Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XXIII/19 - 25 Juni 1993
   
Selingan

Memburu gay di tubuh tentara

Sebuah buku karya randy shilts tentang homoseks di angkatan bersenjata amerika terbit tahun ini. buku yang menceritakan bagaimana kaum ini diperlakukan tak adil, lebih-lebih lagi kaum lesbiannya. mungkin kasus-kasus itulah yang menodorong presiden clinton menyatakan homoseks di tubuh tentara as boleh-boleh saja. berikut cuplikan buku tersebut seperti yang dimuat di los angeles times nomor akhir april.

SELAMAT datang kaum homoseks di angkatan bersenjata Amerika. Setelah lewat
perdebatan besar, baik gay maupun lesbian bukan lagi hal yang ditabukan di
angkatan bersenjata Amerika Serikat. Walau itu belum dijamin undang-undang,
Presiden Bill Clinton sudah memutuskan untuk tidak memecat kaum homoseks.
Clinton, selain terikat janji di masa kampanye pemilihan presiden tahun lalu,
tampaknya memang tak bisa mengabaikan kekuatan kaum homo di negeri demokrasi
itu. Di Los Angeles, ANGLE (Access Now for Gay and Lesbian Equality, persamaan
hak kaum homo sudah terbuka kini) berhasil mendirikan markas dengan biaya
sebesar US$ 7 juta. Sebelumnya, di bawah pimpinan David Mixner, ANGLE juga
berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 3,5 juta untuk mendukung kampanye
Clinton.
Tapi suara kecemasan pun muncul. Pendeta Louis P. Sheldon, Ketua Koalisi
Nilai-Nilai Tradisional Amerika, yakin tak lama lagi gelombang homoseksual
akan melindas habis nilai-nilai Amerika karena negeri ini kini memiliki
presiden homoseksual.
Sheldon mungkin ada benarnya. Buktinya, aspirasi kaum gay dan lesbian juga
didukung oleh kaum heteroseks. Mereka sama-sama menentang diskriminasi
berdasarkan jenis kelamin. Dalam demonstrasi April lalu, misalnya, satu juta
orang berbaris di Washington, D.C. menentang peraturan antigay dalam militer
AS, dan tak hanya diikuti kaum homoseks. Bagi mereka yang berbaris itu,
Amerika Serikat, negara garda terdepan dalam perjuangan hak-hak sipil, tak
selayaknya melakukan diskriminasi apa pun.
Memang, korban sudah sempat jatuh. Dalam demonstrasi April lalu, misalnya,
nama-nama korban disebut-sebut: taruna akademi angkatan laut Joseph Steffan,
Letnan AL Tracy Thorne, dan Kolonel Pengawal Nasional Margarethe Cammermeyer.
Mereka diberhentikan dari angkatan bersenjata hanya karena mereka gay, tanpa
ada pertimbangan tentang reputasi mereka yang tanpa cela selama bertugas.
Tiga orang itu hanya beberapa gelintir dari belasan ribu yang mengalami nasib
yang sama. Menurut catatan di departemen pertahanan, antara tahun 1986 dan
1990 pihaknya telah melakukan 3.663 kali penyidikan kasus gay. Hasilnya, dalam
sepuluh tahun itu, lebih dari 14.000 gay diberhentikan dari angkatan
bersenjata. Di lingkungan ROTC (Reserve Officer Training Corps), para kadet
akan dipecat jika ketahuan mereka itu gay, dan mesti membayar ganti rugi biaya
latihan yang bisa mencapai US$ 50.000. Ini merupakan akibat dari peraturan
antigay tahun 1943. UU itu sendiri mulai ditegakkan awal tahun 1980-an saat
wanita mulai diizinkan bertugas di kapal-kapal AL.
Sebenarnya, peraturan itu tak mudah dilaksanakan. Tak ada cara ampuh untuk
menentukan seseorang itu homoseks atau bukan. Homoseks tak bisa ditentukan
hanya dengan melihat fisik mereka, atau mengamati nilai-nilai prestasi.
Orientasi seksual tidak berhubungan dengan kualitas kerja. Bahkan orang tak
bisa langsung dituduh gay walaupun ada laporan. Itu karena perilaku para
homoseks umumnya terjadi selepas menjalankan tugas atau termasuk dalam
kategori kegiatan pribadi. Jadi, cara satu- satunya adalah memaksa pengakuan
resmi dari orang yang disangka gay tersebut.
Biasanya, para penyelidik militer mengancam bahwa para tentara yang dituduh
gay, kebanyakan yang berumur 19 tahun sampai 20 tahun, akan dikirim ke penjara
militer Fort Leavenworth jika mereka tidak mengaku. Jika targetnya adalah para
janda yang dituduh lesbian, penyelidik kadang mengancam akan melapor kepada
pengawas kesejahteraan anak yang dapat mengambil anak mereka.
