu-ragu
menunjuk biang keladi kemerosotan, yaitu pemburu liar bersenjata api.
Pemburu modern pasti lebih banyak tangkapannya. Dengan menggunakan jip
bergardan ganda dan sepeda motor trail, mereka dapat bergerak lincah. Sinar
lampu spot yang bertenaga aki mobil tak hanya menyilaukan mata rusa, tapi
membuat hewan ini terpana beberapa detik. Pada saat-saat itulah, senapan
pemburu menyalak.
Kepala peluru, yang biasanya diiris dengan gergaji, akan menyobek daging si
rusa, bahkan tembus ke tulangnya yang paling keras. Lain halnya kalau tercucuk
anak panah, rusa masih kuat untuk menderap lari. Tapi kalau dihantam peluru,
ia langsung terkapar.
''Paling tidak sehari bisa mendapat 20 ekor,'' ujar Musa, yang mengaku kini
sudah meninggalkan hobinya berburu rusa.
Namun, motivasi yang menggerakkan pemburu tradisional dan modern tak jauh
berbeda: sekadar memenuhi permintaan pasar daging di Kota Merauke yang juga
menjadi pemasok dendeng di warung-warung sate seantero Indonesia Timur.
Ternyata, daging paha rusa yang lebih lembut ketimbang daging kambing lebih
disukai penduduk di sana.
Ini memang bisnis bagus. Amin, seorang makelar daging rusa lokal, mengaku
bisa meraup untung sekitar Rp 200.000 per minggu. Bahkan, ia sampai membeli
daging rusa dari pemburu tradisional dengan harga sekitar Rp 1.500 sekilo.
''Tapi tidak benar isu yang mengatakan pengusaha memodali pemburu dengan
senapan,'' ujar Amin.
Yang pasti, dari operasi penertiban sejak November 1991, sudah dua oknum ABRI
dijatuhi sanksi disiplin akibat menyewakan senjata dinas. Adapun operasi
gabungan Pemda-WWF-KSDA dan aparat keamanan ini khusus ditujukan untuk pemburu
bersenapan. Soalnya, pemburu tradisional diizinkan berburu rusa. ''Mereka
memang suku peramu dan pemburu,'' kata Katarina Panji, juru bicara WWF.
Suku Marino, Kanum, Yei, dan Merori, yang bermukim di dalam areal Taman
Nasional Wasur, sudah terbiasa memburu rusa sejak akhir Perang Dunia II.
Dibanding walabi (sejenis kanguru kecil) dan 80 mamalia lain yang masuk
klasifikasi hewan asli di sana, rusa tergolong pendatang baru.
Kehadiran mereka di bumi Irian bemula ketika pemerintah Hindia Belanda
membawa rusa timor (Cervus timorensis) untuk ditangkar di Merauke pada tahun
1928. Perang dunia membuat usaha ini kocar-kacir. Rusa yang melarikan diri
kemudian hidup liar di hutan rawa Wasur sampai Sungai Fly di Papua Niugini.
Hadirnya pemburu modern semakin mendesak hewan buruan itu. ''Kawanan rusa
kini lebih banyak berada di tengah belukar rumput yang tinggi-tinggi,'' ujar
Katarina.
Sejak operasi penertiban terhadap pemburu bersenapan, populasi rusa meningkat
sedikit demi sedikit. Berdasarkan survei antara lain lewat pemantauan dari
udara yang dilakukan Albert Franzmann (konsultan zoologi dari Alaska yang
disewa WWF), populasi rusa di Wasur bertambah dari 10 ekor menjadi sekitar 12
ekor per kilometer persegi.
Namun, Wasur belum aman. Linke Ranawarin, petugas WWF di Wasur, menunggu
musim panas, yang di Irian Jaya mulai setiap awal Juli. Wilayah genangan air
rawa pasti akan menyusut. Luasnya dataran kering ini akan membuka peluang bagi
pemburu modern untuk membuat banyak lintasan baru. ''Mereka bisa muncul dari
mana-mana,'' kata Linke.
Ia pantas cemas. Selama ini WWF hanya punya pos penjagaan di jalur Ndalir (di
pesisir) dan pos Wasur (dekat Trans Irian Highway), yang ditunggui delapan
petugas. Padahal, kawasan yang musti dipantau lebih dari 400.000 hektare. Apa
daya?
Ivan Haris dan Mochtar Tauwe


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data