Berdebam! rivan hilang Rivan agustansyah soulisa, mahasiswa indonesia di belanda, tewas bunuh diri. ia stres, materi skripsinya ditolak. |
RIVAN Agustansyah Soulisa, mahasiswa administrasi perusahaan bidang teknik
di Hogeschool Eindhoven. Ia akan menyandang gelar insinyur Juni ini. Lahir 31
Agustus 1969, Rivan datang di Belanda tahun 1988 bersama tujuh orang lagi,
melalui Overseas Training Office Bappenas. Rivan diterima di Technische
Universiteit Eindhoven.
''Dia setia kawan. Bakat musik dan bahasanya juga bagus. Perfeksionis dan
idealis. Pikirannya jauh, saya tak bisa meng- ikutinya,'' cerita Rudy Hidayat,
yang datang setahun setelah Rivan.
''Selesai ujian, obrolan bukan bisa atau tidak, tapi apakah nilai kami 10
atau 9,5,'' cerita Rudy kepada Asbari N. Krisna dari TEMPO. Cuma satu Rivan
mengulang tujuh kali, yaitu mata kuliah model bouw penerapan berbagai mata
kuliah dalam satu model. Ia putus asa. Tanpa memberi tahu sekolahnya maupun
pihak Bappenas, ia pindah ke Hogeschool, jurusan serupa.
Tahun lalu mereka mudik. Rivan ke kampungnya di Ambon, Rudy ke Ujungpandang.
Balik ke Belanda, Rivan ngebut belajar. Ia mau cepat pulang. Suatu kali Rivan
menggugat kematian sahabatnya, Rafael meraih insinyur lalu meninggal akibat
kanker. ''Punya ijazah, besok lalu mati, apa artinya?'' tanya Rivan.
Untuk skripsi, mahasiswa harus mencari sendiri perusahaan tempat
menyelesaikan tugas akhir. Rivan memperolehnya. Tapi pembimbingnya menolak
proposalnya karena dinilai gampang. Setelah mencarinya lagi, didapatkanlah Gas
Unie, Eindhoven. Ia diminta membuatkan sistem pengendalian biaya.
Awalnya mulus. Tapi ketika tak boleh mewawancarai karyawan, Rivan stres. Juga
ketika materinya ditolak. Kepada Rudy, akhir Mei lampau, ia mengeluh sering
pusing. Bimbang. Terus atau tidak? ''Kalau berhenti, mau ke mana?'' tanya
Rudy. ''Saya ingin hidup baru, ingin dilahirkan kembali,'' jawabnya. Sehabis
mandi, Rivan memetik gitar. ''Jangan kaget kalau tiba-tiba saya hilang,''
katanya.
Hampir seminggu kehilangan Rivan, Rudy baru mendapat kabar Sabtu 5 Juni 1993
dari seorang kawan Belanda. Ia nonton TV yang menayangkan korban kecelakaan
kereta api. Itu Rivan. Menurut masinis kereta Schiphol-Amsterdam itu,
kejadiannya menjelang fajar, 1 Juni silam. ''Orang itu berdiri. Di kepalanya
ada headphone. Kereta melaju, eh, dia meloncat ke tengah. Berdebam!'' tuturnya
kepada polisi.
EZ
|