Ini taktik yang efektif, bukan hanya untuk mendapat pengakuan, tapi lebih
jauh lagi memaksa tersangka untuk menyebutkan rekan- rekannya yang juga
homoseks. Seorang pelaut yang ketakutan, misalnya, akan memberikan nama lima
orang gay lainnya. Lalu kelima orang itu akan diajukan pertanyaan yang sama
sehingga akan diperoleh lima nama lain lagi. Ini seperti bola salju yang makin
lama menggelinding makin besar.
Sayangnya, teknik ini tidak manusiawi karena tersangka terus- menerus berada
di bawah tekanan. Kehidupan pribadi mereka pun diawasi secara mencolok. Apa
boleh buat, tampaknya inilah satu- satunya cara menyingkirkan lesbian dan gay
dari dinas militer.
Dalam masa pemerintahan Reagan dan Bush, sikap untuk menoleransi homoseks
sebenarnya semakin besar. Masyarakat juga makin terbuka dalam menerima
homoseks. Tapi pihak militer tidak. Ketika kasus AIDS terungkap di angkatan
darat, reaksi pertama yang muncul adalah ''pemecatan''. Asumsinya, siapa pun
yang menderita AIDS sudah pasti gay.
Berikut adalah beberapa kisah homoseks dalam militer Amerika. Cerita yang
mengundang pertanyaan: apakah Amerika memang sebuah masyarakat merdeka.
MEI, 1980, USS NORTON SOUND, PORT HUENEME
Sekitar tahun 1980, ada lelucon terkenal tentang NIS, dinas penyidikan
angkatan laut. ''Teleponlah NIS dan katakan Anda menemukan mayat. Agen NIS
baru muncul seminggu kemudian, atau mungkin lebih dari seminggu. Tapi
teleponlah lagi dan katakan Anda menemukan orang mati, dan jangan lupa
mengatakan ada kemungkinan orang mati itu seorang homoseks. Agen itu pasti
akan muncul dalam 30 detik.'' NIS tak hanya direcoki oleh masalah homoseksual,
tapi juga punya obsesi menangkap homoseks sebanyak-banyaknya.
NIS mulai banyak kerja pada awal 1980-an, ketika wanita berhasil menerobos
tradisi dua abad angkatan bersenjata Amerika: mereka diizinkan bertugas di
kapal meski masih terbatas bukan di kapal perang. Para perwira tinggi AL
memang tidak memecat pelaut baru hanya karena mereka wanita, tapi pasti wanita
itu tersingkir jika ketahuan ia lesbian. Kapal- kapal pertama yang
mempekerjakan wanita adalah kapal pertama yang ''melahirkan'' lesbian. Di
antaranya kapal uji nuklir Norton Sound. Tanggal 16 Mei 1980, seorang agen
seperti mendapat harta karun ketika mewawancarai Helen Teresa Wilson, petugas
ruang makan kelas tiga yang menyampaikan empat halaman * laporan tentang
praktek lesbian di kapal.
Menurut Wilson, 23 dari 61 awak kapal wanita adalah pencinta sesama jenis.
Namun, ia mengakui bahwa ia sendiri belum pernah melihat dengan mata kepala
sendiri. Ia hanya membaca gejala. Seseorang di kelompok lesbian itu, katanya,
''Suka melenggak- lenggok di kompartemen dengan memperlihatkan beberapa bagian
tubuh dan suka mengintip wanita lain yang sedang berpakaian atau mandi.'' Dan
satu hal lagi, anggota kelompok itu, setahu dia, ''Tak tertarik kepada
cowok.''
Mereka itu, kata Wilson, antara lain Tangela Gaskins, yang ''suka
memperlihatkan kemesraan bila berbicara dengan sesama cewek, khususnya dengan
sesama lesbian.'' Lebih lanjut, Wilson menyatakan hanya satu dari sembilan
cewek kulit hitam keturunan Afrika yang tidak lesbian.
Bahkan, kata Wilson, Carole Brock, teknisi mesin kelas dua yang lesbian,
telah ''mengawini'' awak kapal lain seminggu lalu. ''Ia dan Brock selalu pergi
bersama pada waktu bebas, dan keduanya tak pernah tidur di kapal, kecuali
sedang bertugas,'' ujar Wilson.
Setelah mendapat keterangan dari Wilson, NIS memanggil 38 wanita di kapal itu
yang namanya tidak masuk dalam daftar Wilson. NIS menyerahkan satu daftar nama
dan meminta mereka memberi tanda pada nama yang mereka anggap lesbian. Dari
sini NIS mengumpulkan nama 29 wanita yang diduga sebagai lesbian kendati tak
seorang informan pun pernah melihat tersangka melakukan perbuatan homoseksual.
