Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/XXIII/26 Juni - 02 Juli 1993
   
Perilaku

Berdebam! rivan hilang

Rivan agustansyah soulisa, mahasiswa indonesia di belanda, tewas bunuh diri. ia stres, materi skripsinya ditolak.

RIVAN Agustansyah Soulisa, mahasiswa administrasi perusahaan bidang teknik
di Hogeschool Eindhoven. Ia akan menyandang gelar insinyur Juni ini. Lahir 31
Agustus 1969, Rivan datang di Belanda tahun 1988 bersama tujuh orang lagi,
melalui Overseas Training Office Bappenas. Rivan diterima di Technische
Universiteit Eindhoven.
''Dia setia kawan. Bakat musik dan bahasanya juga bagus. Perfeksionis dan
idealis. Pikirannya jauh, saya tak bisa meng- ikutinya,'' cerita Rudy Hidayat,
yang datang setahun setelah Rivan.
''Selesai ujian, obrolan bukan bisa atau tidak, tapi apakah nilai kami 10
atau 9,5,'' cerita Rudy kepada Asbari N. Krisna dari TEMPO. Cuma satu Rivan
mengulang tujuh kali, yaitu mata kuliah model bouw penerapan berbagai mata
kuliah dalam satu model. Ia putus asa. Tanpa memberi tahu sekolahnya maupun
pihak Bappenas, ia pindah ke Hogeschool, jurusan serupa.
Tahun lalu mereka mudik. Rivan ke kampungnya di Ambon, Rudy ke Ujungpandang.
Balik ke Belanda, Rivan ngebut belajar. Ia mau cepat pulang. Suatu kali Rivan
menggugat kematian sahabatnya, Rafael meraih insinyur lalu meninggal akibat
kanker. ''Punya ijazah, besok lalu mati, apa artinya?'' tanya Rivan.
Untuk skripsi, mahasiswa harus mencari sendiri perusahaan tempat
menyelesaikan tugas akhir. Rivan memperolehnya. Tapi pembimbingnya menolak
proposalnya karena dinilai gampang. Setelah mencarinya lagi, didapatkanlah Gas
Unie, Eindhoven. Ia diminta membuatkan sistem pengendalian biaya.
Awalnya mulus. Tapi ketika tak boleh mewawancarai karyawan, Rivan stres. Juga
ketika materinya ditolak. Kepada Rudy, akhir Mei lampau, ia mengeluh sering
pusing. Bimbang. Terus atau tidak? ''Kalau berhenti, mau ke mana?'' tanya
Rudy. ''Saya ingin hidup baru, ingin dilahirkan kembali,'' jawabnya. Sehabis
mandi, Rivan memetik gitar. ''Jangan kaget kalau tiba-tiba saya hilang,''
katanya.
Hampir seminggu kehilangan Rivan, Rudy baru mendapat kabar Sabtu 5 Juni 1993
dari seorang kawan Belanda. Ia nonton TV yang menayangkan korban kecelakaan
kereta api. Itu Rivan. Menurut masinis kereta Schiphol-Amsterdam itu,
kejadiannya menjelang fajar, 1 Juni silam. ''Orang itu berdiri. Di kepalanya
ada headphone. Kereta melaju, eh, dia meloncat ke tengah. Berdebam!'' tuturnya
kepada polisi.
EZ


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data