Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXIII/19 - 25 Juni 1993
   
Tari

Keprihatinan di balik topeng

Festival dan diskusi tari topeng jawa dan bali di yogyakarta pekan lalu. kegiatan yang mencoba mencari jalan untuk menggairahkan kesenian yang kekurangan peminat ini.

SAWITRI, dengan topeng yang menutupi wajahnya, tiba pada gerakan pasang
kuda-kuda yang biasa disebut gerak naga seser. Inilah gerakan dalam Tari
Topeng Cirebon yang berat dan sulit. Tapi penari itu, dalam sebuah festival
tari topeng di Yogyakarta pekan lalu, melakukannya dengan indah dan pas. Yang
lebih mengagumkan, Sawitri banyak yang telah tahu usianya sudah 67 tahun.
Inilah festival yang berangkat dari keprihatinan bahwa tari topeng makin
dijauhi penonton. Padahal, Tari Topeng Cirebon, atau persisnya Tari Topeng
Losari, misalnya, konon lahir dari dalam masyarakat sendiri. Lalu kenapa kini
dijauhi? Menurut Sawitri, jumlah penonton tari topeng makin merosot
dibandingkan dengan tahun 1980-an. ''Apa artinya tarian tanpa penonton?'' kata
seniwati ini. Menurut Sawitri, kini tari topeng hanya tampil jika ada festival
kesenian seperti di Yogyakarta itu atau pada acara hajatan perkawinan di
Cirebon. Dan yang disebut terakhir itu pun semakin berkurang karena masyarakat
pedesaan lebih suka menyewa grup musik dangdut atau layar tancap.
Dengan kenyataan seperti itu, bukan dicari-cari bila para penari topeng cemas
bahwa suatu waktu tari ini bakal punah. ''Kami kalah berkompetisi dengan seni
tradisional lainnya dan dengan seni modern,'' kata Gunardi Hadi Parayitno,
pemimpin kelompok Tari Topeng Krantil-Bantul, Yogyakarta.
Begitu kata penarinya, lain lagi pendapat para pakarnya, meski sama-sama
cemas. Profesor Soedarsono, guru besar tari Institut Seni Indonesia, mencoba
melihat masa rawan tari topeng ini dari hakikat dan sejarah tari topeng itu
sendiri. Tari topeng, kata Soedarsono, berasal dari tari-tari sakral sejak
zaman prasejarah. Dalam tari sakral itu, manusia menyembunyikan wajahnya
bagian tubuh yang dianggap memiliki kekuatan untuk bertemu dengan roh nenek
moyang.
Tak jelas disebutkan, tapi tampaknya kaitan antara tari dan upacara itulah
yang menyebabkan tari topeng pelan-pelan kehilangan penonton. Dulu penonton
lebih melihat upacaranya daripada tarinya. Begitu upacara itu tak lagi
berarti, hakikat tari topeng bergeser, dan masyarakat kini pun kehilangan
antusiasnya terhadap jenis kesenian ini.
Coba lihat Drama Topeng Berutuk, salah satu drama topeng yang hingga kini
masih bertahan menjadi bagian dari ritual masyarakat di Desa Trunyan, Bali.
Drama ini adalah lambang kekuatan hubungan laki-laki (Betara Berutuk) dengan
wanita (permaisurinya) yang akan menghasilkan kesuburan bagi Desa Trunyan.
Ritual Drama Topeng Berutuk, menurut Soedarsono, hanya diselenggarakan sehari,
yakni pada saat purnama bulan keempat. Drama itu disajikan tanpa dialog, tanpa
musik, dan tanpa gerakan rumit. Artinya, menikmati pertunjukan seperti itu
tanpa terlibat dalam ritualnya tak mudah.
Dengan sebab yang berbeda karena hakikatnya pun agak lain, tapi akibatnya
sama, adalah Tari Topeng Yogyakarta. Secara teknis, topeng yang dikenakan di
Yogyakarta tidak praktis. ''Topeng yang menutup rapat seluruh wajah sangat
mengganggu penari untuk berdialog,'' tulis Soedarsono dalam makalahnya. ''...
lubang mata yang sangat kecil sulit untuk menjaga keseimbangan penari yang
banyak melakukan angkat kaki dan tungkai.'' Selain mengganggu keseimbangan,
topeng itu pun membuat penari susah bernapas. Padahal, tari topeng butuh waktu
berjam-jam. Itu menyebabkan tari ini susah dikembangkan.
Selain itu, Tari Topeng Yogyakarta, menurut Soedarsono, terjepit antara
selera tari keraton yang halus dan tari rakyat yang relatif bebas. Jadi, ke
atas ditolak, ke bawah tak ditanggapi. Maka, pelan-pelan tari ini kehilangan
penonton juga.
Selain alasan spesifik itu, tentu ada sebab umum yang menyebabkan seni tari
yang tak sekadar menyuguhkan hiburan ini dijauhi penonton. Itulah kehidupan
masyarakat yang mengalami perubahan, yang mempengaruhi cara berpikir dan
selera. Bergesernya orientasi masyarakat pada ekonomi, disadari atau tidak,
menyebabkan orang menilai segala sesuatu menurut nilai- nilai fisiknya.
Sesuatu yang memberikan pengalaman spritual, apalagi harus dihayati secara
''membuang waktu'', merosot peminatnya ketika zaman memasang slogan ''waktu
adalah uang''. Seni tari yang mengekspresikan kehidupan meminta penonton
mengorbankan waktu dan bersedia diantarkan ke suatu pengalaman yang manfaatnya
tak langsung tampak.
Tak ada rumus pasti untuk mengangkat kembali tari topeng agar digemari. Bila
masalahnya tari ini mandek tak berkembang, bisa jadi dengan melihat konsep
tari ini lewat konsep seni modern, akan lahir karya topeng yang bisa berdialog
dengan masa kini. Hanya saja, apa pun pemecahan itu, kesenian yang tak
langsung memberikan hiburan memang kurang laku. Bagaimanapun, tari topeng atau
bukan, ada seni yang memang terlalu riskan jika dibiarkan bernapas sendiri.
Dibutuhkan para pencinta seni, yang sanggup menyediakan dana cukup. Masih
adakah maesenas-maesenas yang diharapkan ini?
Leila S. Chudori (Jakarta) dan R. Fadjri (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data