Seperti kebanyakan cewek kapal, bintara AL Lynn Batey yang disodori daftar
nama itu mula-mula mengatakan tidak tahu apa- apa tentang hubungan sesama
jenis di Norton Sound. Semua itu, kata Batey, hanya desas-desus. Agen khusus
John Stevens mengancam, jika Batey tidak mau memberikan bukti-bukti, ia
sendiri akan diajukan ke pengadilan sebagai lesbian. Batey tampaknya tak bisa
berbuat lain, dan menulis pernyataan yang menuduh Carole Brock dan tiga wanita
lain sebagai lesbian.
Taktik seperti di atas menghasilkan selusin pernyataan. Setelah surat-surat
terkumpul, barulah NIS menginterogasi langsung tersangka. Pertanyaan yang
diajukan umumnya pertanyaan mesum. Salah satu agen, umpamanya, mulai
mewawancarai pelaut Barbara Lee Underwood dengan pertanyaan, pernahkah ia
bermesraan dengan rekannya. Setelah itu, dengan gaya meyakinkan si interogator
mengatakan kepada tersangka bahwa mereka telah punya bukti- bukti dan menekan
tersangka supaya mengaku. Ketika mewawancarai Carole Brock, agen-agen membual
dengan mengatakan pacarnya yang cewek sudah mengaku dan mengatakan mereka
sudah berciuman. Padahal, Brock tahu pacar wanitanya itu dipanggil saja belum,
apalagi bicara. Brock menyangkal semuanya. Ia juga tak menyebutkan satu nama
pun meski diancam- ancam.
Jumat pagi sebelum libur Memorial Day, kapten kapal memanggil semua awak
kapal. Brock berdiri dengan wanita yang dikencaninya dan beberapa teman
lesbian lainnya. Kapten mereka, Komodor J.E. Seebirt, mengumumkan melalui
pengeras suara, penyelidikan tentang lesbian tengah berlangsung.
Brock berteriak, ''Kenapa hanya wanita yang diselidiki?''
Sebenarnya ada benarnya asumsi yang mengatakan bahwa banyak wanita yang
berseragam adalah lesbian. Sekitar 80% wanita yang ikut Perang Dunia II adalah
lesbian.
JUNI 1980, NORTON SOUND, LONG BEACH
''Halo, lesbi.''
''Halo, mau barang yang sesungguhnya?''
''Nasibmu buruk, kau kutahan.''
Carole Brock sudah terbiasa dengan sapaan jail serupa ini di sepanjang Long
Beach Naval Shipyard. Hasil penyelidikan telah menyebar ke seantero penjuru
dalam beberapa hari setelah Norton Sound merapat. Karena Norton Sound adalah
satu-satunya kapal yang berawak perempuan, pelaut lain beranggapan setiap
wanita di kapal itu pasti lesbian.
Baru beberapa hari di Long Beach, 19 wanita menerima surat pemecatan dari
angkatan laut dengan dosa ''tidak cocok ... karena berpartisipasi dalam
tindakan homoseksual''. Sialnya lagi, mereka tak punya hak untuk didengar dan
hanya menerima putusan. Jika mereka secara sukarela mengundurkan diri -- jelas
ini yang diinginkan oleh AL -- mereka masih mendapat predikat ''dipecat dengan
hormat''. Beberapa wanita yang telah bekerja selama 10 tahun pasti tahu
''dipecat dengan hormat'' lebih baik daripada hanya ''dipecat''. Namun, tak
seorang pun mengundurkan diri.
Ketakutan berubah menjadi kemarahan ketika perwira tinggi memanggil ke-19
wanita itu. Brock duduk persis di depan Komodor Myer. Perwira tinggi itu
mengatakan, ''AL sudah tahu siapa- siapa yang akan dipecat.'' Jadi, apa pun
hasil pertemuan itu, nasib mereka sudah jelas. ''Kalau mereka sudah tahu,
kenapa harus ada pertemuan ini?'' tanya Brock. Ia masih minta Komodor Myer
menunjukkan pernyataan-pernyataan yang digunakan sebagai bukti dalam
menjatuhkan ke-19 wanita itu.
Si perwira mengatakan, kapten kapal pasti akan memperlihatkan pernyataan itu
dengan senang hati. Wanita-wanita itu, dipimpin Brock, menyerbu kamar kapten.
Dan inilah jawaban si kapten: ''Kami belum menerima pernyataan itu satu pun.''
Brock terbengong-bengong -- bagaimana mereka didakwa begitu berat sebelum
melihat bukti-buktinya?
Menanggapi pembersihan di Norton Sound, ACLU unjuk gigi. Mereka mengancam
akan membawa AL ke pengadilan bila rencana memecat 19 wanita itu dilakukan
tanpa mendengar keterangannya lebih dulu. Satu minggu kemudian, AL mengumumkan
bahwa dakwaan terhadap 11 wanita dibatalkan. Sisanya akan dipecat karena
''perbuatan tidak senonoh'' -- bukan dengan alasan 'tidak sesuai'', karena
alasan ini akan memberi hak pada mereka untuk didengar.
Berita dari Norton Sound yang memenuhi koran-koran California Selatan membuat
orang di atas kapal mengambil sikap setuju atau menentang. Pengawal bersenjata
disebarkan 24 jam di seputar pangkalan-pangkalan cewek. Maksudnya, untuk
mencegah praktek- praktek homoseksual. Bahkan, dalam apel pagi, perwira tinggi
memerintahkan semua pelaut menghindar dari delapan wanita homoseks itu:
''Kecuali soal pekerjaan, jangan berurusan dengan wanita-wanita itu.''
Brock dipindahkan ke kapal patroli, tapi ini tidak membuatnya tenang. Ia
segera sadar bahwa tiga orang pria selalu mengikutinya jika meninggalkan
pangkalan. Ia kadang pergi sampai Los Angeles atau San Diego, dan ketiga pria
itu terang- terangan terus mengikutinya. Dua bulan sebelumnya, Brock bangga
jadi anggota angkatan laut AS dan melepas status pekerja pabrik di San Jose.
Tapi, sekarang, hanya karena satu kata yang dituduhkan kepadanya, ia diikuti
seperti seorang kriminal. Seorang tersangka lain dari Norton Sound juga yakin
diikuti orang lain dan selalu mendengar suara ''klik'' yang aneh di
teleponnya.
Sebenarnya, para perwira AL juga punya persoalan. Kencan-kencan yang dilarang
terdengar santer, tapi tetap saja tak ada bukti yang bisa digunakan untuk
pemeriksaan administratif. Itu sebabnya mereka sangat mengincar Joyce Arnold,
yang pernah disebut sebagai lesbian dan punya dua orang anak. Padahal,
petunjuk apa pun yang menyatakan dia lesbian akan berpengaruh pada kedua
anaknya.
Apa pun alasannya, jelas NIS dan perwira tinggi di kapal memburu Arnold
sebagai pelaut yang tampaknya akan memberi informasi mengenai wanita lain.
Dalam satu minggu, seperti kata Arnold, perwira tinggi telah memanggilnya
empat kali ke kabin untuk mendesak Arnold agar menyebut wanita yang melakukan
praktek lesbian. Agen NIS mengatakan ia bisa dituduh lesbian jika tidak
menyebut nama lesbian lain. Setelah menerima tekanan selama dua bulan, Arnold
membuat pernyataan untuk dirinya sendiri, tapi NIS tak mau menerima begitu
saja. NIS masih ngotot juga ketika ia membuat surat pernyataan kedua dan
ketiga, dan baru diam setelah ia membuat pernyataan yang menuduh wanita lain
di Norton Sound sebagai lesbian, termasuk beberapa teman dekatnya.
4 AGUSTUS, 1980, NORTON SOUND, LONG BEACH
Pihak AL ingin agar ketiga wanita kulit hitam yang dituduh lesbian diperiksa
bersama. Namun, pengacara menentangnya dan meminta agar tiap orang diperiksa
terpisah. Yang pertama kali diperiksa adalah bintara laut Tangela Gaskin.
Gaskin sudah bergabung di AL selama 18 bulan dan naik pangkat dari kelasi
menjadi bintara kelas tiga dalam waktu tujuh bulan. Itu prestasi yang
mengagumkan. Ia dituduh lesbian karena menolak kencan dengan rekan sejawat
pria, padahal ia menolak karena sudah punya pacar.
Kasus Gaskin tidak mudah. Kelasi yang masih magang, Pamela Tepstein, adalah
satu-satunya orang yang mengaku melihat Gaskin mencium Williams. Belakangan,
pernyataan Tepstein dipakai untuk menuduh belasan wanita lain di Norton Sound
bahwa mereka telah melakukan perbuatan seksual di kapal. Itu membuat NIS
melakukan penyelidikan yang panjang dan melelahkan, dan hasilnya adalah
bukti-bukti yang rapuh.
Tepstein ternyata tak bisa menghadiri pemeriksaan kasus Gaskin karena masuk
Rumah Sakit Angkatan Laut, Long Beach, untuk pengobatan psikiatris. Soalnya,
ketika dua perwira AL tiba untuk membawa Tepstein ke ruang pemeriksaan, ia
berteriak histeris dan berjanji tidak akan menginjak Norton Sound lagi.
Perwira AL mengatasi absennya Tepstein dengan mengirim pernyataan tertulis
Tepstein.
Fakta yang menguntungkan Gaskin datang dari pacarnya. Sang pacar, pria,
ditanya apakah Gaskin orang yang bisa melakukan hubungan seks dengan baik.
''Bisa,'' jawabnya. Gaskin pun bebas.
''Orang-orang mengira hanya ada dua jenis wanita di AL,'' kata Gaskin seusai
mendengar putusan. ''Kau harus melayani para pria, jadi kau wanita sundal.
Atau, kalau kau tak mau, kau adalah lesbian. Mereka hanya merusak nama baik
saya, merusak hidup saya. Saya marah, menangis, dan tertawa karenanya. Tetapi
ini jelas bukan lelucon.''
18 AGUSTUS 1980, NORTON SOUND, LONG BEACH
Alica Haris diminta berdiri ketika dewan administratif membacakan putusan.
''Dewan menemukan tersangka telah melakukan kegiatan homoseksual di atas
kapal. Direkomendasikan untuk diberhentikan dengan hormat dalam kondisi
terhormat.''
Beberapa jam kemudian, pemeriksaan atas Wendi Williams dimulai. Pemeriksaan
atas Williams tak berbeda dengan yang dilakukan pada Haris. Rekan mereka,
Yvonne Nedrick, mengatakan melihat keduanya berciuman. Lewat pemeriksaan
silang, Nedrick mengakui pernah beberapa kali berkelahi dengan Williams.
Nedrick juga mengatakan akan membunuh Williams, tapi ia tak pernah berbohong
tentang Williams. Jadi, kesaksian Nedrick pasti benar. Saksi lain, Helen
Wilson, mengatakan melihat Williams dan Haris berduaan di tempat tidur.
''Keduanya berpakaian lengkap,'' katanya, ''tapi kelihatan sangat seksi.''
Selama pemeriksaan, Williams duduk menggambar boneka Donald Duck yang ia
letakkan di depannya. Ia tahu akan diputuskan bersalah karena, sama seperti
halnya Haris, kekurangan faktor yang menyelamatkan Gaskin, yaitu pacar pria
yang memberi pandangan positif mengenai perilaku seksual mereka.
''Saya berharap, jika dewan ingin memecatku, saya dipecat atas kebodohan,
bukan atas tindakan yang tidak senonoh,'' kata Williams lembut kepada dewan.
''Tugas saya di AL bagus. Jadi, saya pasti sangat dungu, negro yang paling
dungu di AL, jika mengakui tindakan tidak senonoh dalam ruangan berisi 60
orang.''
Williams, menurut dewan, bersalah melakukan ''satu atau lebih kegiatan
homoseksual'' dan diperintahkan agar dipecat dengan ''pemecatan umum dalam
kondisi yang terhormat''.
AL sudah punya dua bukti. Kini mereka bisa menggiring semuanya.
Tapi di hari berikutnya Letnan Kolonel Seebirt mengatakan kepada Brock bahwa
tuduhan yang ditunda atas beberapa wanita lain sudah dibatalkan karena
''bukti-bukti yang tidak cukup''. Brock keluar dari AL tahun 1980. Kini ia
tinggal California Utara.
SEPTEMBER 1982, USS ENTERPRISE, SOUTH PACIFIC
Tugas yang paling mudah dirembesi homoseksual adalah AL, karena tingkat
homoerotisme tampaknya sangat dipengaruhi langsung oleh hidup di laut terpisah
dari wanita. Selama tahun 1980 AL memecat lebih banyak orang karena tindakan
homoseksual dibandingkan dengan angkatan lainnya. Tentu saja Kelly Kittel
tidak tahu soal itu ketika tahun 1978 ia masuk AL pada usia 17 tahun.
Tiga tahun setelah mendaftar, Kittel sudah jadi bagian dari gay di kapal
Enterprise. Enterprise dikenal dengan sebutan ''Big E'' atau yang membuat para
pelaut menganggapnya sebagai ''Easy Girls''. Kittel tidak pernah membayangkan
bahwa ada komunitas gay terbuka di AL, tapi ia memang menemukan gay di semua
seksi, khususnya dalam departemen medis tempat ia bekerja. Kittel pun belajar
menggunakan kata family untuk mencerminkan komunitas mereka.
Pada tingkat teratas family terdapat ''ibu,'' yaitu para pelaut senior yang
memberi petunjuk dan peringatan kepada pelaut muda. Lama-lama Kittel memang
merasa sebagai bagian dari keluarga besar, dan menerbitkan buletin The Family
Gram.
Enterprise adalah kapal yang mempunyai komunitas gay terbesar dan paling
terorganisasi. Pada tahun 1980-an kaum gay selalu memberi julukan pada kapal
mereka. Kapal The John F. Kennedy dijuluki ''Jackie O'', The Eisenhower
disebut ''Mamie'', sedangkan The America dinamai ''Miss America''.
Komunitas juga punya lembaga sendiri. The America, misalnya, melangsungkan
kontes mahkota Miss Amerika yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Kaum gay di atas
kapal The Forrestal sejak tahun 1976 sudah menikmati disko di gudang yang
jarang dilewati pelaut lain. Dalam perjalanan ke Pasifik Barat, secara
sembunyi-sembunyi kaum gay di The Eisenhower menerbitkan buletin bernama
Mamie's Pages, disebarkan di tiap pelabuhan. Sampai akhir pelayaran Pasifik
Barat, diperkirakan sekitar 1.500 eksemplar Mamie's Pages disebar di setiap
pelabuhan yang dirapati.
Beberapa pelaut di Enterprise bercanda bahwa para petinggi pasti sudah buta
dan tidak melihat budaya gay di kapal, tetapi belakangan ternyata para
petinggi tidak terlalu buta dan segera mengambil tindakan keras.
Di AL, para gay ditendang ke luar dari pekerjaan. AL juga mengirim mata-mata
untuk memonitor semua awak kapal. Kelly Kittel, kelasi muda yang menyaksikan
itu semua, semula berniat menulis surat kepada kapten untuk meminta agar kaum
gay juga diakui sebagai anggota bernilai yang memberi sumbangan dalam AL.
Perwira hukum bersikap keras ketika bertemu dengan Kittel. Kalimat pertama
yang diingat Kittel dari perwira itu adalah: ''Kau dalam kesulitan besar.''
Kemudian, disebut-sebut penjara militer di Fort Leavenwoorth. Tentu saja semua
akan lebih mudah bagi Kittel jika ia memberi nama-nama orang homoseks lain. Ia
menolak. Belakangan, Kittel dibawa terbang dari Enterprise dengan sebuah jet
dan dipecat.
NIS rupanya punya informan yang dipasang di family, bahkan para informan
pernah melakukan hubungan seks dengan para gay. Itu yang membuat para perwira
tahu Kittel menerbitkan buletin Family Gram. Tak lama setelah kepergian
Kittel, informan juga meninggalkan kapal. Ketika agen NIS mulai memanggil para
pelaut untuk disediliki, mereka bilang Kittel sudah menceritakan semua tentang
mereka dan akan lebih mudah untuk mengakui perbuatan homoseksual mereka.
Banyak yang kemudian mengaku begitu saja karenanya.
MARET 1982, SAN FRANCISCO
Seorang sersan datang ke Pusat Kesehatan Angkatan Darat dan mengeluh tak kuat
naik tangga di apartemen. Dokter yang memeriksa menduga ia menderita
pneumocytis carinii, suatu pneumonia yang menyerang penderita AIDS. Dokter
bertanya apakah sersan itu gay atau bukan. Sersan itu segera menolak.
Pemeriksaan berikut membuktikan sersan tersebut memang mengidap pneumocytis
carinii. Ketika akan menempatkan alat pernapasan, sersan tersebut menarik baju
dokter dan mengaku, ''Saya gay.'' Tiga bulan kemudian ia meninggal. Kasus AIDS
pertama di militer yang terungkapkan.
Dokter itu segera mengirimkan laporan ke jurnal pengobatan militer agar
dokter militer bisa mengenal gejala tersebut. Redaksi jurnal menjawab, ''Ini
tidak ada hubungannya dengan praktek pengobatan di lingkungan militer Amerika
Serikat.''
Banyak tentara, seperti rakyat biasa, menolak mengakui secara terbuka
penyakit yang misterius itu. Seorang kolonel angkatan darat pernah mengatakan
kepada seorang kapten di Fort Benning, ''AIDS bukan persoalan bagi kami. Tak
ada seorang gay pun di infanteri.'' Padahal, kapten yang diajak bicara kolonel
itu adalah gay.
25 JUNI 1985, SAN DIEGO
Pagi ini, Byron Garry Kinney merasa sangat lelah. Baju seragam AL tampak
jatuh dari tubuhnya, tidak lagi mengikat ketat tubuhnya. Dokter mengatakan
umurnya tinggal empat bulan lagi, paling lama sepuluh bulan. Tapi,
bagaimanapun dekatnya ia dengan kematian, AL tampaknya tetap ingin menghukum
Kinney karena ia gay. Itu sebabnya ia hadir di Ruang Sidang 3, Pangkalan AL.
Dewan administratif ingin mengeluarkannya dari AL.
Hal itu mencerminkan sikap angkatan bersenjata yang tegas untuk mengatasi
jumlah penderita AIDS yang bertambah terus. Saat itu dua juta tentara
dipanggil untuk diperiksa. Jika tentara terbukti mengidap kanker atau jantung,
ia mendapat pengobatan medis, uang pensiun, dan diberi hak untuk terus
menggunakan fasilitas kesehatan militer.
Tapi penderita AIDS tidak diperlakukan seperti penderita penyakit lain. Walau
ada suara-suara yang mencoba membangkitkan belas kasihan, beberapa perwira
tinggi tidak mau mendengarnya. Dan Kinney berdiri putus asa di depan sidang.
Ia mencoba melawan pemecatannya agar orang-orang lain tidak harus menderita
seperti dirinya.
Memang hukuman bagi gay penderita AIDS lebih berat daripada gay yang tidak
menderita AIDS. Bulan Maret, Bernard (Bud) Broyhill di tempat tugasnya di
Puerto Rico didiagnosa dengan sarkoma kaposi. Dokter bilang sangat penting
mengetahui apakah Broyhill pernah terlibat dalam kegiatan homoseksual atau
tidak. Ia tak menjawab. Setelah dokter menjamin jawabannya akan dirahasiakan,
baru Broyhill mengakui bahwa ia gay. Beberapa hari kemudian Broyhill dipecat
dengan tuduhan melakukan sodomi dan perbuatan homoseksual.
Byron Kinney, korban AIDS pertama di militer, sebenarnya punya pendukung.
Kapten dan letnan komodor yang membentuk tim medis pada bulan Desember untuk
Kinney sebenarnya ingin Kinney bisa memenuhi syarat untuk mendapat pensiun
akibat kesehatan tak mengizinkannya terus bertugas. Mereka juga
mempertimbangkan agar Kinney berhak mendapat pengobatan lanjutan dari AL
walaupun sudah tidak bertugas lagi.
Namun, gagasan itu ditentang Laksamana Muda David L. Harlow dari Komando
Personel AL. Ia mendesak Kinney dipecat karena perilaku homoseksual. Bukan
hanya karena Kinney seorang gay, tapi juga karena melakukan pelanggaran dalam
menjawab daftar pertanyaan ketika mendaftar di AL. Pertanyaan nomor 35 F
berbunyi, ''Apakah Anda pernah melakukan kegiatan homoseksual?'' Harlow ingin
Kinney diberhentikan tanpa embel- embel, bukan diberhentikan dengan hormat.
Juru bicara AL, Letnan Stephen Pietropaoli, mengatakan, ''Homoseksual tidak
cocok untuk kehidupan militer. Sudah merupakan kebijaksanaan bahwa homoseks
harus diberhentikan dari AL.'' Tidak ada hukuman bagi penderita AIDS. Hukuman
hanya bagi homoseks.
Kinney hanya bisa berdiri beberapa kali saat pemeriksaan. Ia lebih banyak
duduk di tandu ketika para ahli hukum berargumentasi di depannya tentang
nasibnya. Dalam argumen pembukaan, Letnan Nels Kelstrom yang mewakili AL
mengatakan ia tidak akan menghadirkan saksi karena sudah tidak diperlukan
lagi.
Pembela Kinney, Ted Bumer, membawa seorang ahli AIDS dari San Diego untuk
membuktikan berapa lama lagi Kinney bertahan hidup. Bumer ingin menunjukkan
kepada AL bahwa lembaga ini hanya akan kehilangan sedikit sekali dalam soal
disiplin maupun moral jika membiarkan Kinney memperoleh pengobatan medis. Tapi
para perwira hukum AL yang berkuasa di AL menolaknya.
Di akhir pembelaan, Bumer menjelaskan kepada dewan agar mempertimbangkan
pengaruh dari pemecatan Kinney terhadap kemampuan militer dalam mengatasi
AIDS. Para pelaut akan ketakutan untuk mengakui kepada dokter apa yang mereka
hadapi. Tapi AL berkeras bahwa soalnya bukan AIDS, melainkan homoseksual dan
pelanggaran pengisian formulir pendaftaran. Dewan, akhirnya, memecat Kinney,
satu tingkat di bawah pemberhentian dengan hormat.
Tanggal 21 Oktober Byron Kinney mati, sedangkan Bernard Broyhill meninggal
bulan November.
Baru bulan November 1985 departemen pertahanan menerima kebijaksanaan yang
menjamin kerahasiaan dan perlakuan yang sama terhadap tentara yang menderita
AIDS. Salah satu alasannya: banyak perwira tinggi yang dites ternyata positif
mengandung virus HIV, sehingga Pentagon takut akan kata pepatah: menepuk air
di dulang, tepercik muka sendiri jua.
NOVEMBER 1990, MINNEAPOLIS Greg Teran tak pernah memikirkan soal diskriminasi
yang diderita oleh kaum homoseks sampai ia harus menjawab pertanyaan ketika
masuk program ROTC di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Pertanyaan
apakah ia gay membuat Teran marah. Ia yakin bahwa ia heteroseks, tapi
pertanyaan itu mengganggunya karena itu akan membuat gay ditendang dari ROTC.
Itu, bagi Teran, salah.
Kontroversi soal gay berkembang di pers dan kampus MIT pada awal 1990-an. Dan
segera semua universitas berdebat untuk menentukan apakah akan menolak ROTC
dari kampus atau tidak. Pada tahun 1990 banyak kampus yang membuat peraturan
melarang siswa terlibat dengan organisasi yang melakukan diskriminasi atas
seks. Militer tak mau tahu. ROTC memberhentikan kadet gay yang semakin banyak
jumlahnya, dan mereka diwajibkan membayar kembali semua biaya untuk program
yang telah mereka terima.
Itu menjadi ancaman serius bagi ROTC di kampus-kampus Amerika. Penentang ROTC
di MIT mengumpulkan 2.000 tanda tangan untuk mengusir militer karena
kebijaksanaan antigay-nya.
Bulan Oktober, Teran menghadiri konferensi nasional di Universitas Minnesota.
Ia bergabung dengan 150 siswa dan aktivis gay untuk mencabut ROTC dari kampus
sampai departemen pertahanan mengubah kebijaksanaan antigay. Teran
mencerminkan kelompok anak muda heteroseks yang sadar bahwa ada sesuatu yang
salah di kalangan masyarakat dalam memperlakukan gay. Dan mereka harus
mengubahnya. Mereka yakin gay tidak harus dibiarkan berjuang sendiri agar bisa
diterima masyarakat.
Bulan April 1991, lebih dari 1.200 kampus berpartisipasi dalam Hari Nasional
Aksi Melawan ROTC. Walaupun beberapa kampus segara menghapus program ROTC,
ancaman atas ROTC cukup berat sehingga senator Partai Republik dari New York,
Gerald B.H. Solomon, minta Kongres menghapus dana federal bagi kampus- kampus
yang menolak ROTC.
Pada akhir konferensi, para peserta berbaris di gedung ROTC Universitas
Minnesota. Di dekat mereka, para kadet ROTC memperhatikan mereka dengan marah.
Apa yang terjadi dengan beasiswa mereka jika ROTC dicabut? Kenapa mereka harus
menderita untuk suatu kebijaksanaan, padahal mereka tak ikut bertanggung
jawab?
Ketika para kadet ROTC ditanya bagaimana perasaan mereka jika harus bertugas
dengan gay, para kadet terbagi dua: antara yang bersikap keras dan yang mau
menerima gay. ''Aku tidak ingin mereka memelototi aku ketika aku mandi,'' kata
seorang kadet berumur 20 tahun. ''Ini bukan seperti pekerjaan biasa. Di
militer kau hidup di tempat kau bekerja.''
Beberapa kadet yakin bahwa peraturan antigay akan berubah walaupun mereka tak
suka pada perubahan itu. Sekali di militer, kata mereka, mereka harus
mengikuti perintah. Dan jika ada kebijaksanaan baru dalam soal gay, mereka
akan menaatinya. Tapi tidak ada yang benar-benar mendukung perubahan
kebijaksanaan.
Ini menunjukkan harapan reformasi di kalangan perwira militer di generasi
mendatang masih sangat susah. Aktivis seperti Teran adalah pengecualian, dan
sialnya dia tidak termasuk dalam jajaran pengambil keputusan. Banyak dari kaum
heteroseks yang menentang homoseksual karena tak suka melihat gay. Jadi, bukan
karena mereka ketakutan bahwa homoseksual sebagai norma yang bisa diterima
masyarakat akan berpengaruh pada struktur masyarakat maskulin. Gagasan
maskulin masih merupakan budaya yang kuat di Amerika Serikat dan tak mudah
dipengaruhi oleh pergerakan kaum gay dan lesbian.
Tampaknya, perdebatan di Universitas Minnesota, atau bahkan keputusan
presiden membiarkan kaum homoseks bertugas di militer, bukanlah tanda dari
akhir perjuangan gay dan lesbian. Itu baru sebuah awal.
BSU dan LPS


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data